Setelah pelepasan dari segala organisasi yang ada, aku juga keluar dari ekskul yang aku ikuti. Beberapa bulan terakhir di SMA disibukkan dengan persiapan ujian akhir, juga persiapan masuk universitas.
hari-hari penuh kesibukan membuat waktu terasa cepat sekali berlalu. Tak ada lagi waktu untuk memikirkan cinta. Untuk saat ini kesampingkan dulu soal cinta, fokus untuk mengejar cita-cita.
Malam ini, masih sama seperti malam-malam kemaren. Sebelum mata terpejam selalu terbayang wajahnya yang tampan.
"Kamu apa kabar?" Lirihku bertanya pada orang yang tak ada.
Yah, siapa tahu angin malam bisa menyampikannya bukan? dan membawa kembali jawaban.
Di taman sekolah itu menjadi waktu terakhir aku berbicara dengannya. Bahkan beberapa hari terakhir aku tak melihatnya masuk kelas. Alasannya sama seperti biasanya. Lomba.
Bagi orang genius seperti dia, tak perlu pusing belajar dan menambah jam bimbel untuk persiapan ujian, dan tak perlu takut tak lulus seleksi masuk universitas impian.
Dalam kesendirian yang hening begini mengundang ingatan akan kenangan bersamanya dulu.
Flashback on
Ternyata doaku tak terkabul. Saat pengumuman pemenang lomba, namaku tetap tertera, juga mendapat piagam sebagai juara. Tapi, tidak dalam urutan pertama, harus puas sebagai juara ke tiga. Jadi aku tidak melanjutkan lomba ke kancah nasional.
Sedangkan Regan? Kalo dia jangan diragukan lagi kemampuannya. Nilainya hampir sempurna.
"Selamat ya." Ucap Rosa saat mengetahui hasil usahaku.
"Tapi nggak jadi yang pertama." Ada rasa ketidak puasan dalam ucapanku.
"gapapa ,Nia. Harus tetap bersyukur." Itu kata penghibur dari Rosa.
"Aku juga bersyukur kok." Kataku menimpali, meskipun ada sedikit rasa kecewa terpatri dihati.
Jika sudah tak ikut lomba, apakah aku masih punya kesempatan untuk bertemu Regan?
"Lagian itu udah cukup bagus, dari pada nggak dapat sama sekali. Yang penting dapat piagam."
"Hmm."
Seperti dugaanku, aku tak punya kesempatan untuk bertemu Regan. Beberapa kali aku datangi tempat yang biasa kami pilih untuk menghabiskan waktu istirahat untuk mendiskusikan pelajaran, tapi nihil. Aku tak menemukannya sama sekali.
Di kelas pun dia terlalu fokus dengan tap yang sering dibawanya, juga terlalu sibuk dengan teman-temannya. Aku tak punya keberanian untuk mendekat, apalagi banyak cewek-cewek cantik dan berkelas yang jelas secara terang-terangan mendekatinya. Bahkan Tiara juga sering ada didekatnya.
Bahkan masih teringat jelas dalam ingatan. Satu minggu sebelum aku pergi bersama Regan untuk berjuang membawa nama sekolah.
"Eh, lo cewek miskin nggk usah kecentilan ya." Suara tak bersahabat Tiara saat aku akan keluar dari kamar mandi. Namun pintu malah ditutup olehnya dan kedua temannya.
"Kecentilan?" Beo ku karna tak paham akan maksud ucapannya.
Emang selama ini aku centil pada siapa? Bahkan aku tak punya banyak sahabat disini. Tak pandai tebar pesona memang. Karena memang tak punya pesona yang bagus. Bingung sendiri.
"Biasa, namanya orang miskin nggak punya kaca. Nggak mungkin sadar siapa dia." Tambah Keyra yang selalu ada dimanapun Tiara pergi.
Otakku mendadak berkarat ini. Tak bisa menebak kemana arah pembicaraan mereka. Lagian mereka bertiga belum mengatakan apa duduk perkaranya sih. Bagaimana aku bisa tahu?
"Maksudnya?"
"Jangan sok bodoh loe." Sentak Keyra dengan mendorong kasar bahuku, yang membuatku mundur beberapa langkah.
"Denger baik-baik ya, gue akan menghabisi loe, jika masih gue lihat mepet-mepet sama Regan." Tambah Tiara pelan dengan penuh penekanan. Sorot matanya penuh ancaman.
"Orang udik kayak loe tak akan pantas jalan bareng sama dia." Ini suara Fanya.
"Aku dengan dia cuma belajar bareng, nggak lebih." Cicitku takut.
plak. Satu tamparan keras mendarat dipipiku,terasa panas sekali. "Berani jawab loe ya?" Geram Keyra marah. Matanya nyalang seakan siap menerkam.
"Jangan sok kecakepan loe. Regan tak akan tertarik sama cewek udik kayak loe. Dia memang baik kesemua orang, tapi jangan pernah loe manfaatin kebaikan dia." Peringat Tiara pelan namun penuh penekanan disetiap katanya.
Kiara lebih mampu menguasai emosinya dibanding Keyra dan Fanya. Padahal aku tahu, ketua gengnya adalah Tiara. Dan aku juga tahu, yang menyukai Regan juga Tiara.
