Hujan rintik-rintik mulai membasahi aspal jalanan Jakarta saat Aura Senja Kirana melangkah keluar dari toko roti kecil tempatnya bekerja paruh waktu. Jam menunjukkan pukul delapan malam. Biasanya, Aura merasa tenang berjalan kaki menuju halte bus, namun malam ini, bulu kuduknya meremang tanpa alasan yang jelas.
Ia merapatkan jaket tipisnya, mencoba menghalau hawa dingin yang menusuk tulang. Di dalam tasnya, ia bisa merasakan keberadaan flashdisk hitam pemberian Langit. Benda itu terasa seperti beban sekaligus pelindung. Kata-kata Tuan Arkantara di ruang yayasan tadi siang terus terngiang di kepalanya seperti kutukan: "Saya bisa memastikan kalian berdua menjadi gelandangan."
"Hanya beberapa bulan lagi, Aura. Bertahanlah," bisiknya pada diri sendiri, mencoba menyemangati hatinya yang menciut.
Aura mulai berjalan menyusuri trotoar yang mulai sepi. Lampu jalan yang remang-remang menciptakan bayangan panjang yang seolah-olah mengikuti setiap langkahnya. Saat ia melewati sebuah gang sempit yang biasanya ia lalui sebagai jalan pintas, ia mendengar suara deru mesin mobil yang berjalan sangat pelan di belakangnya.
Aura mempercepat langkahnya. Mobil itu ikut mempercepat lajunya. Aura berhenti sejenak untuk membetulkan tali sepatunya, mencoba melirik melalui sudut matanya. Sebuah minibus hitam dengan kaca gelap tanpa plat nomor berhenti sekitar sepuluh meter di belakangnya. Mesinnya tetap menyala, mengeluarkan suara rendah yang mengancam.
Jantung Aura mulai berdegup kencang. Ia teringat peringatan Langit di taman sekolah. "Jangan pernah takut, selama aku masih bernapas, tidak akan ada yang bisa menyentuhmu."
Tapi Langit tidak ada di sini sekarang. Langit berada di mansion mewahnya atau mungkin di gudang The Black Box, sementara ia sendirian di jalanan yang gelap.
Aura memutuskan untuk tidak melewati gang sempit itu. Ia memilih jalur memutar yang lebih ramai, namun jalanan tetap terasa asing malam ini. Saat ia hampir sampai di dekat persimpangan menuju halte, tiba-tiba mobil hitam itu melesat kencang dan memotong jalannya, berhenti tepat di depannya dengan suara decit ban yang memekakkan telinga.
Dua orang pria berbadan tegap dengan jaket hitam dan masker penutup wajah turun dari mobil. Gerakan mereka sangat taktis dan cepat, seperti orang yang sudah terlatih.
"Nona Aura Senja Kirana? Ikut kami sebentar," ucap salah satu pria dengan suara berat dan dingin.
"Siapa kalian? Aku tidak kenal kalian!" Aura mundur beberapa langkah, matanya liar mencari pertolongan, namun jalanan itu mendadak sunyi senyap. Toko-toko di sekitar sudah tutup.
"Jangan mempersulit keadaan, Nona. Kami hanya menjalankan perintah untuk membawamu 'beristirahat' sejenak dari kota ini," pria itu melangkah maju, tangannya berusaha meraih lengan Aura.
"Lepaskan! Tolong! Tolong!" Aura berteriak sekuat tenaga, ia mencoba memukul tangan pria itu dengan tasnya yang berat berisi buku-buku.
Salah satu pria itu kehilangan kesabaran. Ia mencengkeram bahu Aura dengan sangat kuat hingga gadis itu merintih kesakitan. "Diam atau kami harus menggunakan cara kasar!"
Tepat saat pria itu hendak menyeret Aura menuju pintu mobil yang terbuka, sebuah cahaya lampu depan yang sangat terang menyambar dari arah belakang. Suara deru mesin motor yang sangat dikenal Aura menggelegar, memecah kesunyian malam dengan nada kemarahan yang luar biasa.
VROOOOMMM!
Motor besar itu tidak berhenti. Sang pengendara justru memacu gasnya, mengarahkan motornya tepat ke arah kedua pria itu. Mereka terpaksa melepaskan Aura dan melompat menghindar agar tidak tertabrak.
Motor itu melakukan manuver drift yang ekstrem, berputar di tengah jalan hingga menimbulkan kepulan asap dari gesekan ban dan aspal. Pengendaranya turun bahkan sebelum motornya benar-benar berhenti sempurna.
Langit Arkantara Semesta.
