Kembali pada masa kini.
"Ngelamun lagi." sentaknya dengan suara sedikit tinggi, yang mampu mengembalikanku dari lamunan masa lalu.
"maaf." Aku sedikit takut melihat Regan yang sekarang. Kenapa jadi kasar sekarang? Entahlah.
"Maaf lagi. " Suaranya udah berubah ketus sekali. Nampak kali tak suka. "Kamu lagi ada masalah apa sih? " Lanjutnya lagi.
"Nggak ada." Jawabku cepat, tanpa pikir panjang. Karna aku memang tak merasa punya masalah yang berat.
'Aku hanya rindu dengan Regan yang dulu. " Batinku. Bukan Regan yang nyebelin seperti sekarang ini.
Apakah aku salah merindukan Regan yang pernah aku kenal dulu? Padahal aku sangat tahu kenapa dia berubah seperti ini.
"Ck." Decaknya kesal. "Tak asik lo." Gumamnya pelan, tapi masih bisa ditangkap indra pendengaran.
Sungguh, hatiku sakit mendengarnya. Bahkan dia sudah berdiri siap pergi meninggalkanku, tapi tak jadi.
"Tumben kamu disini sendirian?" Tanyaku mengalihkan topik.
Karna setahu aku Regan sering dengan gengnya. Dia hanya akan menyendiri saat mempersiapkan sesuatu yang penting, yang tak melibatkan sekawannya. Seperti saat bersamaku dulu.
"Suka suka aku lah."
Sungguh. Jawabannya jauh dari kata enak didengar. Tapi aku tak bisa marah dan protes atas sikap dia. Karna hanya denganku dia seketus itu. Dengan yang lain dia masih ramah.
Aku tak tahu harus menyalahkan siapa.
"Kamu mau makan?" Tanyaku lagi, menunjukkan bekal yang masih utuh. Siapa tahu dia kangen masakan emak kan?
"Nggak." Jawabnya singkat dan padat, sama sekali tak melihatku. "Makanlah. Kamu juga belum makan kan?" Perintahnya , tapi pandangannya masih menatap di kejauhan.
"Tapi...." Belum sempat menyelesaikan ucapan sudah terpotong.
"Aku masih sanggup beli makan siang." Dinginnya, dan langsung berdiri meninggalkanku yang masih membeku ditempat. Kini dia benar-benar pergi tanpa menoleh ku lagi.
Ya Allah, kenapa dia jadi begini? Seandainya dia dingin ke semua orang, aku tak akan sesakit ini.
Mungkin bagi dia, kedekatan kita yang hanya hitungan hari itu tak ada apa-apanya. Tapi itu sangat bermakna untukku. Dia menjadi satu-satunya lelaki yang banyak bicara padaku setelah Alif.
Ah, Alif. Dimana dia sekarang? Teman masa kanak-kanak yang menyenangkan. Berteman tak memandang setatus, juga tak melibatkan perasaan.
Alif Adalah tetangga sekaligus teman bermain masa kecil, yang sudah pindah sejak aku masuk SD, dan dia masih TK. Hingga sekarang tak pernah lagi berjumpa.
Meskipun tak pernah lagi berjumpa, tapi kenangan tentangnya selalu indah untuk dikenang.
Sedangkan Regan? Dia adalah orang yang ku harap bisa menjadi masa depan.
Tapi apakah mungkin?
Sikapnya tak menunjukkan kalo dia peduli padaku. Sepertinya tak akan pernah ada peluang untuk bersandingan.
Tapi, bolehkah aku memohon pada Tuhan agar membuka kemunginan itu? Jangan jadikan kebersamaan kami suatu kemustahilan.
Tapi jika memang mimpiku tak jadi nyata juga tak apa. Cukup ku simpan segala kenangan tentangnya. Dia akan tetap memiliki tempat tersendiri dalam hati ini. Meskipun suatu hari mungkin akan ada pengganti.
Cinta pertama tak akan pernah mati, tapi bukan berarti tak bisa terganti. Itu kata orang yang pernah ku dengar.
"Nia.. " Panggil suara yang sangat aku hapal pemiliknya meskipun tak melihat sosoknya.
"Hai.. disini lo ternyata." Serunya setelah melihatku yang masih duduk dibangku panjang, menikmati makan siang yang terasa hambar. Bukan. Bukan masakan Emak yang bermasalah. Tapi memang moodku yang lagi bermasalah.
"Nggak usah teriak-teriak. " Sungutku malas.
Rosa, dia yang datang sendirian mencariku.
"Kok sendirian? Rani mana?" Tanyaku saat melihatnya duduk disampingku seorang diri.
"Dia udah pulang sama yayangnya, makanya aku cari kamu." Jawabnya dengan suara ngos-ngosan. habis berlari dia.
"Oh." Hanya itu reaksiku. Ah, namanya orang kalo sudah punya pacar jadi lupa sama teman. Tapi aku tak mempermasalahkan itu. Temannya juga punya hak untuk menikmati masa remajanya dengan bahagia. Tak harus seperti kisah cintaku yang jauh dari kata indah.
