Hampir satu bulan Regan tak masuk sekolah. Dia dirawat intensif karena tulang kakinya yang patah.
Aku hanya punya kesempatan sekali untuk menjenguknya dengan tenang.Karena saat menjenguk kedua kalinya, aku bertemu dengan Ayahnya. Aku diusir secara kasar. Dia menuduhku membawa pengaruh buruk pada anak semata wayangnya, karena dia tahu aku yang membawanya kerumah sakit. Dia pikir aku juga salah satu teman geng motornya, yang membuat dia seperti ini.
Apakah aku diam saja dituduh seperti itu? Jawabannya, Iya. Aku hanya bisa diam, bukan karena tak ingin membela diri. Tapi, karena tak diberi kesempatan untuk membela diri.
"Maaf kan om ya ,nak. Dia hanya sedang pusing menghadapi Regan yang suka balapan liar. Berbagai nasehat, bahkan hukuman dan ancaman tak mempan. Tolong jangan dimasukkan hati ya. Doain aja moga Regan segera bisa pulang dan pulih." Itu nasehat tante Wati, ibunya Regan saat melihatku dimarah oleh suaminya. Tapi dia tak menahanku agar tetap tinggal. Dia juga mengusirku meskipun dengan cara halus. Dia tak bisa melawan suaminya.
Dan kini? aku hanya bisa berdoa setiap hari untuk kesembuhannya. Dan hariku rasanya kehilngan warna tanpa adanya dia disekolah yang sama.
Dan yang membuat hatiku patah adalah Tiara. Sebulan setelah Regan cuti, hanya tiara perempuan yang diizinkan memegang kursi rodanya. Ya, kaki Regan belum sembuh sempurna. Jadi selama masa pemulihan dia kesekolah dengan kursi bantu itu.
Flashback off
Mataku terpejam setelah mengenang kenangan kebersamaanku dengan Regan. Hingga kokok ayam membangunkanku dari mimpi lelapku. Tidurku cukup nyenyak malam ini.
"Cepat bangun , Nia.Bantuin Emak hitung kue ini." Perintah Emak berteriak dari dapur. Memksaku untuk bangkit meninggalkan kasur yang sudah tak empuk lagi. Tapi, itu tetap menjadi tempat faforitku untuk melepas lelah.
"Iya mak. Aku sholat dulu bentar." Jawabku dengan suara khas bangun tidur.
Ku lihat Emak sedang menggoreng donat, dan tunggu sebelahnya mengukus lapis yang memang butuh ketelatenan khusus.
Aku sebenarnya kasihan sama emak. Diusianya yang tak lagi muda, harus tetap bekerja demi menghidupiku. Emak sudah terbangun saat orang lain masih lelap dalam pelukan mimpi indah. Bahkan saat adzan subuh sudah menyelesaikan beberapa kuenya.
"Iya. Yang cepat. Tahu emaknya repot tu dibantu, bukan pura-pura tidur." Cerocosnya lagi dipagi buta.
Padahal pagi ini , saat adzan aku benar-benar baru bangun tidur. Tak seperti hari sebelumnya yang pura-pura tidur saat mendengar suara berisik mixer bunda yang sudah berbunyi sejak jam tiga pagi.
"Aku baru bangun mak. Siapa yang pura-pura tidur sih?" Protesku.
"Emang semalam begadang sampai nggak dengar suara emak?" Tanya emak yang tetap ku dengar dari kamar mandi.
Memang benar apa kata orang. Emak adalah orang yang paling tahu keadaan anaknya sebelum anaknya cerita. Tahu aja dia kalo aku telat bangun, pasti malamnya tidurnya larut.
"Maaf ,mak." Jawabku mengalah saat keluar kamar mandi. Mengalah aja. Dari pada emak nanya macam-macam.
Namanya hidup sederhana dirumah peninggalan bapak. Jadi kamar mandi cuma ada satu, yaitu dekat dengan dapur.
"Cepat." Perintahnya yang melihatku lewat hendak sholat subuh dikamar.
Emak memang perempuan hebat. Meskipun mulutnya bicara tanpa henti, tapi tangannya juga tak berhenti. Kompor dengan dua tungku menyala semua, masih juga sempat meracik bumbu untuk buat sarapan, bahkan cucian piring ikut juga dipegang. Meskipun begitu kue yang dimasak tak ada yang gosong. Warbiasah emang.
"Aku bantuin apa mak?" Tanyaku saat sudah ikut bergabung didapur.
"Ini dihitung yang akan dititip diwarung. Sama siapkan juga pesanan mbok Dar yang akan dikirim pagi ini." Perintahnya menunjuk kue yang tertumpuk dimeja.
