Angin sore yang biasanya terasa menenangkan di pinggiran kota Jakarta, kini terasa seperti ribuan silet yang menyayat kulit wajah Aura Senja Kirana. Motor besar yang dikendarai Langit Arkantara Semesta melesat membelah kemacetan dengan kecepatan yang membuat jantung Aura seolah-olah tertinggal di gerbang sekolah.
Aura memejamkan mata rapat-rapat, jemarinya mencengkeram erat kemeja seragam Langit di bagian pinggang. Ia tidak peduli jika kemeja mahal itu akan kusut atau jika Langit akan memprotes karena ia memeluknya terlalu kencang. Yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana caranya tetap hidup sampai motor ini berhenti.
"Jangan mati dulu, Kutu Buku! Kita belum sampai!" teriak Langit dari balik helmnya, suaranya nyaris teredam oleh deru mesin dan angin yang menderu.
Aura tidak menjawab. Ia hanya bisa merasakan otot punggung Langit yang keras dan hangat di bawah telapak tangannya. Getaran mesin motor itu seolah merambat ke dalam tubuhnya, membuat seluruh sarafnya menegang. Ini adalah pertama kalinya Aura berada begitu dekat dengan bahaya, dan ironisnya, bahaya itu adalah orang yang sedang ia peluk sekarang.
Setelah hampir dua puluh menit berkendara dengan gila, kecepatan motor perlahan menurun. Aura memberanikan diri membuka mata. Mereka tidak menuju ke area balapan liar seperti yang ia takutkan. Sebaliknya, Langit membelokkan motornya ke sebuah kompleks bangunan tua di kawasan industri yang tampak sepi.
Motor itu berhenti di depan sebuah gudang besar yang dindingnya tertutup tanaman merambat dan grafiti artistik. Pintu besi gudang itu terbuka secara otomatis saat Langit membunyikan klakson dua kali.
"Turun," perintah Langit singkat setelah mematikan mesin.
Aura turun dengan kaki yang terasa seperti jeli. Ia hampir jatuh jika tidak segera berpegangan pada jok motor. Ia melepas helm yang dipasangkan Langit tadi dengan tangan gemetar, napasnya masih tersenggal-senggal.
"Di mana kita?" tanya Aura sambil menatap sekeliling.
Gudang itu ternyata bukan gudang biasa. Di dalamnya terdapat beberapa mobil sport mewah yang ditutupi kain pelindung, barisan motor besar yang berkilat, dan sebuah sudut yang disulap menjadi ruang kerja super canggih dengan tiga monitor besar yang menyala. Di sisi lain, ada sofa kulit hitam yang tampak empuk dan meja biliar di tengah ruangan.
"Selamat datang di The Black Box," ucap Langit sambil melempar helmnya ke sofa. "Ini tempatku kalau aku sedang tidak ingin menjadi 'anak baik' pilihan yayasan."
Langit melangkah menuju meja kerjanya, menyalakan lampu gantung yang memberikan kesan temaram namun mewah pada ruangan itu. Ia kemudian menoleh ke arah Aura yang masih berdiri mematung di dekat pintu.
"Kemari," Langit mengibaskan tangannya.
Aura melangkah mendekat dengan ragu. "Apa yang harus aku lakukan di sini?"
Langit menarik sebuah kursi putar dan menyuruh Aura duduk. Ia kemudian menyalakan monitor tengah yang tadi sempat ia matikan. Di layar itu muncul ribuan baris data angka, grafik saham, dan beberapa dokumen legal yang tampak sangat rumit.
"Tugas pertamamu," Langit menunjuk ke arah layar. "Lihat dokumen audit di folder sebelah kanan. Ayahku mengira aku hanya menghabiskan uangnya untuk balapan dan tawuran. Padahal, aku sedang melacak aliran dana keluar-masuk dari yayasan sekolah kita. Ada yang tidak beres di sana."
Aura terbelalak. Ia menatap deretan angka itu dengan saksama. Sebagai siswi peringkat satu di kelas IPA, angka bukanlah hal asing baginya, tapi ini adalah data keuangan tingkat tinggi.
"Kamu... kamu melakukan ini semua sendiri?" Aura menatap Langit dengan pandangan tidak percaya. Selama ini, semua orang mengira Langit adalah preman sekolah yang hanya tahu cara berkelahi. Ternyata, pria ini memiliki otak yang jauh lebih tajam dari kelihatannya.
Langit bersandar di pinggiran meja, melipat tangannya di d**a. "Otak Arkantara tidak ada yang tumpul, Aura. Hanya saja, aku tidak suka menggunakannya untuk hal-hal yang disukai ayahku. Aku butuh seseorang yang teliti untuk memeriksa ulang laporan ini. Aku curiga ada oknum di jajaran direksi yang sedang mencoba menguras dana beasiswa untuk kepentingan pribadi."
Mendengar kata 'dana beasiswa', jantung Aura mencelos. Itu adalah hidupnya. Jika dana beasiswa itu bermasalah, maka posisinya di sekolah juga terancam.