Ia melepas helmnya dan melemparkannya ke aspal hingga pecah. Wajah Langit saat ini bukan lagi wajah bad boy yang suka mengejek; itu adalah wajah seorang pria yang siap untuk membunuh.
"Sentuh dia satu kali lagi," suara Langit terdengar sangat rendah namun bergetar karena amarah yang ditahan, "dan aku pastikan kalian tidak akan pernah melihat matahari besok pagi."
"Tuan Muda Langit, ini perintah Tuan Besar. Mohon jangan mencampuri—"
BUGH!
Tanpa menunggu kalimat itu selesai, tinju Langit sudah mendarat telak di rahang pria yang tadi memegang Aura. Pria itu tersungkur ke aspal. Langit tidak berhenti di sana; ia menerjang pria kedua dengan tendangan yang sangat cepat dan kuat.
Perkelahian itu berlangsung brutal. Langit bertarung seperti orang kesetanan. Ia tidak peduli jika ia terkena pukulan, ia hanya ingin menghancurkan siapa pun yang berani mencoba menyentuh Aura. Aura hanya bisa berdiri mematung di pinggir jalan, menutup mulutnya dengan tangan, air mata mengalir deras karena ketakutan sekaligus lega.
Hanya dalam waktu singkat, kedua pria itu menyadari bahwa mereka tidak akan menang melawan kemarahan Langit yang tidak terkendali. Dengan terengah-engah, mereka segera masuk kembali ke dalam mobil dan memacu kendaraan itu pergi, meninggalkan kepulan asap hitam.
Langit berdiri di tengah jalan, napasnya memburu. Ada sedikit darah di sudut bibirnya dan buku jarinya mulai memar. Ia berbalik perlahan, menatap Aura yang masih gemetar hebat.
"Aura..." suaranya kini melunak.
Langit melangkah mendekat, namun Aura justru mundur satu langkah karena masih merasa syok. Melihat itu, Langit berhenti. Ia menjatuhkan tangannya di sisi tubuhnya, sorot matanya yang tajam kini berubah menjadi penuh luka dan kekhawatiran.
"Maaf... maaf aku terlambat," bisik Langit.
Aura tidak bisa menahannya lagi. Ia berlari ke arah Langit dan menghambur ke dalam pelukan pria itu. Ia menangis tersedu-sedu di d**a Langit, mencengkeram kemeja pria itu seolah takut ia akan menghilang. Langit pun mendekap Aura dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di rambut gadis itu.
"Aku takut, Langit... mereka... mereka bilang akan membawaku pergi," isak Aura di sela tangisnya.
Langit mempererat pelukannya, memberikan kehangatan di tengah rintik hujan yang semakin deras. "Tidak akan ada yang bisa membawamu pergi selama aku ada di sini, Aura. Aku bersumpah. Ayahku sudah keterlaluan."
Langit melepaskan pelukannya sejenak, memegang wajah Aura dengan kedua tangannya yang kasar. Ia menghapus air mata di pipi Aura dengan ibu jarinya. "Dengar, kamu tidak bisa pulang ke rumah malam ini. Orang-orang ayahku pasti sudah mengawasi rumahmu."
"Lalu bagaimana dengan ibuku? Aku harus melindunginya!"
"Temanku, Elang, sudah berada di sana. Dia sudah membawa ibumu ke tempat yang aman di luar kota untuk sementara. Kamu harus ikut aku," ucap Langit tegas.
"Ke mana?"
Langit menatap mata Aura dengan intens, sebuah kilat tekad terpancar di sana. "Ke satu-satunya tempat di mana ayahku tidak akan pernah bisa menyentuhmu. Mulai malam ini, kamu tidak hanya asistenku, Aura. Kamu adalah tanggung jawab hidup dan matiku."
Langit membantu Aura naik ke atas motornya. Ia memberikan jaket kulitnya untuk dipakai oleh Aura agar gadis itu tidak kedinginan. Saat motor itu melaju menembus hujan malam, Aura menyadari satu hal: Hidupnya yang tenang sudah benar-benar lenyap. Kini, ia berada di tengah peperangan antara ayah dan anak, dan satu-satunya tempat persembunyiannya adalah di balik punggung pria yang paling berbahaya sekaligus paling melindunginya di dunia ini.
Di mansion Arkantara, Tuan Arkantara menatap layar monitor yang menunjukkan kegagalan orang-orangnya. Ia meremas gelas kristal di tangannya hingga pecah.
"Kamu memilih jalan yang sulit, Langit. Kita lihat seberapa lama kamu bisa melindungi gadismu itu di dalam sarang serigala," gumamnya dingin.