"Kenapa diam?" tanyanya lagi yang tak mendapatkan jawaban. Kini dia menatapku, memasukkan ke saku ponsel yang tadi digenggamnya.
Dilihat seperti itu membuat desiran aneh terasa dihatiku. Bagi diriku yang tak pernah diperhatikan lawan jenis, bahkan Ayah sudah pergi sejak aku masih kecil. Mendapat perhatian kecil aja sudah membuat hati melayang. Apa lagi diperhatikan orang tampan.
"Hello..." Menggerakkan tangannya dihadapanku, menyadarkanku dari lamunan. "Pertanyaanku mengingatkanmu pada sesuatu kah?"
" Oh.... ma maaf." Jawabku tergagap. Menelan ludah berat.
"Maaf kenapa?"Tanyanya dengan diakhiri tawa kecil.
" Ntahlah." Aku bingung sendiri. Tak tahu kenapa aku minta maaf, tak tahu maaf untuk apa.
Aku memang bukan orang yang pandai berinteraksi dengan orang baru. Tapi, aku nggak merasa bodoh. Sedangkan apa yang terjadi kini? Dihadapan Regan aku bingung mau bicara apa. Padahal otak sudah berisik sekali menyusun jawaban yang tepat.
"Kok entah sih?" Ulangnya dengan senyum yang menambah ketampanannya. Menambah pesonanya berkali lipat. Dan membat hatiku makin tak baik-baik saja.
"Atau punya HTS? Aku bukan mau ikut campur urusan pribadimu. Hanya saja aku tak mau menjadi perusak hubungan orang. Takut ada yang marah aja kalo aku ngantar kamu begini." Jelasnya lagi.
" Aku mikir apa sih? " Protesku pada diri sendiri. Aku pikir jika aku tak punya pacar dia akan daftar jadi kandidatnya... ups. Bolehkn sesekali aku kepedean?
"Nggak kan?" Tanyanya lagi.
"Nggak kok." Jawabku yang mulai bisa menormalkan detak jantungku sendiri.
"Bagus deh."
"Aku nggk pernah pacaran."
"Oh ya? Serius?" Tanyanya tak percaya. ekspresinya lucu sekali. Yang membuatku tertawa kecil.
Lupakan sakit. Lupakan pusing kepala juga demam di badan. Berhadapan dengannya membuatku fresh kembali. Denyutan dan nyeri dikepala mendadak menghilang.
"Hmmm." Aku hanya menjawab dengan anggukan kecil. " Siapa sih yang mau pacaran sama cewek kayak aku?" Ucapku merendah. Tapi memang merasa tak percaya diri, bukan merendah untuk meroket.
"Emang kenapa dengan kamu?" Tanyanya dengan mengerutkan kening heran.
"Nggk kenapa kenapa sih. Tapi biasanya lelaki kan cari yang bening dan cantik."
"Kenapa kamu nggak pilih untuk tampil menarik?"
Ah, pertanyaan macam apa itu? Kalo emang dari sononya nggak menarik mau gimana lagi? harus oplas gitu biar cantik? hello.... untuk makan aja susah apa lagi untuk permak wajah.
"Cantik itu kan relatif. Nggk semua lelaki menyukai cewek berwajah cantik. Yang penting itu rapi ,baik, dan asik aja. Itu udah cukup menarik." Jelasnya.
Tolong katakan. Wanita mana yang nggak baper digituin? Aku hanya wanita yang minim perhatian. Mendapatkan perhatian kecil udah merasa diratukan.
Sepajang perjalanan banyak hal yang kami bahas. Dan semua hal yang tak penting. Aku baru tahu kalo ternyata Regan seasik itu. Dia bukan orang yang pilih-pilih teman bergaul. Dan tak merendahkan orang yang beda kasta dengannya.
Hingga aku turun didepan g**g. Karena susah kalo harus antar aku sampai rumah. Gangnya terlalu kecil untuk dilewati mobil. Tak ada tempat untuk putar balik.
Waktu terus berjalan. Tak peduli bagaimana kita menggunakannya, dia akan tetap berlalu. Menciptakan kenangan baru, juga memberikan harapan baru. sekarang aku punya teman belajar baru selain Rosa.
Hampir dua minggu setiap istirahat aku menghabiskan waktu diperpus bersama Regan. Setelah bimbingan juga pulang bareng. Disekolah aku lebih sering menghabiskan waktu dengannya.
Bukan menghabiskan waktu untuk bersenang-senang, bukan juga untuk merajut hubungan yang romantis. Karena kebersamaan kami tetap untuk belajar dan belajar.
"Hay." Sapaku saat menghampirinya diruang seni. Dia telah selesai latihan dengan grup bandnya.
"Hay juga. Nggak ke perpus?" Tanyanya saat melihatku datang.
Besok waktunya kami untuk lomba. Jujur, aku udah bosen banget belajar. Menghitung angka yang tak ada habisnya.
"Males." Jawabku semalas semangatku.
"Yaudah sini." Menarik kursi disampingnya untuk tempatku duduk.
