Baru saja Aura mencoba menenangkan detak jantungnya setelah kejadian di atap sekolah, sebuah suara dari interkom sekolah memecah konsentrasinya di tengah pelajaran Matematika.
"Panggilan kepada siswi bernama Aura Senja Kirana dari kelas 12-IPA 1. Segera menghadap ke Ruang Ketua Yayasan sekarang juga. Terima kasih."
Seketika, seluruh kelas menoleh ke arahnya. Hening yang tercipta terasa sangat menghakimi. Aura bisa merasakan keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. Panggilan ke ruang Ketua Yayasan—ruangan Tuan Arkantara—bukanlah hal yang biasa bagi seorang murid, apalagi bagi penerima beasiswa sepertinya.
"Ra..." Siska berbisik dengan wajah penuh kekhawatiran. "Hati-hati."
Aura mengangguk pelan, membereskan bukunya dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia bisa merasakan saku seragamnya terasa berat; flashdisk pemberian Langit ada di sana. Benda kecil itu seolah menjadi satu-satunya jimat keberaniannya saat ini.
Ia berjalan melewati koridor sekolah yang terasa sangat panjang. Setiap langkah kakinya bergema di lantai marmer SMA Nusantara yang dingin. Sesampainya di depan pintu kayu jati besar bertuliskan Ketua Yayasan, Aura menarik napas dalam-dalam sebelum mengetuk.
"Masuk," suara berat dari dalam memberikan izin.
Aura melangkah masuk. Ruangan itu sangat luas, didominasi oleh perabotan kayu gelap, rak buku yang menjulang tinggi, dan aroma cerutu mahal yang kuat. Di balik meja kerja besar yang menghadap langsung ke jendela kota, duduklah Tuan Arkantara. Pria itu tampak sangat berwibawa dengan setelan jas abu-abu, namun matanya sedingin es saat menatap Aura.
"Duduk, Aura Senja Kirana," perintahnya tanpa basa-basi.
Aura duduk di kursi kulit di depan meja tersebut, berusaha menjaga punggungnya tetap tegak meski hatinya bergejolak.
Tuan Arkantara tidak segera bicara. Ia justru menyesap kopinya perlahan, membiarkan keheningan menekan mental gadis di depannya. Setelah beberapa saat, ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dan meletakkannya di atas meja.
"Saya tahu siapa kamu, Aura. Anak seorang janda penjual kue, siswi teladan, dan harapan satu-satunya keluargamu untuk naik kasta," ucap Tuan Arkantara dengan nada merendahkan. "Tapi saya juga tahu apa yang kamu lakukan dengan putra saya, Langit."
Aura menelan ludah. "Tuan, saya tidak melakukan apa pun yang melanggar aturan sekolah. Saya hanya—"
"Jangan memotong pembicaraan saya!" Tuan Arkantara menggebrak meja, membuat Aura tersentak. "Langit adalah pewaris tunggal Arkantara. Masa depannya sudah direncanakan dengan sangat rapi. Dia akan memimpin perusahaan ini, dan dia tidak boleh terlibat dengan gadis rendahan yang hanya akan menjadi noda dalam reputasinya."
Pria itu kemudian mendorong amplop cokelat itu ke arah Aura. "Di dalam sana ada uang tunai yang jumlahnya lebih dari cukup untuk membiayai kuliahmu sampai lulus di universitas mana pun yang kamu mau. Syaratnya sederhana: Mundur dari SMA Nusantara hari ini juga, pindah ke luar kota, dan jangan pernah muncul lagi di hadapan Langit."
Aura menatap amplop itu. Ia bisa membayangkan wajah ibunya yang kelelahan setelah pulang dari pasar. Uang itu bisa mengubah hidup mereka dalam sekejap. Namun, ia juga teringat akan wajah Langit yang kesepian di gudang tua itu, dan bagaimana pria itu memberikan kepercayaannya pada Aura melalui sebuah flashdisk.
"Kenapa Tuan sangat takut padaku?" tanya Aura tiba-tiba, suaranya kini lebih stabil.
Tuan Arkantara menyipitkan mata. "Takut? Jangan terlalu percaya diri, Gadis Kecil."
"Kalau Tuan tidak takut, Tuan tidak akan repot-repot menyogokku untuk pergi," balas Aura dengan berani. "Tuan takut karena Langit mulai berubah. Tuan takut karena Langit mulai memiliki seseorang yang tidak bisa Tuan kontrol dengan uang."
