Deru mesin motor Langit akhirnya merendah saat mereka memasuki basemen sebuah apartemen mewah di kawasan Jakarta Selatan. Apartemen ini jauh dari kesan sekolah atau gedung-gedung milik yayasan Arkantara yang kaku. Bangunannya modern, dengan sistem keamanan biometrik yang sangat ketat.
Aura turun dari motor dengan kaki yang masih terasa goyah. Hujan tadi telah membasahi sebagian seragamnya, membuatnya menggigil kedinginan. Jaket kulit milik Langit yang tersampir di bahunya terasa sangat berat dan hangat, membawa aroma parfum pria itu yang kini bercampur dengan bau besi dari darah.
"Lantai teratas," ucap Langit singkat sambil menarik tangan Aura menuju lift.
Di dalam lift yang berdinding cermin, Aura bisa melihat pantulan mereka berdua. Langit terlihat sangat berantakan; rambutnya basah, sudut bibirnya pecah, dan kuku-jarinya membiru. Sementara itu, Aura terlihat seperti anak kucing yang malang dengan mata sembap dan kacamata yang sedikit miring.
Begitu pintu lift terbuka di lantai penthouse, mereka disambut oleh ruangan luas dengan desain minimalis industrial. Jendela kaca raksasa menampilkan pemandangan lampu-lampu kota Jakarta yang berkilauan di bawah rintik hujan.
"Ini... tempat siapa?" tanya Aura lirih, suaranya hampir hilang tertelan kesunyian ruangan itu.
"Milikku. Bukan milik keluarga Arkantara," jawab Langit sambil melempar kunci motornya ke atas meja marmer. "Aku membelinya dari hasil balapan dan investasi kripto tahun lalu. Ayahku tidak tahu tempat ini ada. Kamu aman di sini."
Langit berjalan menuju dapur, mengambil sebuah kotak P3K dari salah satu laci. Ia kemudian duduk di sofa kulit hitam yang besar dan menyandarkan kepalanya dengan mata terpejam. Napasnya masih terdengar berat.
Aura berdiri diam di tengah ruangan, merasa sangat asing dengan kemewahan yang terasa dingin ini. Namun, melihat luka di wajah Langit, rasa kemanusiaannya mengalahkan rasa takutnya. Ia mendekat, mengambil kotak P3K itu dari samping Langit.
"Biar aku obati," ucap Aura pelan.
Langit membuka matanya, menatap Aura sejenak sebelum akhirnya mengangguk kecil. Aura duduk di tepi sofa, sangat dekat dengan Langit hingga ia bisa merasakan panas tubuh pria itu. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Aura mulai membasahi kapas dengan alkohol.
"Aw... pelan-pelan, Kutu Buku," geram Langit saat kapas itu menyentuh luka di bibirnya.
"Makanya, jangan hobi berkelahi," balas Aura tanpa sadar, mencoba menutupi rasa gugupnya.
Langit terkekeh pendek, namun segera meringis kesakitan. "Kalau aku tidak berkelahi tadi, kamu sekarang sudah ada di dalam pesawat menuju entah ke mana, Aura."
Aura terdiam. Tangannya berhenti bergerak. Benar. Pria ini terluka karena dirinya. Karena melindunginya dari ayahnya sendiri. "Kenapa kamu melakukan ini semua, Langit? Kamu bisa saja membiarkan mereka membawaku pergi. Itu akan membuat hidupmu lebih mudah. Tidak perlu bertengkar dengan ayahmu."
Langit tiba-tiba menangkap pergelangan tangan Aura, menghentikan aktivitas gadis itu. Ia menatap mata Aura dengan intensitas yang membuat napas Aura tertahan.
"Karena aku benci kehilangan apa yang sudah aku klaim sebagai milikku," bisik Langit, suaranya rendah dan serak. "Dan sejak hari itu di kantin, kamu adalah tanggung jawabku. Aku tidak suka orang lain menyentuh barang milikku, apalagi mencoba mengambilnya secara paksa."
"Aku bukan barang, Langit," protes Aura, meski jantungnya berdegup kencang.
"Memang bukan. Kamu jauh lebih merepotkan dari sekadar barang," Langit menarik tangan Aura lebih dekat, membuat wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. "Tapi kamu satu-satunya hal yang membuatku merasa... punya kendali atas hidupku sendiri. Melindungimu adalah caraku melawan Ayah."
Aura bisa merasakan hembusan napas Langit di bibirnya. Ada ketegangan yang aneh di antara mereka—sesuatu yang lebih dari sekadar kontrak asisten dan majikan. Namun, sebelum suasana semakin larut, Aura segera menarik tangannya dan kembali fokus pada luka di dahi Langit.
"Sudah selesai," ucap Aura cepat setelah menempelkan plester. "Sekarang, di mana aku bisa membersihkan diri? Seragamku basah."
