"Terima kasih sudah membawa anakku kerumah sakit." Ucap seorang wanita paruh baya yang ku tahu sebagai ibunya Regan. Namun kami belum berkenalan dengan resmi, jadi belum tahu namanya.
"Ya tante."
Aku menjawab dengan sesopan mungkin. Regan masih diruangan ditangani dokter. Kedua orang tuanya datang tak lama setelah kami datang. Meskipun aku maupun Rosa tak memberi tahu siapapun karena panik hingga tak kepikiran. Jadi tak tahu siapa yang ngabarin.
Tak lama setelah ku telpon Rosa langsung datang. Meskipun dia tetap ngomel karna aku tak memanggil ambulans aja yang bisa lebih cepat kerjanya.
Aku udah terlanjur panik, dan otak tak berjalan dengan baik. Aku hanya diam aja mendengarkan ocehannya yang tetap bergerak cepat menolong. Sambil ngomel juga tentang ketakutannya jika dimarah .
"Dan kalian pulng aja, Istirahat. Udah ada kami yang menunggu Regan. Doain semoga dia baik-baik saja. Bukannya tante ngusir, hanya saja udah malam ." Tambah mamanya Regan lembut, dan menyuruh kami pulang.
"Tapi kami...." Ucapanku terpotong oleh Rosa.
"Baiklah tante. Kalo gitu kami permisi dulu, Semoga Regan cepat membaik." Lalu berpamitan yang memaksaku ikutan apa yang dia lakukan. Lalu Rosa menarikku untuk menjauh dari sana.
Padahal aku masih ingin tinggal. Bukan untuk menunggu sampai pagi, tidak juga menunggu Regan siuman. Hanya ingin mendengar diaknosis dokter yang memeriksanya.
Aku melihat kebelakang. Ruangan ICU masih tertutup rapat. Aku membuang nafas kasar dan tetap melangkah dengan pelan mengikuti Rosa yang menarik tanganku.
"Udah lah percaya aja Regan nggak papa. Lagian udah malam ini. Aku nggak mau dimarah mama keluar malam-malam tanpa izin . Jadi tak bisa lama-lama." Ucap Rosa menengkan juga memberi alasan kenapa langsung pulang.
Memang Rosa langsung pergi setelah aku panggil dan tak sempat bilang apa-apa sama orang tuanya yang memang jarang punya waktu untuknya. Dia hanya bilang sama asisten rumah tangganya kalo ada keperluan bentar.
"Tapi aku khawatir." Ucapku pelan sambil kembali melihat kebelakang sebelum berbelok.
"Percaya saja sama dokter yang menangani, kalo dia bisa menangani Regan dengan baik. Lagian kehadiran kita disini tak bisa membantu apa-apa."
Aku tak bisa membantah. Selain emang sudah larut malam, aku juga tak punya alasan untuk tetap tinggal.
Didepan rumah sakit kami bertemu dengan teman-teman Regan. Bukan cuma teman yang sering bersamanya disekolah, tapi lebih banyak. Tak banyak yang aku kenal. Aku hanya tahu Rey, Ronal, Indra , dan Deka. Selain itu aku tak kenal.
"Mereka siapa?" Tanyaku saat sudah dekat dengan rombongan pemuda yang semua memakai jaket hitam itu. Jumlahnya kurang lebih lima belas orang.
"Teman Regan." Jawab Rosa datar. Rosa maupun aku tak berniat menyapa saat bertemu, begitupun dengan mereka.
"Kenapa? Banyak yang tak kau kenal ya?" Tanya Rosa saat melihatku masih memperhatikan rombongan itu.
"Kamu kenal?" Tanyaku melihat Rosa. "Aku cuma kenal empat orang yang dari sekolah kita aja." Lanjutku lagi.
"Aku tak kenal semuanya, yang aku tahu mereka itu satu geng motor. Regan tak sebaik yang kamu kira." Jelas Rosa.
"Geng motor?" Beoku tak percaya. " Emang mereka diluar nakal juga kah? disekolah baik banget lo."
"Udah nggak usah bahas mereka lagi lah. Cepetan pulang, aku udah ngantuk nih." Menarikku cepat untuk memasuki mobil.
"Makanya ngobrol biar nggk ngantuk." Jawabku karena masih penasaran. Masalahnya Rosa nyetir mobil sendiri, kan bahaya kalo sampai ngantuk.
"Ngobrol yang seru, bukan gibahin orang." Jawabnya dan mulai memundurkan mobil.
"Itu yang seru kok. Penasaran aku."
"Seru buat kamu, nggak buat aku." Jawabnya sambil menguap.
Malam memang sudah sangat larut. Jam menunjukkan angka dua belas lebih. Sebelumnya aku tak pernah begadang selarut ini. Mentok jam sebelas itu udah ngantuk berat. Tapi ini? Mataku masih terang benderang tak ada rasa kantuk sama sekali.
"Tapi kok kamu bisa tahu tentang dia?" Tanyaku penasaran.
"Udah menjadi rahasia umun, Nia. Kamu aja yang ketinggalan berita."
"Ah, Nggak percaya aku kalo udah menjadi rahasia umum. Aku tak pernah dengar."
Jujur aku memang tak pernah dengan gosip miring tentang Regan. Atau memang aku yang terlalu sibuk dengan duniaku sendiri hingga tak peduli gosip yang beredar.
"Terserah kamu lah mau percaya atau nggak."
"Iya deh. Terus kenapa ya kok Regan bisa sampai di jalan sepi itu tadi? Dia mau kemana?"
