Keheningan di penthouse mewah itu kini pecah oleh isak tangis yang menyayat hati. Aura Senja Kirana bersimpuh di atas lantai marmer yang dingin, matanya tak lepas dari layar tablet yang masih menampilkan sisa-sisa api yang melahap toko roti kecil milik ibunya. Toko itu bukan sekadar bangunan kayu dan etalase kaca; di sanalah tetesan keringat ibunya tertumpah setiap subuh, di sanalah harapan agar Aura bisa sarjana digantungkan setinggi langit.
Kini, semuanya menjadi abu dalam satu malam.
"Ibu... semuanya hilang, Langit... semuanya habis..." Aura meracau, suaranya parau karena rasa sesak yang menghimpit dadanya. Ia mencengkeram kaos hitam besar yang ia kenakan, seolah mencoba mencari pegangan di tengah dunia yang sedang runtuh.
Langit berdiri kaku di depan Aura. Tangannya mengepal begitu kuat hingga kuku-jarinya memutih dan luka lamanya kembali mengeluarkan darah. Ia ingin memeluk Aura, ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, namun lidahnya terasa kelu. Untuk pertama kalinya dalam hidup, sang penguasa sekolah merasa sangat tidak berdaya. Ia adalah penyebab semua ini. Jika saja ia tidak menyeret Aura ke dalam dunianya yang gelap, toko itu pasti masih berdiri tegak.
"Aura, lihat aku," Langit berlutut di depan Aura, suaranya rendah dan penuh tekanan emosi.
Aura mendongak, wajahnya basah oleh air mata, kacamata yang ia letakkan di meja tadi membuat pandangannya sedikit kabur, namun ia bisa melihat kilat amarah yang berkobar di mata Langit.
"Ini salahku, kan?" bisik Aura dengan nada yang sangat menyakitkan. "Harusnya aku pergi saja saat ayahmu memberikan uang itu. Harusnya aku tidak pernah setuju menjadi asistenmu. Sekarang, Ibu tidak punya apa-apa lagi... Kami tidak punya tempat tinggal, Langit!"
"Jangan bicara begitu!" bentak Langit, namun segera melembutkan suaranya saat melihat Aura tersentak. "Aku bersumpah, Aura... Aku akan membangun kembali toko itu sepuluh kali lebih besar. Aku akan mengganti setiap butir tepung yang terbakar dengan emas jika perlu. Tapi untuk sekarang, kamu harus kuat. Ibumu selamat, itu yang terpenting."
Langit menoleh ke arah Bimo dan Elang yang masih berdiri di dekat pintu dengan wajah tegang. "Bawa ibunya ke apartemen rahasia Elang di Bogor. Jangan ada satu pun jejak digital. Dan Bimo... siapkan unit tim IT kita. Malam ini, kita buka The Black Box sepenuhnya."
Bimo mengangguk mantap. "Siap, Langit. Semua jalur sudah aman."
Setelah kedua temannya pergi, Langit kembali fokus pada Aura. Ia mengangkat tubuh gadis itu dengan lembut, membawanya ke atas sofa. Aura tidak melawan, ia tampak seperti boneka rusak yang kehilangan nyawanya.
"Istirahatlah, Aura. Biarkan aku yang bekerja malam ini," bisik Langit sambil menyelimuti Aura dengan selimut tebal.
Langit melangkah menuju meja kerjanya yang penuh dengan monitor. Ia memasukkan flashdisk hitam yang tadi dikembalikan Aura ke dalam port komputer. Jari-jarinya bergerak dengan kecepatan luar biasa di atas kibor. Barisan kode hijau mulai mengalir deras di layar monitor, menembus lapisan keamanan yayasan Arkantara yang selama ini dianggap mustahil untuk ditembus.
"Kamu ingin bermain kotor, Yah? Mari kita lihat seberapa bersih tanganmu di depan hukum," gumam Langit dingin.
Malam itu, Langit tidak tidur. Ia adalah arsitek kehancuran yang sedang merancang serangan balik. Ia mulai meretas data pribadi ayahnya, menemukan bukti-bukti suap kepada pejabat kota, pemalsuan laporan pajak, hingga aliran dana gelap yang selama ini disembunyikan di balik kedok yayasan pendidikan.