Setiap pagi inilah pekerjaanku. Membantu menyiapkan jumlah pesanan orang, juga yang akan dititipkan diwarung. Dan beberapa pesanan yang tempatnya searah dengan sekolah akan aku antar seklian berangkat sekolah.
Dan masalahnya kue buatan emak bukan hanya satu macam saja jadi cukup membutuhkan waktu untuk memisahkan barang yang akan dititip ke tujuh warung langganan. Belum lagi pesanan untuk individu.
Setelah selesai dengan menu gorengan, kini emak lanjut mengadon untuk membuat brownis. Sedangkan dandang kukusan masih diatas tungku.
"Emak buat brownis, mak?" Tanyaku saat melihat emak memotong coklat batang, juga menyiapkan bahan-bahan adonan cake.
"Iya. Pesanan bu Retno untuk ulang tahun putranya." Jawabnya, masih dengan tangan yang aktif bekerja.
"Nanti buat juga untuk dirumah ya mak. Aku mau juga." Rengekku dengan muka manja, biar dituruti.
Kalo kue yang bijian kecil-kecil mungkin aku udah bosen makan. Tapi kalo cake biasanya emak hanya buat sesuai pesanan.
"Ya. Nanti mak buatkan, yang penting beneran dimakan. Nggak cuma menuhi kulkas aja."
"Ya untukku pake loyang kecil aja, mak." Karena klo nyisain cake dirumah pasti yang makan cuma aku, emak udah bosen hanya nyium aromanya. Jadi satu loyang kadang seminggu nggak habis. Itupun habis kalo ku bawa sebagai bekal, dan dimakan kedua temanku.
"Ya. Tapi nanti pulang sekolah bantuin mbk Yanti antar pesanan. Habis sekolah jangan keluyuran dulu." Belum berangkat aja udah diperingatin untuk cepat pulang.
Aku sering disuruh mengatar pesanan emak. Tapi hingga kini tak hapal nama-nama yang disebutkan, kecuali tujuh warung yang sudah menjadi langganan.
Sedangkan mbk Yanti? Dia adalah salah satu karyawan Emak. Tapi karna gajinya harian, jadi kerjanya juga sesuai jam kerja. Jam setengah delapan baru datang. Dan dia bekerja baru dua bulan terakhir ini, karena aku setelah sekolah banyak kegiatan, tak bisa langsung pulang bantuin emak.
"Kamu kalo sudah selesai cepetan mandi, keburu telat." Perintahnya menginterupsi.
Ternyata hari sudah mulai terang. Kegelapan malam sudah menghilang. Tapi udara masih dingin sisa hujan tadi malam.
Aku kini harus siap-siap untuk kesekolah. Cahaya terang sudah menerobos masuk celah-celah dinding papan yang beberapa tempat bolong. Rumah ini semi permanen, hanya bagian bawah yang terbuat dari bata merah. Sedangkn yang atas dari papan, dan triplek sebagai sekat dalam rumah.
"Mak, aku berangkat dulu ya." Pamitku sambil mencomot risol yang ada dimeja.
"Nggak sarapan dulu?" Tanyanya tanpa melihatku.
"Udah sarapan mak." Jawabku mengangkat gorengan yang tinggal separo.
"Emak masak nasi goreng tu." Jawabnya sambil menunjuk nasi yang masih diatas wajan dengan mulutnya .
Ah, sudah ada nasi goreng ternyata. Kapan pula emak masak ini?
"Sarapan nggak harus nasi mak. Nasinya untuk makan disekolah aja." Dengan cepat aku mengambil tempat untuk menyiapkan bekal.
Jangan harap emak akan menyiapkan bekal sekolah. Emak hanya bertugas masak, kalo aku mau bawa harus nyiapin ke tempat bekal sendiri.
"Terserah." Jawabnya sambil menyusun kotak kue yang akan ku antar pada pelanggan, yang tadi sudah ku isi sesuai jumlah langganan.
"Jangan lupa. Ini dibawa." Tambahnya lagi setelah siap.
"Oke. Aku berangkat, mak. Dahhh." Setiap berangkat aku hanya dadah, tak pernah cium tangan apalagi cium kening dan pipi. Sepagi ini emak sudah sibuk ngalah-ngalahi pemimpin rakyat. Jadi tak ada kebiasan pamitan ala orang kaya.
Aku berjalan dengan riang. Kunci bahagiaku ada pada diriku sendiri bukan? Aku tak mau sedih memikirkan hal-hal yang menjatuhkanku. Hari-hariku terlalu berharga untuk memikirkan kata-kata orang yang tak pernah berpikir sebelum bicara.
Hari ini seperti hari-hari kemaren. Tak ada hal sepesial yang terjadi disekolah. Aku hanya fokus belajar yang sesekali diganggu oleh dua sahabatku itu. Hanya mereka yang mau menyapaku.