Hari ini bebas belajar. Acara untuk pergantian osis sedang berlangsung. Aku mendapat tugas sebagai dokumenter. Tak susah, hanya membidikkan kamera pada hal yang penting. Tapi entah kenapa beberapa kali tanganku malah fokus memotret Regan yang sedang duduk dibangku paling depan. Dia bukan anggota osis, hanya ikut meramaikan.
Sebnarnya ini masih pengenalan dan juga debat singkat pada kandidat . Tiga hari lagi baru serah terima jabatan secara resmi setelah diputuskan siapa yang layak.
"Dania, jangan lupa vidioin saat setiap kandidat berorasi." Kata Ronal mengingatkan. Menyadarkanku dari mengagumi wajah sang doi . "Jangan motoin yang nggk penting." Lanjutnya lagi. Dan jangan lupakan tatapannya yang tajam , dan didukung suaranya yang tegas.
" Siap." Kataku mantap. Sebenarnya malu, mungkin dia tahu apa aja yang aku jepret pake kamera skolah ini.
Secepat kilat aku menghidar. Dan fokus menunaikan tugas dengan baik.
Hari sudah semakin siang . Acara sudah kelar sepuluh menit yang lalu. Aku berjalan ketaman belakang untuk menikmati bekal makan siang denang damai. Meskipun hari ini Rosa menawarkan traktiran, tapi aku menolak. Ingin sendiri.
Aku duduk dibangku panjang yang memang sudah tersedia sejak lama. Di kejauhan aku melihat seorang yang berbaring diatas rumput, menatap langit yang berawan.
"Itu bukannya Regan?" gumamku.
Ah, jangan kan melihat orangnya yang telentang begitu. Melihat siluetnya aja aku paham bagaimana dia.
Mengagumi dalam diam. Meskipun tak pernah menyuarakan perasaan, tapi aku tak pernah ketinggalan informasi tentangnya.
"Samperin... nggak... samperin.... nggak..." Bimbangku. maju mundur dengan ragu.
"Ah, samperin ah. Mumpung sepi." Putusku akhirnya.
"Tapi nanti kalo marah gimana?" Aku berhenti setelah berjalan beberapa langkah. Mundur kembali. Membuang nafas kasar dan duduk kembali ditempat semula.
Aku melihatnya dikejauhan. Aku berdiri lagi, melangkah , lalu kembali lagi.
"Kamu ngapain sih?" teguran itu membuatku mematung sejenak. Membelakangi pemilik suara yang sudah aku hafal.
"Mondar mandir kayak orang gila." Sambungnya lagi yang membuatku membalikkan badan.
Regan sudah duduk ditempatnya, lalu berjalan mendekat. Membuat jantungku bertalu hebat. Perlahan aku beringsut duduk dibangku semula. Menunduk, tak mampu menatapnya yang melangkah mendekat.
"Kenapa?" Tanyanya yang kini sudah duduk disampingku. "Ada masalah?" lanjutnya yang melihatku masih diam membisu.
Lidahku membisu, tapi hatiku kegirangan tak karuan, jantungku berpacu cepat bekejaran dengan sesuatu entah apa, sedangkan otaku berisik sekali menyuarakan banyak hal, mengungkapkan semua yang tersimpan tapi tak tersampaikan.
"Kamu kenapa sih? Sekarang berubah jadi pendiam banget. " Ucapnya yang masih mendapatiku terdiam. Menatap kejauhan.
"Dari dulu emang nggak pernah cerewet sih, tapi kan masih ada suaranya. Sekarang kenapa jadi mahal banget tu suara?" Sindirnya dan kembali menatapku.
Aku ikut menatapnya dalam sekejap. Hanya dalam sekejap. Itu pun sudah membuatku susah mengendalikan perasaan yang membuncah.
"Ini belum dimakan? " Meraih bekal yang dari tadi ditanganku.
"Cuma satu?" Tanyanya lagi, dengan nada suara yang sangat aku rindukan.
Aku mengangguk samar. Yah, dulu aku sering membawa bekal dua. Satu untukku dan satu untuknya.
Setahun lalu.
Aku dipanggil guru MTK untuk diminta kesediaannya mengikuti lomba di kota profinsi. Meskipun aku merasa tak pantas, tapi aku menerimanya.
Kapan lagi aku memiliki kesempatan untuk mengadu kemampuan ilmu pasti itu? Aku yang hanya orang biasa terpilih menjadi wakil sekolah. Tak terkira bahagianya.
Rosa sangat mensuportku. Emak pun tak pernah membantah saat aku sibuk belajar. Mengosongkan jadwalku untuk bantu-bantu pekerjaannya. Bahagia sekali hari-hari tanpa ocehan emak.
Dan yang paling membahagiakan adalah sosok Regan yang turut serta dalam lomba. Sosok ramah dan rupawan itu begitu baik hati padaku. Mungkin memang hanya kami utusan dari sekolah ini, makanya baik. Regan akan lomba Astronomi.