Wajah Tuan Arkantara memerah padam. "Kurang ajar! Kamu pikir kamu siapa? Saya bisa menghancurkan hidup ibumu dalam satu malam! Saya bisa menutup toko kuenya, mencabut izin tinggalnya, dan memastikan kalian berdua menjadi gelandangan!"
Aura merasa dunianya berputar. Ancaman itu nyata. Tuan Arkantara punya kekuatan untuk melakukan itu. Namun, tepat saat Aura hendak membuka mulutnya, pintu ruangan itu ditendang dengan sangat keras hingga terbuka lebar.
BRAAAKKK!
Langit Arkantara Semesta berdiri di ambang pintu. Napasnya memburu, matanya merah karena amarah yang meluap-luap. Ia melangkah masuk dengan langkah besar, langsung menuju ke meja ayahnya.
"Berani sekali Ayah menyentuhnya!" geram Langit. Ia mengambil amplop cokelat di meja dan melemparnya ke wajah ayahnya sendiri hingga uang-uang di dalamnya berhamburan ke lantai.
"Langit! Jaga sopan santunmu!" teriak Tuan Arkantara sambil berdiri dari kursinya.
"Sopan santun? Kepada pria yang mencoba menyuap teman saya?" Langit tertawa sinis, tawa yang penuh dengan kebencian. Ia menarik tangan Aura, memaksa gadis itu berdiri di belakang punggungnya. "Dengar, Tua Bangka. Kalau Ayah berani menyentuh Aura atau ibunya seujung kuku saja, aku bersumpah akan membakar gedung yayasan ini bersama semua rahasia kotor Ayah di dalamnya."
"Kamu mau jadi pahlawan untuk gadis ini? Dia hanya memanfaatkanmu, Langit!"
"Aku tidak peduli!" balas Langit lebih keras. "Dia asistenku. Dia milikku. Dan apa pun yang menjadi milik Langit Arkantara, tidak ada satu orang pun—termasuk Ayah—yang boleh menyentuhnya!"
Langit kemudian menoleh ke arah Aura, tatapannya sedikit melunak namun tetap intens. "Ayo pergi. Tempat ini berbau busuk."
Tanpa menunggu balasan dari ayahnya, Langit menarik Aura keluar dari ruangan itu. Di koridor, para staf yayasan dan beberapa siswa yang kebetulan lewat hanya bisa terdiam melihat pemandangan luar biasa tersebut: Sang pangeran pemberontak sedang menyelamatkan gadis beasiswa dari cengkeraman rajanya sendiri.
Langit membawa Aura terus berjalan hingga mereka sampai di taman belakang sekolah yang sepi. Ia melepas tangan Aura, lalu membalikkan tubuhnya.
"Kenapa kamu tidak langsung keluar saat dia mengancammu?" tanya Langit, suaranya masih terdengar bergetar karena amarah yang tersisa.
Aura menatap Langit dengan mata berkaca-kaca. "Aku... aku takut, Langit. Dia mengancam ibuku."
Langit menghela napas panjang, lalu tiba-tiba ia menarik Aura ke dalam pelukannya. Kali ini, pelukannya terasa jauh lebih protektif. Ia mendekap kepala Aura di dadanya, seolah ingin menyembunyikan gadis itu dari seluruh kekejaman dunia.
"Jangan pernah takut," bisik Langit di telinga Aura. "Selama aku masih bernapas, tidak akan ada yang bisa menyentuhmu. Aku janji."
Aura tidak membalas pelukan itu, namun ia menyandarkan keningnya di d**a Langit. Ia bisa mendengar detak jantung pria itu yang sangat cepat—detak jantung yang penuh dengan kekhawatiran dan amarah demi dirinya.
"Tapi Langit... hubunganmu dengan ayahmu akan semakin hancur karena ini," lirih Aura.
"Hubungan itu sudah hancur sejak lama, Aura. Kamu hanya memberiku alasan untuk akhirnya benar-benar melawannya," jawab Langit dingin. Ia menjauhkan sedikit tubuhnya, menatap mata Aura dengan intens. "Dan soal flashdisk itu... simpan baik-baik. Kita akan mulai menyerang balik besok. Kita tidak akan lari lagi."
Di saat yang sama, dari balik jendela lantai dua, Tuan Arkantara menatap mereka berdua dengan tatapan penuh kebencian. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi sebuah nomor.
"Lakukan rencana B," ucapnya dingin. "Pastikan gadis itu menghilang tanpa meninggalkan jejak. Dan buat seolah-olah ini adalah kecelakaan saat ia pulang kerja paruh waktu."
Badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Kekuasaan Langit kini diuji oleh kekejaman ayahnya sendiri, sementara nyawa Aura kini berada di ujung tanduk.