"Aku duluan kekantin,bro." Izin tiga personel yang lain. Regan hanya melambaikan tangan.
"Ini." Ku sodorkan kotak bekal makan siang padanya. Sudah beberapa hari aku selalu membawa dua kotak nasi. Yang pasti setelah dia memuji makananku seminggu lalu , aku jadi smangat memberinya tiap hari.
Awalnya ku pikir orang kaya kayak dia gak sudi makan bekal sepertiku. Tapi disuatu kesempatan Regan tak malu mencicip makananku dan dia memuji masakan emak yang enak.
"Makasih." Jawabnya meraih kotak yang ku berikan. " Berasa punya pacar ya? diperhatiin mulu." Celetuknya yang membuatku mematung sesaat.
Apakah aku boleh geer?
"Masakan emakmu selalu enak tau." Pujinya setelah memakannya.
"Makasih. " Ah, Emak yang dipuji kenapa aku yang baper ya?
"Besok lomba, kok kamu malah latihan band?" Tanyaku mengalihkan pembahasan. Jadi salting ni kalo dilanjutin pembahasan tadi.
"Ya gak papa kan? "
"Ya nggakpapa. Ini kan bukan yang pertama buat kamuya? Pasti udah siap banget kan?"
"Bukan masalah siap atau nggak siap. Tapi kita juga perlu refresing kan? dan ini bisa sebagai pelepas stres." Jelasnya sambil menunjuk peralatan bandnya.
Regan memang spesial. Jarang orang yang suka seni sekaligus ilmu pasti. Regan mampu menguasai keduanya. Dia mahir dalam banyak hal. Meskipun dia tak terlalu suka olahraga seperti temnnya yang lain. Meskipun begitu badannya tetap tegap berisi, tak menampakkan orang yang tak hobi olah raga. Atau memang suka olah raga saat dirumah? tak tahulah.
"Begitukah?"
"Bener dong. Mau coba?" Berdiri untuk menawarkan mencoba alat musik.
"Nggak ah. Aku nggk bisa." Tolakku.
"Mau ku ajarin?" Dia sudah memegang salah satu gitar disana.
"Nggak usah. ngerepotin nanti." Tolakku tak enak hati. Meskipun sebenarnya emang tak tertarik sama sekali.
"Nggak dong." Kini berjalan dengan senyumannya yang menawan, mendekat padaku.
Oh Tuhan. Inikah yang namanya cinta? Bahagia sekali bisa menghabiskan waku berdua dengannya.
"Kamu aja yang main. Aku dengerin." Pintaku sambil melihatnya yang mulai memainkan gitar yang dipegangnya.
Dia nampak berfikir sejenak, kemudian mengangguk.
"Oke. Mau dinyanyikan lagu apa?"
"Terserah." Jawabku yang memang tak terlalu paham tentang musik dan lagu.
Aku bagai tersihir oleh pesonanya. Melihatnya seperti ini beribu lebih menarik untuk dilihat. Membuat hatiku jatuh lebih dalam pada pesonanya.
Dia mulai melantunkan lagu lawas.
Jangan tanya bagaimana esok?
Ku tak ingin menerka perasaan ini
Yang ku tahu
Saat ini ku mencintaimu
yang ku tahu, ku sangat menyayangimu
Bolehkah aku berfikir jika lagu ini menggambarkan hubungan kami? Aku hanya mendengarkan dengan senyum yang terus mengembang.
Dia menyanyi sambil melihatku. Aku jadi merasa sangat dicintai. Padahal tak pernah terucap kata cinta ataupun sayang diantara kami.
Tolong. Jangan terbangan harapanku terlalu tinggi, takut tak terkendali dan terputus hingga hilang tak punya haraan lagi.
☆☆☆
"Sudah siap?" Tanyanya saat akan berangkat untuk lomba diatar salah satu staf. Kami berangkat bersama menaiki mobil sekolah.
"Aku nervous tau." Kataku menggenggam tanganku yang terasa dingin.
"Santai aja. relax. Biar otak tetap bisa bekerja, jadi harus tetap tenang." Meraih tanganku dan menggenggamnya lalu mengusapnya pelan untuk menenangkan.
ah.. meleleh hati bang...
" Gimana?" Tanyanya. Aku hanya menjawab dengan senyuman.
Sungguh. Usahanya untuk menenangkanku tak berhasil sama sekli. Kini aku tambah nervous. Tapi bukan karna akan lomba, tapi karena genggaman tangan hangatnya.
Kami sudah memasuki mobil dari tadi. Sepanjang perjalanan tangannya tetap menggenggam jemariku. Tapi tak lagi ada pembahasa apapun. Regan asik memainkan ponsel ditangan satunya, sedangkan aku hanya melihat wajahnya sesekali.
Kami memasuki gedung besar yang ramai sekali. Aku hanya melangkah mengikuti Regan yang menyeretku kemana pun ia pergi.
Aku benar-benar merasa diperhatikan dengannya. Dijaga dengan baik olehnya.
Oh hati. Bolehkan aku berharap lebih?