"Kamu tanya aku? Aku bukan asistennya ,Nia." Protes Rosa.
Ah, kenapa pula tanya Rosa. Mana mungkin dia tahu kan? Tapi otakku rasanya banyak sekali pertanyaan yang tak bisa terjawab, juga tak mungkin Rosa bisa jawab.
"Kalo memang mereka punya geng ,bukankah biasanya jarang pergi sendiri? Trus tadi teman yang lainnya kemana saat dia jatuh? Kok nggak ada yang datang?" Aku masih menggumamkan pertanyaan tentang Regan.
"Aku tak tahu Nia." Jawabnya yang masih bisa mendengar gumamanku.
"Kalo katanya sih jalan itu sering menjadi jalur balapan liar mereka." Imbuh Rosa lagi.
"Kok kamu tahu?"
"Aku punya kakak laki-laki, Nia. Lagian kamu ngapain jam segitu masih berkeliaran disana?" Malah gentian aku yang diintrogasi.
"Kamu bukan termasuk cewek yang suka keluyuran malam kan?" Tanyanya curiga. Udah mulai tak menguap lagi tu anak.
Memang kami dekat hanya saat disekolah. Dan tak tahu kegiatan masing-masing saat sudah diluar sekolah. Dia hanya tahu aku sibuk kerja dan kerja.
"Aku kebetulan aja disana."
"Kebetulan yang tak disengaja gitu?"
"iya."
"Kebetulan yang tepat."
"Iya." Setujuku.
"Tapi ngapain malam-malam disana?" Nadanya ngalah-ngalahi emak saat ngintrogasi. "Kamu kerja apa sih sebenarnya?"
"Ngantar pesanan kue. Kebetulan daerah situ yang pesan untuk acara mendoa katanya. Dan pesannya mendadak jadinya malam baru diantar." Kan memang acara untuk malam, dan aku antarnya belum telat kok.
"Mendoa apa? Kok antar kuenya sampai jam sepuluhan lebih? Jam segitu udah waktunya pulang." Masih tak menerima penjelasan.
Sebenarnya aku antar sampai rumah pemiliknya setengah sembilan, tapi disuruh mampir dulu, disuruh makan dulu. Jadilah lama.
"Pertanyaanmu detail banget sih,Sa? Kamu nggak percaya sama aku?"
"Kamu beneran jualan kue kan?" Meragukan aku dia.
"Mau jual apa lagi? mau jual diri?" Ternyata nggak dipercaya sama teman sendiri itu menyakitkan.
"Siapa tahu." Jawabnya enteng.
"Kamu nggak percaya sama aku,Sa?"
"Percaya aja lah biar cepat." Jawabnya malas dan menghentikan mobil yang ternyata sudah sampai depan rumahku.
"Makasih ya udah antar." Ucapku tulus saat mau turun dari mobil.
"Hm.."
"Oh ya ,Nia. Kok kamu antar aku kerumah? Terus motorku gimana?" Protesku saat aku mengingat motor yang tadi kutinggal dijalan.
"Udah dirumah kamu." Jawabnya santai sambil kembali melajukan mobilnya, tak berniat mampir. Udah malam.
Setelah mobil Rosa meninggalknku aku berlari kerumah untuk memastikan keberadaan motor peninggalan ayah. Jarak antara jalan besar dan rumahku kurang lebih dua ratus meter.
"Alhamdulillah." Kataku saat melihat motor butut yang ku punya sudah teparkir didepan rumah. Butut-butut gitu satu-satunya kendaraan yang ku miliki.
Aku heran dengan keadaan rumah. Aku berjalan mendekati rumah yang lampunya masih menyala semuanya, bahkan pintunya masih terbuka.
Saat masuk aku melihat Emak yang tertidur di sofa usang ruang tamu. Mungkin dia menungguku pulang hingga ketiduran.
"Mak..." Panggilku sambil menggoyang pelan tangan Emak. Jangan sampai Emak tidur disini sampai pagi.
Satu panggilan emak langsung membuka mata.
"Kamu udah pulang?" Tanyanya masih dengan suara parau dan mengucek mata pelan.
"Emak ngapain tidur disini?" Tanyaku pelan . Kasihan Emak jika tidur telat, padahal pagi harus bangun cepat untuk membuat kue untuk dititipkan diwarung, juga mulai ada yang pesan langsung kerumah.
"Ck. Ya nungguin kamu lah. Emak mana yang bisa tidur nyenyak kalo anak gadisnya sampai larut malam belum pulang?" Mulai mode ngomelnya, udah sadar sepenuhnya dia.
"Maaf mak."
"Disuruh antar pesana malam sekali aja langsung kebablasan. Kalo gitu emak nggak mau lagi nerima pesanan lebih dari biasanya kalo gitu."
"Lo kok gitu?" Padahal punya toko kue adalah mimpi Emak dari dulu. Jika membatasi pesanan gimana mau maju kan?
"Dari pada ngorbanin keselamatan kamu. Emak nggak mau."
"Mak, ini tadi karena ada kecelakaan mak, dan itu teman sekolah aku, jadi aku harus bantu." Jelasku.
"Emak tahu. Orang yang ngantar motor tadi juga menjelaskan kenapa kamu pulang telat."
"Emang siapa yang antar?" Tanyaku penasaran.
"Nggak tahu mak. Terus gimana keadaan teman kamu itu?" Segalak-galaknya Emak tetap punya rasa simpati dan empati.
"Belum tahu mak. "Jawabku lesu.
"Ya udah istirahat sana. Udah malam."