Jam pelajaran Kimia di jam pertama berlalu seperti siksaan bagi Aura Senja Kirana. Meskipun ia berhasil menjawab semua soal kuis dengan benar secara teknis, pikirannya sama sekali tidak berada di dalam ruang kelas IPA 1 yang sejuk itu. Bayangan tatapan tajam Langit Arkantara Semesta, aroma parfumnya yang maskulin, hingga sensasi dingin dari ujung jarinya saat menyentuh dagu Aura terus berputar-putar di kepala Aura seperti kaset rusak.
Aura berkali-kali mencoba memfokuskan matanya pada papan tulis, namun yang ia lihat justru pesan singkat misterius di ponsel Langit tadi pagi. Apa yang sebenarnya sedang dilakukan pria itu? Dan kenapa ia harus terlibat di dalamnya?
"Ra, kamu kenapa, sih? Dari tadi kamu cuma corat-coret di pinggiran buku, lho. Bukan nyatat rumus," bisik Siska yang duduk di sebelah Aura.
Aura tersentak, segera menutup bukunya dengan canggung. "Ah, tidak apa-apa, Sis. Cuma agak kurang tidur saja."
"Kurang tidur atau lagi kepikiran cowok motor gede tadi pagi?" goda Siska dengan kedipan mata yang membuat Aura semakin merasa bersalah.
Begitu bel istirahat pertama berbunyi, Aura hanya ingin bersembunyi di perpustakaan. Namun, perutnya yang hanya diisi sepotong roti tadi pagi tidak bisa diajak kompromi. Siska pun dengan semangat menyeretnya menuju kantin, tempat yang paling dihindari Aura jika ia ingin hidup tenang.
Kantin SMA Nusantara saat istirahat adalah medan perang. Bau uap bakso yang gurih bercampur dengan wangi bumbu siomay dan aroma berbagai macam jus buah memenuhi udara. Suara teriakan siswa yang memesan makanan beradu dengan tawa keras anak-anak populer di meja tengah. Aura dan Siska harus bersusah payah mencari meja kosong, hingga akhirnya mereka menemukan satu meja di sudut dekat jendela besar yang menghadap ke lapangan basket.
"Kamu tunggu sini, ya. Aku yang pesanin baksonya. Seperti biasa, kan? Nggak pakai seledri, banyakin sambal?" tanya Siska.
Aura mengangguk lemah. "Iya, Sis. Makasih, ya."
Saat Siska pergi, Aura membuka kotak bekal kecil berisi nasi goreng yang disiapkan ibunya. Ia lebih suka membawa bekal sendiri untuk menghemat uang saku. Baru saja ia hendak menyuapkan sendok pertama ke mulutnya, suasana kantin yang tadinya bising mendadak berubah menjadi sunyi yang mencekam.
Suara dentingan sendok dan riuh rendah obrolan siswa seolah tersedot hilang ke udara. Aura yang merasa ada yang tidak beres, perlahan mendongak. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat kerumunan siswa di pintu masuk kantin terbelah secara otomatis, memberikan jalan bagi seorang pria yang berjalan dengan gaya sangat dominan.
Langit Arkantara Semesta.
Dia melangkah masuk dengan tangan di saku celana abu-abunya. Di belakangnya, dua sahabat karibnya—Bimo yang bertubuh besar dan Elang yang berwajah dingin—mengikuti seperti pengawal pribadi. Langit tidak melihat ke arah gerai makanan. Matanya menyapu seluruh penjuru kantin dengan tatapan predator yang sedang mencari mangsanya.
Dan tatapan itu berhenti tepat pada meja di pojok jendela. Tepat ke arah mata Aura.
Aura segera menundukkan kepala, pura-pura sangat sibuk mengaduk nasi gorengnya yang mendadak terasa hambar. Tolong, jangan ke sini. Jangan ke sini, batinnya berdoa dengan kencang hingga tangannya gemetar. Namun, suara langkah sepatu yang berat dan mantap itu semakin jelas terdengar mendekat ke arahnya.
BRAK!
Sebuah kaleng minuman soda dingin diletakkan dengan sedikit kasar di atas meja Aura, tepat di samping kotak bekalnya. Uap air dari kaleng itu menetes ke permukaan meja yang kusam. Aura tersentak, hampir saja menjatuhkan sendoknya. Ia perlahan mendongak dan menemukan sosok tinggi Langit sudah berdiri tepat di sampingnya, menghalangi cahaya matahari yang masuk dari jendela.
"Meja ini punya pemandangan terbaik ke lapangan basket. Dan aku sedang ingin menonton pertandingan kelas sebelah," suara Langit yang berat dan penuh wibawa menginterupsi keheningan.
Seluruh penghuni kantin kini menatap ke arah mereka. Bisikan-bisikan mulai terdengar seperti dengungan lebah yang mengganggu. "Itu kan anak beasiswa IPA 1? Ngapain Langit samperin dia?"
Aura mengepalkan tangannya di bawah meja, berusaha menjaga martabatnya. "Tapi aku dan temanku sudah duduk di sini lebih dulu, Langit. Masih banyak meja lain yang kosong di sana."
Gumam terkejut terdengar dari meja-meja sekitar. Tidak ada yang pernah berani menjawab Langit dengan nada setegas itu.
