Bel pulang sekolah berbunyi dengan nada yang terasa seperti lonceng kematian bagi Aura Senja Kirana. Sepanjang jam pelajaran terakhir, ia tidak bisa berhenti menatap jam dinding di atas papan tulis. Setiap detiknya terasa begitu lambat, namun sekaligus membawanya semakin dekat pada pertemuan yang ingin ia hindari dengan segenap nyawanya.
"Ra, kamu beneran nggak mau aku temenin ke parkiran?" tanya Siska sambil membereskan buku-bukunya dengan raut wajah cemas. Kabar tentang kejadian di kantin tadi siang sudah menyebar secepat virus ke seluruh penjuru SMA Nusantara.
Aura memaksakan sebuah senyum tipis, meski tangannya dingin seperti es. "Nggak usah, Sis. Langit bilang dia cuma mau bicara. Lagipula, kalau ada kamu, mungkin dia malah makin marah. Kamu pulang duluan saja, ya. Ibu pasti sudah menunggumu."
Siska menghela napas panjang, lalu menepuk bahu Aura. "Hati-hati, Ra. Langit itu... dia nggak pernah main-main kalau sudah menandai seseorang. Kalau ada apa-apa, langsung telepon aku, ya?"
Aura mengangguk, namun dalam hati ia tahu, jika Langit Arkantara Semesta ingin melakukan sesuatu padanya, sebuah telepon ke teman sekolah tidak akan bisa menyelamatkannya.
Aura melangkah perlahan menuju parkiran belakang. Area ini jarang dilewati siswa karena letaknya yang terpencil, tertutup oleh deretan pohon beringin tua dan berbatasan langsung dengan tembok tinggi sekolah yang penuh dengan coretan grafiti. Bau lembap tanah dan aroma oli mesin yang samar mulai menusuk penciumannya saat ia sampai di sana.
Di bawah bayang-bayang pohon beringin yang rimbun, motor besar hitam legam itu sudah terparkir. Pemiliknya sedang bersandar di tembok, satu kakinya ditekuk ke belakang, dan tangannya sibuk memutar-mutar sebuah korek api perak yang berkilat. Langit tidak lagi memakai jaket kulitnya. Ia hanya mengenakan kemeja seragam yang lengannya digulung hingga ke siku, memperlihatkan otot lengan yang kokoh dan sebuah tato kecil berbentuk koordinat di pergelangan tangannya.
Begitu mendengar langkah kaki Aura yang ragu-ragu, Langit menghentikan gerakan tangannya. Ia mendongak, matanya yang tajam langsung mengunci pergerakan Aura.
"Tepat waktu. Satu poin untukmu, Kutu Buku," suara Langit terdengar berat, bergema di area parkiran yang sunyi.
Aura berhenti beberapa meter di depan Langit. Ia meremas tali tas ranselnya erat-erat. "Apa yang kamu inginkan, Langit? Dan tolong... jangan bawa-bawa ibuku ke dalam urusan ini. Beliau tidak tahu apa-apa."
Langit menegakkan tubuhnya, melangkah perlahan mendekati Aura. Setiap langkah pria itu membuat Aura reflek mundur, hingga punggungnya menyentuh salah satu batang pohon beringin yang kasar. Langit berhenti tepat di depan Aura, mengurung gadis itu dengan kedua tangannya yang menumpu pada batang pohon di sisi kiri dan kanan kepala Aura.
"Ibumu adalah seorang penjual kue yang hebat di pasar, bukan? Dan dia sangat bangga pada putrinya yang jenius ini," Langit berbisik tepat di depan wajah Aura. Aroma parfum blackcurrant dan sedikit bau rokok kembali menyerang indra penciuman Aura. "Bayangkan bagaimana hancurnya dia kalau tahu putri kesayangannya terancam dikeluarkan karena terlibat dalam urusan perjudian dan balapan liar."
"Aku tidak terlibat! Kamu yang melakukan itu, bukan aku!" Aura memprotes dengan suara gemetar, matanya mulai berkaca-kaca karena rasa frustrasi yang luar biasa.
"Di sekolah ini, apa yang aku katakan adalah kebenaran, Aura," jawab Langit dengan nada dingin yang tidak terbantahkan. "Kalau aku bilang kamu asistenku dalam mengelola taruhan itu, maka pihak sekolah—termasuk ayahku yang pemilik yayasan—akan lebih memilih memercayaiku daripada seorang siswi beasiswa yang tidak punya pengaruh apa-apa."
Aura memejamkan mata, membiarkan setetes air mata jatuh di pipinya. "Kenapa? Kenapa harus aku?"
Langit terdiam sejenak. Ia memperhatikan wajah Aura dengan seksama. Ada sesuatu yang aneh yang ia rasakan saat melihat air mata itu—sebuah rasa yang asing, yang segera ia tepis jauh-jauh. Ia mengulurkan jarinya, menghapus air mata di pipi Aura dengan gerakan yang kasar namun entah kenapa terasa sedikit ragu.