"Kenapa kamu memberitahuku soal ini? Ini rahasia besar, kan?" tanya Aura lirih.
Langit membungkuk, wajahnya kembali berada di jarak yang sangat dekat dengan Aura. "Karena kamu jujur. Matamu tidak bisa berbohong. Dan karena kamu butuh beasiswa itu lebih dari siapa pun. Kalau kamu membantuku membongkar ini, aku akan memastikan beasiswamu aman selamanya, tanpa perlu takut pada siapa pun. Termasuk ayahku."
Aura menelan ludah. Ia merasa seperti sedang membuat kesepakatan dengan iblis, tapi iblis ini adalah satu-satunya yang menawarkan keselamatan baginya.
"Baiklah. Beri aku waktu," ucap Aura akhirnya. Ia mulai menggerakkan mouse dan fokus pada layar.
Selama hampir dua jam, gudang itu sunyi. Hanya terdengar suara ketikan kibor dan gumaman pelan Aura saat menemukan kejanggalan. Langit tidak mengganggunya. Pria itu duduk di sofa, menyesap kopi hitam sambil memperhatikannya dari kejauhan. Ada sesuatu dalam fokus Aura yang membuat Langit tidak bisa memalingkan wajahnya. Gadis itu terlihat sangat berbeda saat sedang serius; kacamata tebalnya tidak bisa menyembunyikan binar kecerdasan di matanya.
Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar dari luar gudang. Pintu besi digedor dengan kasar.
"Langit! Buka pintunya! Aku tahu kamu di dalam!" suara teriakan seorang pria terdengar penuh amarah.
Aura tersentak kaget, hampir menjatuhkan botol minum di meja. Langit seketika berdiri, raut wajahnya berubah menjadi sangat dingin dan keras. Matanya berkilat penuh kebencian.
"Diam di situ, Aura. Jangan bergerak sedikit pun," perintah Langit dengan suara rendah yang sangat menakutkan.
Langit melangkah menuju pintu gudang, mengambil sebuah tongkat biliar di dekat meja seolah-olah itu adalah senjata. Ia membuka sedikit celah pintu besi, dan Aura bisa melihat siluet seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahal berdiri di sana bersama dua orang pria berbadan tegap.
"Mau apa lagi, Ayah?" suara Langit terdengar seperti desisan ular.
"Berani sekali kamu membolos dari pertemuan keluarga tadi siang demi bersembunyi di gudang rongsokan ini!" pria itu, yang ternyata adalah Tuan Arkantara, berteriak murka. "Siapa yang kamu bawa ke dalam? Aku dengar kamu membawa siswi beasiswa kemari. Kamu mau merusak reputasi keluarga kita lagi?"
Aura menahan napas di balik monitor, tubuhnya gemetar hebat. Jika Tuan Arkantara menemukannya di sini, tamat sudah riwayatnya
"Reputasi keluarga atau reputasi kantongmu, Yah?" balas Langit tanpa rasa takut sedikit pun. "Jangan ganggu aku. Dan jangan pernah berani menyentuh orang-orang yang ada di sekitarku, atau aku akan memastikan seluruh dewan direksi tahu apa yang kamu lakukan dengan dana yayasan."
Suasana mendadak hening. Tuan Arkantara tampak terkejut, wajahnya memerah karena marah sekaligus panik. Ia menunjuk ke arah Langit dengan jari gemetar.
"Kamu... kamu berani mengancam ayahmu sendiri?"
"Aku hanya melindungi apa yang menjadi hakku," jawab Langit dingin. Ia kemudian menutup pintu besi itu dengan keras dan menguncinya rapat-rapat.
Langit kembali ke dalam dengan napas yang memburu. Ia melempar tongkat biliar itu ke lantai hingga menimbulkan suara gaduh. Aura melihat tangan Langit mengepal kuat hingga buku-bukunya memutih.
Aura memberanikan diri mendekat. "Langit... kamu baik-baik saja?"
Langit tidak menjawab. Ia justru menarik Aura ke dalam dekapannya secara tiba-tiba. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Aura, tubuhnya yang besar terasa bergetar sedikit. Aura membeku, tangannya tergantung di udara, tidak tahu harus melakukan apa.
"Tetap di sini, Aura," bisik Langit, suaranya terdengar sangat rapuh, jauh berbeda dari sosok penguasa sekolah yang ia kenal. "Jangan pergi. Hanya untuk malam ini saja... tetaplah jadi asistenku."
Aura merasakan kehangatan yang aneh menjalar di dadanya. Ia perlahan menurunkan tangannya dan membalas pelukan Langit dengan ragu, menepuk punggung pria itu pelan. Ternyata, di balik kuasa langit yang begitu besar dan menakutkan, tersimpan seorang anak laki-laki yang hanya ingin dilindungi dari dunianya sendiri yang kejam.
Dan di dalam gudang yang sunyi itu, untuk pertama kalinya, Senja merasa bahwa Langit tidaklah sejahat yang ia bayangkan. Namun, ia juga tahu, pelukan ini adalah awal dari badai yang jauh lebih besar yang akan segera datang menghantam mereka berdua.