"Kamu kalo makan ya makan aja, tak perlu dihitung dulu tu nasi. Lama amat makan." Nyinyirnya yang melihat makananku masih banyak.
"Bukannya dihitung." Sangkalku.
"Terus?"
"Nasinya nggak mau mau dimakan." Jawabku asal, dengan bibir manyun.
"Haha." Dia hanya menanggapi dengan tawa. Tapi tidak lama.
"Emang kenapa? Patah hati?" Tebaknya.
"Patah hati kenapa? Aku tak punya alasan untuk patah hati." Jawabku pelan.
"Kamu kan emang gitu. Udah tahu hatinya sering dipatahin berkali-kali, masih juga menyimpan harapan padanya. Cinta boleh aja, tapi logika juga dipake. Katanya pintar? Masa mau dibodoh-bodohin ama yang namanya cinta?"
Dia ni beneran temanku bukan sih? Teman sedih bukannya dihibur malah dibodoh-bodohin. Tapi apa yang dia katakan ada benarnya juga. Tapi namanya orang sedang dimabuk cinta, tak menerima nasehat dari siapapun yang mengahalangi cintanya.
"Katanya cinta tak bisa dilogika?" Jawabku ingat dengan salah satu lagu. Hanya mencari pembelaan.
"Terus apa gunanya kita dikasih akal untuk melogika?"
"Au ah."
"sebesar apapun cintamu padanya, jangan sampai mengalahkan cintamu pada dirimu sendiri." Nasehatnya lagi.
Ini kenapa si Rosa mendadak pinter gini sih?
"Jomblo aja sok paham kali soal cinta." Cibirku.
"Bukan masalah paham atau nggk, Nia. Lagian memahami seuatu tak harus mengalami sendiri kok." Mulai nyolot dia.
Sebenarnya Nia juga tak jauh beda denganku. Katanya dia juga memiliki crush disekolah ini. Tapi dia pandai sekali menyimpan rahasianya. Bahkan aku sendiri tak tahu siapa orangnya.
"Terus." Sesekali mendengar ceramah bu Rosa yang banyak bicara tak apa lah ya?
"Bisa dipelajari lah. Contohnya kasus kamu ini." Semangat kali, sambil menunjukku.
"Lebih mudah mempelajari trigonometri dari pada urusan hati." Tanggapanku malas, menghabiskan makanan yang ku paksa untuk masuk mulut.
Segalau apapun hati, lambung tetap harus terisi. Karna badan tetap butuh nutrisi untuk melanjutkan hari. Cinta tak terbalas tak lantas membuat hidup harus berhenti bukan?
"Itu hanya berlaku untuk kamu. Tidak untukku." Jawabnya dengan tatapan sengitnya.
kami bersahabat bukan karna hobi kami sama. Nilai math dia standar, meskipun tak pernah merah. Dia lebih mencintai sastra.
Aku hanya tertawa menanggapi, menutup tempat nasi yang sudah habis. Aku tak ingin mendebat soal matematika atau sastra.
"Mau langsung pulang?" Tanyaya saat melihatku beberes.
Hari ini memang tak ada pelajaran. Tapi masih banyak juga yang masih tinggal disekolah untuk melaksanakan kegiatan masing-masing.
"Kamu mau langsung pulang?" tanyaku balik.
"Eh, Nia. Pertanyaan itu butuh jawaban, bukan pertanyaan lagi." Protesnya.
"Ya apa salahnya?" Jawabku santai, dan beranjak kembali kesekolah.
"Emang kalo aku lansung pulang kamu mau ikut?" Tanyanya masih dengan suara tak bersahabat.
Aku tak heran. Memang sikap dia seperti itulah. Tapi, dia adalah orang yang jujur apa adanya, dan menjadi orang pertama memasang badan jika ada yang mengganggu dan membulli ku. Dan moodnya memang mudah sekali berubah.
Sebagai orang yang berbeda kasta dengan yang lainnya, banyak sekali yang suka menjadikanku sasaran empuk pembullyan. Apa lagi saat aku sempat dekat dengan most wanted disekolah ini. Yaitu Regan.
"Aku masih mau ngerjain tugas. " Jawabku masih dengan nada tenang.
Hanya saat disekolah aku bisa fokus belajar dan mengerjakan tugas yang diberikan guru. Kalo udah dirumah, tak sempat memikirkan pelajaran. Baru masuk rumah udah banyak daftar pekerjaan yang disodorkan Emak.
"Ke perpus?" Tanyanya.
"Iya. Mau ikut?"
"Boleh lah. Mau cari inspirasi." Jawabnya dengan cengirannya.
Dia suka sekali menulis puisi. Bahkan dia punya akun khusus untuk menulis semua kata-kata puitisnya. Dan pengikutnya sudah banyak sekali.
Sedangkan aku? Aku tak punya smartphone canggih seperti yang lainnya. Aku hanya punya ponsel model lama yang sudah ada peringatan memory penuh saat menambah satu aplikasi baru.
☆☆☆