Langit menunjuk ke arah sebuah pintu di ujung lorong. "Kamar utama. Ada kamar mandi di dalam. Pakai saja baju di lemari, cari kaos atau apa pun yang pas untukmu. Aku akan memesan makanan."
Aura mengangguk dan segera melarikan diri ke kamar mandi. Di bawah kucuran air hangat, ia menangis pelan. Ia merindukan ibunya, ia merindukan kamarnya yang sempit namun damai. Ia merasa terjebak dalam pusaran badai yang tidak ia mengerti. Namun, di balik semua itu, ada satu perasaan yang sulit ia pungkiri: Ia merasa aman di balik pintu apartemen ini, karena ia tahu ada "singa" yang menjaganya di luar sana.
Setelah selesai, Aura keluar dengan mengenakan kaos hitam polos milik Langit yang sangat kebesaran di tubuhnya, menutupi hingga ke tengah paha. Ia melipat lengan kaos itu berkali-kali agar tangannya terlihat.
Di ruang tamu, makanan sudah tersaji di meja, namun Langit tidak sedang makan. Pria itu berdiri di depan jendela kaca, menatap kegelapan malam dengan ponsel di telinganya.
"Pastikan ibunya aman, Elang. Jangan biarkan satu pun orang suruhan Ayah tahu lokasinya... Ya, aku tahu risikonya. Biar aku yang urus sisanya," ucap Langit dengan nada dingin sebelum menutup telepon.
Ia berbalik dan melihat Aura. Langit tertegun sejenak melihat Aura yang tenggelam dalam kaosnya. Rambut Aura yang masih lembap jatuh ke bahu, membuatnya terlihat sangat rapuh sekaligus cantik secara alami tanpa kacamata tebalnya.
"Makanlah. Setelah itu kamu harus istirahat. Besok kita tidak bisa ke sekolah," ucap Langit sambil mengalihkan pandangannya, mencoba menyembunyikan kekagumannya.
"Kenapa? Aku punya ujian praktek besok!" seru Aura panik.
"Lupakan ujianmu, Aura! Ayahku sudah menaruh namamu di daftar hitam. Jika kamu muncul di gerbang sekolah, penjaga akan langsung menangkapmu," bentak Langit, frustrasinya kembali meluap. "Dengar, kita sedang dalam perang sekarang. Bukan lagi soal nilai atau beasiswa."
Aura menunduk, bahunya bergetar. "Tapi itu satu-satunya masa depanku, Langit..."
Langit berjalan mendekat, memegang kedua bahu Aura dengan lembut namun tegas. "Masa depanmu tidak akan hancur. Aku yang akan menjaminnya. Tapi untuk sekarang, tetaplah di sini. Tetaplah hidup."
Tiba-tiba, suara denting bel apartemen berbunyi. Langit seketika menegang. Ia menarik Aura ke belakang tubuhnya, tangannya meraba sesuatu di balik meja—sebuah alat kejut listrik yang ia siapkan.
Langit memeriksa layar monitor interkom. Matanya menyipit saat melihat siapa yang berdiri di depan pintunya.
"Siapa?" bisik Aura ketakutan.
"Bimo dan Elang," jawab Langit, namun raut wajahnya tidak menunjukkan kelegaan. "Tapi mereka tidak sendiri. Mereka membawa sesuatu... atau seseorang."
Langit membuka pintu, dan benar saja, Bimo dan Elang masuk dengan wajah pucat. Elang memegang sebuah tablet yang menyala, menampilkan sebuah berita yang baru saja disiarkan di televisi nasional.
"Berita Terkini: Kebakaran hebat melanda pemukiman padat di pinggiran kota. Sebuah toko roti kecil dilaporkan hancur total. Pihak kepolisian menemukan jejak sabotase dan sedang mencari keberadaan pemilik toko serta putrinya yang dilaporkan hilang..."
Aura melihat gambar toko roti ibunya yang kini tinggal puing-puing hitam di layar tablet itu. Dunianya seketika runtuh. Kakinya lemas hingga ia jatuh terduduk di lantai.
"Ibu..." jerit Aura pilu.
Langit mengepalkan tangannya hingga berdarah kembali. Ia menatap layar itu dengan kemarahan yang melampaui batas manusia. Ayahnya bukan hanya ingin membawa Aura pergi; ayahnya ingin menghapus segala sesuatu yang menjadi milik Aura agar gadis itu tidak punya pilihan selain menyerah.
"Ayah... kamu sudah benar-benar melewati batas," gumam Langit dengan suara yang sangat rendah, mirip dengan suara guntur sebelum badai besar menghantam.
Di malam yang dingin itu, di dalam apartemen mewah yang kini terasa seperti penjara, janji Langit untuk melindungi Aura berubah menjadi sumpah untuk menghancurkan apa pun yang menghalangi jalan mereka. Perang sesungguhnya telah dideklarasikan, dan kali ini, Langit Arkantara Semesta tidak akan berhenti sampai semuanya rata dengan tanah.