Pagi itu, udara di SMA Nusantara terasa lebih berat dari biasanya bagi Aura Senja Kirana. Begitu ia menginjakkan kaki di gerbang sekolah, ia merasa ratusan pasang mata menatapnya dengan cara yang berbeda. Tidak ada lagi tatapan acuh tak acuh kepada si "siswi beasiswa". Yang ada hanyalah tatapan sinis, bisik-bisik yang sengaja dikeraskan, dan tawa mengejek yang mengikuti langkah kakinya.
Aura menunduk sedalam mungkin, merapatkan jaket almamaternya. Ia tahu alasannya. Di grup w******p angkatan yang beranggotakan hampir seluruh siswa kelas 12, sebuah foto buram namun jelas menunjukkan dirinya sedang membonceng motor Langit Arkantara Semesta kemarin sore telah menjadi viral.
"Lihat deh, si kutu buku ternyata jago juga cari muka."
"Pantesan kemarin dibelain di kantin, ternyata udah 'main' ke gudang tua."
"Murahan banget ya, demi beasiswa rela jadi simpanan Langit."
Kata-kata itu terngiang di telinga Aura seperti dengungan lalat yang menjijikkan. Ia mencoba masuk ke kelas IPA 1 dengan tenang, namun tepat di depan pintu, langkahnya dihadang oleh tiga orang gadis. Di tengah mereka berdiri Clarissa, putri seorang pejabat yang sejak lama mengklaim bahwa dirinya adalah satu-satunya wanita yang pantas bersanding dengan Langit.
"Wah, lihat siapa yang datang. The Golden Girl kita yang ternyata harganya murah sekali," ucap Clarissa sambil melipat tangan di d**a. Matanya menatap Aura dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan jijik.
"Permisi, aku mau lewat. Aku ada kelas," suara Aura bergetar, namun ia berusaha tetap tegak.
Clarissa tertawa renyah, tawa yang terdengar sangat palsu. "Kelas apa? Kelas menggoda anak pemilik yayasan? Berapa yang dia bayar untuk satu malam di gudang itu, hah? Atau kamu cuma kasih 'servis' gratis supaya beasiswamu nggak dicabut?"
PLAK!
Suara tamparan itu tidak terjadi. Aura menutup matanya rapat-rapat, menunggu rasa sakit di pipinya. Namun, yang terdengar justru suara rintihan tertahan dari Clarissa.
Aura membuka mata dan terbelalak. Tangan Clarissa yang hendak menamparnya kini dicengkeram kuat oleh seseorang.
"Lanjutkan kalimatmu, Clarissa, dan aku pastikan ayahmu kehilangan jabatannya sebelum matahari terbenam hari ini."
Suara itu rendah, dingin, dan mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah. Langit Arkantara Semesta berdiri di sana, tepat di belakang Aura. Wajahnya terlihat sangat datar, namun kilat di matanya menunjukkan kemarahan yang bisa membakar siapa pun.
"L-Langit... aku cuma... dia yang duluan—" Clarissa terbata-bata, wajahnya yang tadi angkuh kini pucat pasi.
Langit menghempaskan tangan Clarissa dengan kasar hingga gadis itu terhuyung ke belakang. Langit tidak menatap Clarissa sedikit pun; matanya hanya terfokus pada punggung Aura yang masih gemetar. Tanpa berkata apa-apa, Langit menarik bahu Aura, membawanya masuk ke dalam perlindungan lengannya yang kokoh.
"Dengar semuanya!" Langit berseru, suaranya menggema di sepanjang koridor kelas 12 yang kini dipenuhi siswa yang menonton. "Siapa pun yang menyebarkan foto itu, atau siapa pun yang berani membuka mulut untuk menghina Aura, akan berhadapan langsung denganku. Aku tidak peduli kalian anak siapa. Di sekolah ini, kata-kataku adalah hukum."
Langit menatap tajam ke arah kerumunan, membuat mereka satu per satu menunduk ketakutan. "Dan untukmu, Clarissa. Jangan pernah muncul di depan mataku lagi kalau kamu masih ingin sekolah di sini."
Langit kemudian menoleh ke arah Aura. "Ikut aku."
Aura ingin menolak, ia ingin masuk ke kelasnya dan belajar. Tapi cengkeraman tangan Langit di pergelangan tangannya sangat kuat, seolah-olah ia tidak akan membiarkan Aura lepas lagi. Langit menariknya melewati kerumunan siswa, menuju ke arah tangga yang menuju ke atap gedung sekolah (rooftop).
