Suara deru mesin motor berkapasitas 1000cc itu membelah keheningan pagi di SMA Nusantara. Suaranya yang berat, rendah, dan menggelegar seperti guntur di musim kemarau, seketika membuat suasana di area parkir sekolah yang tadinya riuh menjadi hening sejenak. Aspal yang masih lembap karena sisa embun seolah ikut bergetar saat roda-roda besar itu berhenti tepat di posisi paling depan, tempat yang secara tidak tertulis hanya boleh ditempati oleh satu orang.
Begitu mesin dimatikan, keheningan yang mencekam itu berganti dengan bisikan-bisikan histeris yang tertahan. Pemilik motor itu melepas helm full-face hitam legamnya, membiarkan helai rambut hitam yang sedikit berantakan jatuh menutupi dahi dan mata tajamnya.
Langit Arkantara Semesta.
Dia melangkah turun dengan gerakan yang begitu acuh tak acuh, seolah-olah seluruh pasang mata yang menatapnya dengan kekaguman sekaligus ketakutan hanyalah partikel debu yang tidak berarti. Jaket kulit hitam yang ia kenakan sengaja tidak dikancingkan, memperlihatkan kemeja putih seragam sekolahnya yang berantakan—dasi yang tidak terpasang, dua kancing atas yang terbuka, dan kaus hitam di dalamnya. Di telinga kirinya, sebuah piercing kecil berbentuk salib berkilat tertimpa sinar matahari pagi, menambah kesan pemberontak yang sudah mendarah daging dalam dirinya.
Bagi penghuni SMA Nusantara, Langit adalah hukum itu sendiri. Bukan karena dia ketua OSIS—justru dialah musuh bebuyutan setiap peraturan yang ada di buku saku sekolah. Dia adalah putra mahkota dari pemilik yayasan, pewaris tunggal keluarga Arkantara yang pengaruhnya menjalar hingga ke luar negeri. Namun, bagi Langit, semua kemewahan itu hanyalah rantai yang ia coba putuskan dengan cara menjadi "singa" paling liar di sekolah ini.
Di sisi lain kompleks sekolah yang luas, jauh dari keramaian parkiran, Aura Senja Kirana berjalan dengan langkah yang teratur namun cepat. Ia memeluk dua buah buku teks Biologi yang cukup tebal di dadanya, seolah-olah buku itu adalah tameng pelindungnya dari dunia luar. Aura tidak peduli dengan siapa yang baru saja datang dengan motor mahal atau siapa yang baru saja membuat keributan di depan gerbang. Baginya, setiap detik di SMA Nusantara adalah perjuangan untuk mempertahankan beasiswa penuhnya.
"Aura! Tunggu, Ra!"
Langkah Aura terhenti ketika seorang gadis dengan rambut dikuncir kuda berlari menghampirinya sambil terengah-engah. Itu adalah Siska, satu-satunya teman yang Aura miliki di tempat elit ini.
"Kamu lihat tadi? Langit Arkantara baru saja datang! Gila, auranya hari ini makin nggak main-main. Kayaknya dia baru saja menang balapan liar semalam, lihat saja ada luka gores kecil di rahangnya," Siska berceloteh dengan wajah kemerahan karena antusias, sementara Aura hanya menanggapi dengan senyum tipis yang sopan.
"Siska, kita punya kuis Kimia di jam pertama. Bukannya lebih baik kamu memikirkan tabel periodik daripada memikirkan luka di wajah orang yang bahkan tidak tahu kita hidup di dunia ini?" Aura mencoba mengingatkan dengan nada lembut namun tegas.
"Ah, kamu mah selalu begitu, Ra. Terlalu kaku," Siska mengerucutkan bibirnya. "Sesekali lihat dong, Langit itu bukan cuma cowok nakal biasa. Ada sesuatu di matanya yang bikin siapa pun merasa... entahlah, seperti mau diterkam tapi mau juga didekati."
"Itu namanya obsesi, Siska. Dan aku tidak punya waktu untuk itu. Ibu sedang menunggu kabar nilaiku akhir semester ini," jawab Aura pendek, lalu kembali melangkah menuju koridor kelas IPA 1.
Setelah berpisah dengan Siska di persimpangan koridor, Aura memutuskan untuk mengambil jalan pintas melewati area laboratorium lama. Laboratorium itu jarang digunakan dan biasanya sangat sepi, tempat yang sempurna untuk membaca beberapa halaman terakhir bab metabolisme sebelum kuis dimulai.
Namun, begitu ia berbelok di koridor belakang yang remang-remang karena cahaya matahari terhalang pohon-pohon besar, langkahnya mendadak membeku. Bau asap rokok yang tipis tercium di udara, bercampur dengan aroma parfum maskulin yang sangat kuat—campuran antara sandalwood dan blackcurrant.
Aura ingin berputar balik, namun penglihatannya menangkap sosok yang sedang bersandar di dinding lembap laboratorium. Pria itu sedang menyesap rokoknya dengan mata terpejam, kepalanya mendongak ke arah langit-langit koridor. Asap putih mengepul dari bibirnya yang tipis, membentuk pola yang abstrak di udara.
Langit Arkantara Semesta.