"Hai, ketemu lagi kita." Sapanya saat kami menghadap guru untuk menentukan jadwal bimbingan. Yang pasti setelah keluar dari ruang guru kan?
"Hi." Balasku tak minat. Bukan. Bukan karna tak tertarik dengan wajah tampan dan suara lembut itu. Hanya saja badan sedang tak sehat. Bahkan hari ini aku naik angkot karna tak diizinkan naik motor sama emak.
"Kalo nggak sehat izin aja, Nia. Nggak usah dipaksain untuk sekolah. Lagian kalo kepala pusing emang bisa belajar. Malah bikin repot orang nanti. Istirahat, biar cepat sehat, cepet bisa belajar lagi biar menang lomba." Nasehat emak pagi tadi. Tapi aku tetap ngotot berangkat.
"Kamu sakit? Mukamu pucat." Tanyanya memperhatikan wajahku. Kami jalan beriringan dikoridor yang mulai sepi. Hanya ada beberapa anak yang masih tinggal untuk kegiatan ekskul.
"Pusing dikit. Tapi nggk papa." Jawabku dengan menampilkan senyum terbaik.
Berjalan beriringan dengan orang tampan buat jantung nggk bisa tenang. Namun berusaha kuat untuk bersikap normal. Tanpa cari perhatian.
Percakapan masih berlanjut seputar pelajaran. Regan begitu semangat membahas apa aja yang dia pahami tentang ilmu bintang yang sepertinya memang dia sukai. Meskipun aku tahu dia pandai dalam bidang apapun. Bahkan dia ketua ekskul seni yang ada disekolah.
Regan mendominasi obrolan.
"Bawa motor sendiri?" Tanyanya saat sudah sampai parkiran.
"Nggak. " Jawabku singkat sambil menggeleng.
"Ya udah, bareng aku aja." Dia masih berjalan menuju mobil silver yang terparkir dijalan.
Aku mematung ,ragu untuk mendekat.
"Masuklah." Perintahnya sambil membukakan pintu belakang.
Aku masih diam dengan raut bingung sekaligus tak percaya. 'Ternyata dia sebaik ini?'' Batinku.
"Ku pikir orang kaya itu sombong. Ternyara Regan pengecualiannya. Dia beda." Pujiku yang hanya bisa kusuarakan di hati.
"Masuklah. Mukamu masih pucat tu. Nanti kalo ada apa-apa di jalan bagaimana?" ucapnya sambil melangkah mendekatiku, menarikku pelan dan memaksaku masuk mobil.
"Geser." Perintahnya lagi yang langsung masuk dari pintu yang sama. Aku hanya patuh saat digeser paksa.
"Jalan pak." Perintahnya pada sopir yang sedari tadi hanya diam memperhatikan.
"Baik den." Jawabnya dengan anggukan kepala patuh.
"Bukannya biasanya kamu pake motor ya?" Tanyaku hati-hati.
Bukan menjadi rahasia umum lagi kalo Regan biasanya selalu kesekolah pake motor Ninja hitam yang aku tak paham jenis apa.
"Iya. Lagi pengen dijemput aja." Jawabnya sambil tertawa. Yang membuatku berfikir kalo itu bukan alasan sesungguhnya.
"Berar....."
"Pak.." Belum sempat si sopir menyelesaikan ucapannya sudah mendapat peringatan dengan tatapan tajam dari Regan.
"Maaf den." Patuhnya dan kembali fokus pada kemudi.
"Kenapa?" Tanyaku curiga.
"Nggak papa. " Jawabnya dengan senyuman khasnya.
Melihat itu aku menjadi sedikit curiga. Tapi aku bisa apa? Aku tak punya hak untuk mengintrogasi lebih lanjut bukan? Jika Regan memang ingin merahasiakan sesuatu, aku tak punya hak untuk ingin tahu.
"Kamu dari dulu udah sering ikut lomba bukan?" Tanyaku mengalihkan topik pembaasan.
"Lumayan." Jawabnya santai, sambil melihat jalanan dari jendela.
Mungkin mobil yang lewat lebih menarik untuk dipandang dari pada aku.
"Kamu?" Ucapnya balik tanya, tapi tak melihatku sama sekali. Kini fokusnya beralih pada benda pipih yang sedari tadi digenggamnya.
"Ini pertama kali. Semoga bukan yang terakhir kali." Harapku tulus.
Dia hanya tersenyum dan melihatku sekilas. Kemudian kembali fokus pada ponselnya.
"Kamu punya pacar?" Tanyanya mengalihkan topik lagi.
"apa? " Sungguh aku takut mendengarnya. Sebenarnya bukan takut mendengar pertanyaan itu. Hanya saja takut akan pemikiranku sendiri yang memaknai pertanyaan itu .Karena orang yang bertanya mempengaruhi jawabannya.