"Karena kamu melihat sesuatu yang tidak seharusnya kamu lihat. Dan karena kamu adalah satu-satunya orang di sekolah ini yang tidak menatapku dengan mata memuja seperti orang bodoh. Kamu menatapku dengan kebencian, Aura. Dan aku suka itu," bisik Langit, seringai tipis muncul di bibirnya.
Langit menarik satu tangannya dari pohon dan merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah dokumen kecil yang sudah dilipat rapi. Ia melemparkannya ke pelukan Aura.
"Apa ini?" tanya Aura bingung.
"Perjanjian kerja sama. Selama enam bulan ke depan, kamu akan menjadi 'asisten pribadi' dan juga tamengku. Kamu akan mengerjakan semua tugas sekolahku, mencatat jadwal pertemuan rahasiaku, dan yang paling penting... kamu harus ada di mana pun aku berada saat aku memanggilmu," jelas Langit panjang lebar.
"Itu gila! Aku harus belajar, Langit. Aku punya ujian akhir!"
"Dan aku akan memastikan kamu tetap mendapatkan nilai terbaikmu. Aku punya semua bank soal ujian tahun-tahun sebelumnya yang bahkan guru-guru pun tidak tahu. Sebagai imbalannya, kamu harus menjamin tidak ada satu pun rahasia tentang kegiatanku di luar sekolah yang bocor. Terutama kepada pihak yayasan."
Langit mendekatkan wajahnya lagi, hidung mereka hampir bersentuhan. "Anggap saja ini sebagai perlindungan. Selama kamu berada di sampingku, tidak akan ada orang yang berani menyentuhmu. Tidak Linda, tidak Lisa, atau siapa pun yang mungkin membencimu di sekolah ini."
Aura tersentak saat mendengar nama Linda dan Lisa. Bagaimana Langit bisa tahu tentang ibu dan saudara tirinya yang sering merundungnya di rumah? Seberapa dalam pria ini sudah menyelidiki hidupnya?
"Bagaimana? Pilihan ada di tanganmu, Aura Senja Kirana. Menjadi asisten sang penguasa sekolah dan masa depanmu terjamin, atau menolak dan melihat ibumu menangis karena kamu diusir dari kota ini besok pagi?"
Aura merasa dunianya sedang runtuh. Tidak ada jalan keluar. Ia menatap mata Langit—langit yang luas namun kini terlihat sangat gelap dan menyesakkan. Dengan tangan gemetar, ia membuka lipatan dokumen itu. Isinya sangat detail, bahkan ada poin tentang kerahasiaan yang sangat ketat.
"Baiklah," bisik Aura akhirnya, suaranya terdengar pasrah namun penuh dengan dendam yang tersembunyi. "Aku akan melakukannya. Tapi berjanjilah, jangan pernah ganggu ibuku."
Langit tersenyum lebar, kali ini sebuah senyuman yang terlihat hampir tulus, seolah ia baru saja mendapatkan mainan paling berharga di dunia. Ia menarik diri, memberikan ruang bagi Aura untuk bernapas.
"Anak pintar," ucap Langit sambil mengacak rambut Aura dengan gerakan yang sedikit lebih lembut dari biasanya. "Sekarang, naik ke motor. Kita ada urusan pertama yang harus diselesaikan."
"Apa? Tapi ini sudah sore, aku harus pulang!"
"Tugas pertamamu sebagai asisten dimulai sekarang, Aura. Dan jangan pernah membantah ucapanku," perintah Langit sambil memakai helmnya dan menghidupkan mesin motornya yang menggelegar.
Aura menatap motor besar itu dengan ragu. Ia belum pernah naik motor sebesar itu seumur hidupnya, apalagi dibonceng oleh orang yang paling ia takuti. Namun, ancaman Langit tentang ibunya masih terngiang jelas di telinganya.
Dengan gerakan kaku, Aura naik ke jok belakang motor Langit. Ia terpaksa memegang bahu pria itu agar tidak terjatuh.
"Pegangan yang erat, Kutu Buku. Aku tidak ingin asistenku mati di hari pertama kerja," ucap Langit dari balik helmnya.
Dan dalam satu tarikan gas yang kuat, motor itu melesat keluar dari parkiran belakang SMA Nusantara, membawa Aura menuju sebuah dunia yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dunia di mana Langit Arkantara Semesta adalah tuhan, dan ia hanyalah seorang hamba yang berusaha bertahan hidup di tengah badai.
Di balik punggung Langit yang lebar, Aura memejamkan mata, membiarkan angin sore menerpa wajahnya. Ia tidak tahu ke mana Langit akan membawanya, namun ia tahu satu hal pasti: Mulai hari ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Senja telah benar-benar ditelan oleh Langit yang perkasa.