Langit tidak marah. Sebaliknya, ia justru tersenyum tipis—sebuah senyum yang lebih mirip seringai serigala. Ia menarik kursi di sebelah Aura dan duduk begitu saja, membuat jarak di antara mereka hilang dalam sekejap. Langit menyandarkan punggungnya, lalu dengan santai mengambil kotak bekal Aura.
"Nasi goreng buatan rumah? Baunya lumayan," komentar Langit sambil menatap isi bekal Aura dengan sebelah alis terangkat.
"Kembalikan, Langit!" Aura mencoba meraih kotak bekalnya, namun Langit dengan sigap mengangkatnya tinggi-tinggi, menjauh dari jangkauan Aura.
"Kalau mau ini kembali, suapi aku satu sendok," ucap Langit dengan nada yang sangat kasual, namun tatapannya menantang.
Wajah Aura memanas, merah padam karena malu sekaligus marah yang memuncak. "Jangan konyol! Kita sedang di kantin, semua orang melihat!"
"Biarkan saja mereka melihat. Justru itu tujuannya," jawab Langit dengan nada suara yang sengaja ia keraskan agar terdengar oleh meja di sekitarnya. Langit mendekatkan wajahnya ke arah Aura, membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh gadis itu. "Ingat apa yang aku katakan di koridor tadi? Mulai detik ini, kamu adalah 'asisten' pribadiku. Dan asisten yang baik tidak akan membiarkan tuannya kelaparan."
Aura merasa tercekik. Ia melihat Siska yang baru saja kembali membawa dua mangkuk bakso, berdiri mematung tak jauh dari meja mereka dengan wajah pucat. Aura tahu, jika ia menolak, Langit tidak akan segan-segan membuat keributan yang lebih besar yang bisa membahayakan beasiswanya.
Dengan tangan yang masih gemetar dan hati yang hancur karena harga dirinya diinjak-injak, Aura mengambil sesendok nasi goreng miliknya. Ia tidak punya pilihan. "Buka mulutmu," bisiknya dengan suara tercekat.
Langit tersenyum puas, sebuah kemenangan telak terpancar dari matanya. Ia menerima suapan dari Aura dengan sangat santai, seolah-olah mereka adalah sepasang kekasih, bukan dua orang yang saling membenci. Seluruh kantin kini riuh dengan suara jeritan tertahan dari para siswi yang merasa iri dan bingung.
Setelah menelan makanan itu, Langit mengembalikan kotak bekal tersebut ke depan Aura. Ia berdiri, kemudian menepuk puncak kepala Aura dua kali—sebuah gerakan yang sangat posesif dan seolah memberikan tanda pada barang miliknya.
Langit berbalik, menatap seisi kantin dengan tatapan yang sangat mengintimidasi, membuat siapa pun yang berani berbisik langsung bungkam seketika.
"Dengar semuanya!" suara Langit menggelegar, menggema di setiap sudut kantin. "Mulai hari ini, siapa pun yang punya urusan dengan Aura Senja Kirana, berarti punya urusan langsung denganku. Jangan ada yang berani menyentuhnya, jangan ada yang berani memberikan tugas tambahan padanya, dan jangan ada yang berani menatapnya dengan pandangan merendahkan."
Langit menjeda kalimatnya, lalu menatap Aura yang masih terduduk kaku dengan mata berkaca-kaca. "Karena dia... berada di bawah perlindungan Langit Arkantara Semesta. Dan kalian tahu apa artinya itu."
Tanpa menunggu respon siapa pun, Langit melangkah pergi meninggalkan kantin diikuti oleh kedua temannya. Langkahnya terlihat begitu ringan, kontras dengan suasana yang ditinggalkannya yang terasa sangat berat.
Aura terdiam mematung. Ia merasa seluruh tubuhnya mati rasa. Ia bukan merasa beruntung dilindungi oleh penguasa sekolah. Ia merasa seperti seekor burung kecil yang baru saja dimasukkan ke dalam sangkar emas milik seorang pemburu yang kejam. Perlindungan Langit bukanlah sebuah hadiah, melainkan sebuah rantai yang mengikatnya ke dalam dunia pria itu yang penuh kekerasan dan rahasia.
Siska akhirnya mendekat, meletakkan bakso dengan tangan gemetar. "Ra... kamu... kamu benar-benar punya hubungan sama Langit? Sejak kapan?"
Aura tidak menjawab. Ia menatap kaleng soda yang ditinggalkan Langit. Di sana, tertempel sebuah catatan kecil dari kertas memo berwarna hitam yang ditulis dengan spidol putih: "Pulang sekolah, tunggu aku di parkiran belakang. Jangan coba-coba lari, atau Ibu-mu akan tahu kalau anaknya terlibat masalah besar di sekolah."
Napas Aura tercekat. Langit bahkan tahu tentang ibunya. Rasa takut yang sesungguhnya kini mulai merayapi seluruh nadinya. Langit Arkantara Semesta bukan hanya seorang bad boy, dia adalah badai yang akan menghancurkan segala sesuatu yang Aura cintai jika ia tidak mengikuti permainannya.
Di balik kacamata tebalnya, setetes air mata Aura jatuh ke dalam nasi gorengnya yang kini dingin. Permainan ini baru saja dimulai, dan Aura tahu, ia sudah kalah sejak awal.