Di sisi lain sofa, Aura memperhatikan punggung Langit yang lebar. Di bawah cahaya temaram monitor, Langit terlihat seperti malaikat maut yang sedang menulis daftar kematian. Aura menyadari bahwa Langit benar-benar serius. Pria ini sedang mempertaruhkan seluruh nama besarnya, seluruh warisannya, hanya untuk membalas air mata seorang gadis beasiswa.
"Kenapa kamu melakukan ini sampai sejauh ini, Langit?" tanya Aura pelan dari balik selimut.
Gerakan jari Langit terhenti sejenak. Ia tidak menoleh, namun suaranya terdengar sangat jujur. "Karena selama ini aku hidup di langit yang kosong, Aura. Semua orang mendekatiku karena uang atau ketakutan. Hanya kamu yang menatapku sebagai 'Langit', bukan sebagai 'Arkantara'. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun memadamkan cahaya di mata orang yang berani jujur padaku."
Pernyataan itu membuat jantung Aura berdenyut aneh. Di tengah duka dan ketakutan, ada rasa hangat yang mulai menjalar.
Menjelang fajar, Langit berhasil menyelesaikan bagian pertama rencananya. Ia mengirimkan satu email anonim berisi dokumen awal korupsi yayasan kepada lima media besar di Indonesia. Ia juga mengirimkan salinannya ke dewan pembina yayasan yang selama ini menjadi rival ayahnya.
"Bom waktu sudah aktif," ucap Langit sambil menyandarkan punggungnya, wajahnya tampak sangat lelah namun puas.
Tiba-tiba, ponsel Langit bergetar. Sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Langit menyalakan loudspeaker.
"Langit... Kamu pikir satu email kecil bisa menjatuhkanku?" suara Tuan Arkantara terdengar di seberang telepon, tenang namun mematikan. "Aku sudah memblokir semua akses media itu dalam waktu lima menit. Jangan lupakan siapa yang memegang kendali atas arus informasi di kota ini."
Langit menyeringai, sebuah senyum kemenangan yang membuat bulu kuduk Aura meremang. "Aku tahu Ayah akan melakukan itu. Itu sebabnya email itu hanya umpan. Sementara Ayah sibuk menelepon para pimred media, tim IT-ku sudah mengambil alih seluruh sistem pembayaran SPP digital sekolah. Pagi ini, seluruh orang tua murid akan mendapatkan notifikasi bahwa biaya sekolah mereka telah dikorupsi oleh Ketua Yayasan secara langsung lewat aplikasi mereka."
Hening di seberang telepon. Langit bisa mendengar suara napas ayahnya yang mulai memburu karena marah.
"Kamu... kamu benar-benar ingin menghancurkan keluargamu sendiri?"
"Keluarga ini sudah hancur sejak Ayah membakar toko roti itu," balas Langit tajam. "Jangan cari Aura lagi. Karena kalau Ayah mencoba menyentuhnya lagi, pesan berikutnya yang tersebar bukan lagi soal uang, tapi soal bagaimana Ayah melenyapkan lawan bisnis Ayah sepuluh tahun yang lalu. Aku punya datanya, Yah. Semuanya."
Langit memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Ia membanting ponselnya ke meja.
"Sekarang semuanya sudah terbuka," ucap Langit sambil menoleh ke arah Aura yang kini berdiri di belakangnya. "Tidak ada jalan kembali, Aura. Kamu siap menjadi asisten seorang buronan?"
Aura menatap Langit, lalu perlahan ia mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Langit yang gemetar. "Aku tidak punya apa-apa lagi untuk kehilangan, Langit. Jadi, ke mana pun kamu pergi, aku akan ikut."
Di luar jendela, matahari pagi mulai terbit, namun bagi mereka berdua, ini bukanlah awal dari hari yang cerah. Ini adalah awal dari pelarian panjang yang akan menguji seberapa kuat cinta bisa bertahan di bawah Kuasa Langit yang sedang runtuh.