Aura menahan napas. Ia mencoba berjalan sepelan mungkin agar tidak menarik perhatian predator di depannya. Namun, kesialan seolah sedang menyapa Aura hari ini. Salah satu buku tebal di pelukannya tergelincir karena tangannya yang mendadak berkeringat dingin.
BUGH!
Buku Biologi itu jatuh tepat di atas lantai semen yang sunyi.
Mata Langit seketika terbuka. Tatapannya yang tajam dan dingin seperti elang langsung menghujam tepat ke arah Aura. Ada jeda beberapa detik di mana waktu seolah berhenti berputar. Langit mematikan rokoknya di dinding dengan gerakan perlahan yang terlihat sangat artistik namun menakutkan, lalu ia mulai melangkah maju.
Setiap langkah sepatu boots Langit di lantai koridor yang sunyi itu terdengar seperti detak jam menuju ledakan di d**a Aura.
Aura ingin sekali membungkuk mengambil bukunya, tapi ia merasa tubuhnya lumpuh. Ia melihat ponsel di tangan kiri Langit masih menyala, menampilkan sebuah pesan singkat yang berisi foto beberapa orang yang tampak babak belur—sebuah rahasia gelap dari aktivitas malam pria itu yang tidak seharusnya dilihat oleh siswi teladan seperti Aura.
Langit kini sudah berada tepat di depan Aura. Tubuhnya yang tinggi tegap membuat Aura harus mendongak cukup jauh untuk menatap wajahnya. Jarak mereka begitu dekat hingga Aura bisa mencium aroma rokok yang bercampur dengan parfum mahal dari tubuh Langit.
"Melihat sesuatu yang menarik, Kutu Buku?" suara Langit rendah, serak, dan penuh dengan nada ancaman yang sangat kental.
Aura menelan ludah, berusaha mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia memeluk satu buku yang tersisa lebih erat. "A-aku tidak melihat apa-apa. Aku cuma mau lewat menuju kelas."
Langit menyipitkan matanya, menelisik setiap inci wajah Aura dengan tatapan yang seolah bisa menembus pikiran gadis itu. "Kebohongan adalah hal pertama yang aku benci, Aura Senja Kirana."
Aura tertegun. "Kamu... kamu tahu namaku?"
Langit tersenyum tipis—sebuah senyuman miring yang sama sekali tidak terlihat ramah. Ia membungkukkan sedikit tubuhnya, menyisakan jarak hanya beberapa sentimeter di antara hidung mereka. Aura bisa merasakan hembusan napas hangat Langit yang berbau mint di kulit wajahnya.
"Aku tahu segalanya tentang siapa pun yang masuk ke radar pengawasanku," bisik Langit. Jemari tangannya yang besar dan kasar perlahan terangkat, lalu tanpa izin menyentuh dagu Aura, memaksa gadis itu untuk terus menatap matanya. "Dan pagi ini, kamu baru saja menyaksikan sesuatu yang bisa membuatku mengeluarkanmu dari sekolah ini dalam hitungan detik."
Aura merasa tangannya gemetar. "Aku benar-benar tidak akan bicara pada siapa pun. Tolong, aku butuh beasiswa ini."
Langit tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat merdu namun mengerikan. Ia melepaskan dagu Aura, lalu beralih mengambil buku yang terjatuh di lantai. Ia membolak-balik halaman buku Biologi itu dengan gerakan malas sebelum mengembalikannya ke tangan Aura dengan kasar.
"Janji seorang murid teladan tidak berlaku bagiku," ucap Langit sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Aura, membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Mulai sekarang, mulutmu adalah milikku. Setiap kata yang keluar dari sana harus seijinku. Kalau sampai ada orang lain yang tahu soal apa yang ada di ponselku tadi..."
Langit menarik diri, lalu menatap Aura dengan kilat mata yang sangat posesif. "Aku tidak akan hanya mengeluarkanmu dari sekolah. Aku akan memastikan tidak ada satu pun sekolah di kota ini yang mau menerima sampah sepertimu. Mengerti?"
Aura hanya bisa mengangguk lemah, air mata nyaris tumpah dari pelupuk matanya karena rasa takut yang luar biasa.
Langit menepuk pipi Aura dua kali dengan pelan—sebuah gestur yang merendahkan sekaligus menandai—sebelum ia berbalik dan berjalan pergi meninggalkan koridor itu dengan langkah santai, bersiul kecil seolah baru saja menyelesaikan percakapan tentang cuaca pagi yang cerah.
Aura berdiri mematung di sana selama beberapa menit, lututnya terasa lemas hingga ia harus bersandar pada dinding laboratorium yang dingin. Ia merasa dunianya yang tenang baru saja dihantam badai besar bernama Langit Arkantara Semesta.
Gadis itu tidak tahu bahwa momen di koridor belakang itu hanyalah pembuka dari sebuah obsesi yang akan mengikat hidupnya selamanya. Ia tidak tahu bahwa mulai detik ini, sang Langit telah memutuskan untuk menarik Senja ke dalam kegelapannya.
Aura segera berlari menuju kelas dengan air mata yang ia hapus kasar. Ia ingin melupakan tatapan itu, tapi aroma parfum blackcurrant milik Langit seolah sudah menempel di seragamnya, mengingatkannya bahwa kini ia telah resmi menjadi mangsa bagi sang penguasa sekolah.