Ini bukan pertama ada yang membully secara terang-terangan , tapi ini pertama kali aku diperlakukan kasar. Dan sayangnya disini aku sendirian, tak ada Rosa yang biasa membela.
"Iya." Setuju Fanya.
"Lebih baik loe jauh-jauh dari dia, dari pada membawa pengaruh buruk. Bahkan kehadiran loe disini udah merusak pemandangan. "
"Kalo udah tahu diri loe sampah, jangan mendekati berlian. Itu hanya akan menegaskan keburukn diri loe sendiri." Ejek Fanya kasar.
Sungguh, otakku tak bodoh untuk mengingat dan mencerna semua ucapannya. Meskipun aku tetap bukan orang yang pandai berbicara, dan akan selalu kalah dalam berbebat. Meskipun dalam otak sudah banyak sekali susunan kata bantahan dan sanggahan, tapi nyatanya lidah tak bisa menyampaikan. Aku hanya menyimpan baik-baik hal ini.
Aku hanya bisa terdiam. Biasanya orang hanya akan menyindir dan nyinyir tentang aku dan semua yang mereka anggap kurang dariku. Tapi kalo sudah berurusan dengan Tiara sang princess nya sekolah, tak akan hanya sekedar bullian verbal. Pasti lebih.
"Ini peringatan pertama dan terakhir." Tegasnya sambil berbalik dan berlalu.
"Dengar itu. Peringatan kami tak main-main." Tambah Keyra mendorong kasar sebelah bahuku yang membuat punggungku membentur dinding, lalu mereka pergi seakan tak terjadi apa-apa.
Mereka benar soal ancaman itu.Karena nyatanya aku tak sudi mengindahkannya, dan sebagai imbalan hariku tak tenang selama disekolah.
Membuatku terjatuh karna terpeleset, bahkan membuat bangkuku penuh oleh tinta yang membuat seragamku kotor semua, dan masih banyak lagi. Aku hanya bisa diam, dan menganggap semua tak pernah terjadi. Meskipun mereka sering mengerjaiku, namun kebersamaan bersama Regan mampu mengobati semuanya. Yang membuat mereka makin geram dan bertingkah.
Tapi kini?
Seminggu telah berlalu. Seperti dugaanku sebelumnya. Aku kini hanya bisa menatap dia dari kejauhan. Bahkan kini Tiara sering nempel dengan Regan. Aku cemburu, tapi tak punya hak untuk marah. Setelah tak punya alasan untuk belajar bersama, aku tak bisa mendekatinya.
"Memang Tiara lebih layak bersanding dengannya." Gumamku pelan saat melihat keduanya dari kejauhan.
Hingga suatu malam, saat aku menyusuri jalanan yang memang terbilang sepi.
Malam ini malan minggu. Seharusnya malam minggu menjadi malam yang menyenangkan buat remaja sepertiku bukan? Bukan karena mununggu ada yang apel, atau karna ada yang mengajak kencan. Tapi malam minggu malam yang santai karna besok libur.
Itu semua tak belaku pada hidupku. Meskipun malam minggu aku tetap sibuk, tak ada kata santai. Alhamdulillah hari ini Emak punya banyak sekali pesanan kue, dan aku bertugas mengantarkan hingga larut malam.
Jam di ponsel bututku menunjukkan angka 22.20. Dan aku masih dijalanan sepi karna untul mngantar pesanan.
Kenapa sepi? Karena disini daerah perkebunan yang luas, jarak antara rumah yang satu kerumah yang lainnya cukup jauh. Meskipun rumah penduduk sini cukup bagus dibanding rumah di komplekku yang padat dan sempit.
Dikeremangan lampu jalanan, aku melihat motor ambruk ditepi jalan. Aku menepikan motor untuk mendekat menyorot dengan lampu motor yang hidup segan mati tak mau, redup sekali.
"Motornya tak asing." Ujarku lalu memarkir motor. Memeriksa apa yang terjadi.
"Regan?" Gumamku mengenali motornya, meskipun belum nampak orangnya karna minimnya pencahayaan. Aku sudah berdoa dalam hati agar dugaanku salah. Aku berharap ini bukan Regan.
Disamping motor yang ambruk ke trotoar, pengemudinya nampaknya tak sadarkan diri. Tergeletak dengan helm yang masih terpasang, namun kakinya tertimpa motor besar yang tak mungkin sanggup aku untuk mendirikannya.
Aku menyalakan senter dari hp untuk mengenalinya. saat ku membuka helm yang menutupi kepalanya.
"Ya Allah." Gumamku lirih saat dugaanku ternyata benar. Ku sentuh kepalanya dan meletakkan dalan pangkuanku.
"Regan." Panggilku pelan sambil menepuk pipinya lembut. Tapi tak ada pergerakan juga jawaban.
Aku melihat kesekitar untuk mencari bantuan. Dan sialnya kenapa tak ada kendaraan lain lewat. Apakah ini sudah terlalu malam?
"Tolong." Teriakku parau karna menahan tangis. Tapi hanya sepi yang ada.
Persendianku terasa lemas melihat sang pujaan hati tak sadarkan diri. Dengan tangan gemetar aku mendial nomor Rosa untuk minta bantuan.