Begitu sampai di atap, Langit melepas tangan Aura dan berbalik dengan kasar. "Kenapa kamu diam saja saat dia menghinamu?" tanya Langit, suaranya terdengar frustrasi.
Aura mengatur napasnya, menatap Langit dengan mata yang mulai basah. "Lalu aku harus apa, Langit? Melawan mereka? Aku tidak punya kekuasaan sepertimu! Aku cuma siswi beasiswa yang hidupnya bergantung pada nilai dan reputasi. Dan sekarang, reputasiku hancur karena foto itu!"
Langit terdiam sejenak. Ia melihat keputusasaan di mata Aura, dan untuk pertama kalinya, ia merasa sedikit... bersalah. "Aku tidak tahu ada yang memotret kita."
"Itu karena kamu tidak pernah peduli pada orang lain! Bagimu ini cuma permainan, kan? Menjadikanku asisten, membawaku ke gudangmu, mengklaimku di depan umum... kamu cuma ingin memuaskan egomu dan membalas dendam pada ayahmu!" Aura berteriak, air matanya kini mengalir deras. "Tapi bagiku, ini adalah hidupku, Langit! Masa depanku!"
Langit melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Ia memegang kedua bahu Aura, memaksa gadis itu menatapnya. "Ini bukan permainan, Aura. Aku butuh kamu. Dan soal foto itu... aku akan mengurusnya. Tidak akan ada lagi yang berani bicara soal itu."
"Bagaimana caranya? Kamu mau membungkam semua orang?"
"Jika perlu, iya," jawab Langit mantap. Ia kemudian menghela napas, suaranya sedikit melunak. "Dengar, aku membawamu kemari karena aku ingin memberikan ini."
Langit merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah flashdisk kecil berwarna hitam. "Ini data asli dana beasiswa yang kita periksa kemarin. Aku sudah menyalinnya. Simpan ini. Jika terjadi sesuatu padaku atau jika ayahku mencoba mengeluarkanmu, gunakan ini untuk mengancam dewan direksi. Ini asuransi untukmu."
Aura menatap flashdisk di tangan Langit dengan ragu. "Kenapa kamu memberikannya padaku? Kenapa tidak kamu simpan sendiri?"
Langit menatap ke arah langit yang luas di atas mereka, senyum pahit terukir di bibirnya. "Karena di dunia ini, satu-satunya orang yang aku percaya tidak akan mengkhianatiku demi uang... hanyalah kamu, Kutu Buku."
Aura tertegun. Ia melihat sisi lain dari Langit lagi—sisi yang sangat kesepian dan penuh beban. Di tengah kemewahan dan kekuasaannya, Langit ternyata adalah orang yang paling tidak memiliki siapa pun untuk dipercaya.
Perlahan, Aura mengambil flashdisk itu. "Terima kasih, Langit."
Langit kembali menatap Aura, lalu dengan gerakan tiba-tiba, ia menarik helai rambut Aura yang menutupi wajahnya dan menyelipkannya ke belakang telinga. Jari-jarinya yang kasar menyentuh kulit pipi Aura sejenak, membuat jantung gadis itu berdegup kencang secara tidak wajar.
"Sekarang berhenti menangis. Wajahmu makin jelek kalau menangis," ejek Langit, mencoba mencairkan suasana meskipun matanya masih menatap Aura dengan intensitas yang dalam.
Aura mendengus sambil menghapus sisa air matanya. "Kamu memang menyebalkan."
"Dan kamu asistenku," balas Langit sambil menyeringai. "Ayo turun. Aku lapar, dan kamu berutang menemaniku makan karena sudah membuatku melewatkan jam pelajaran pertama."
Aura hanya bisa pasrah saat Langit kembali menarik tangannya. Di balik rasa takut dan kekacauan yang ada, Aura menyadari satu hal: Langit mungkin memang badai yang menakutkan, tapi di dalam badai itu, ada sebuah tempat sunyi yang hanya ia yang boleh memasukinya. Dan mungkin, hanya mungkin, ia mulai tidak keberatan berada di sana.
Namun, di sudut koridor lantai bawah, Tuan Arkantara berdiri sambil memegang ponselnya, menatap foto Langit dan Aura di atap yang dikirimkan oleh orang suruhannya. Wajah pria itu mengeras.
"Jika Langit tidak bisa dijinakkan, maka gadis itu yang harus disingkirkan," gumam Tuan Arkantara dingin.