Pagi itu, SMA Nusantara tidak seperti biasanya. Tidak ada barisan mobil mewah yang teratur atau sapaan ramah dari petugas keamanan di gerbang depan. Sejak pukul enam pagi, gerbang sekolah elit itu sudah dikepung oleh ratusan orang tua murid yang datang dengan wajah merah padam, menggenggam ponsel mereka yang masih menampilkan notifikasi merah menyala dari aplikasi resmi sekolah.
"PEMBERITAHUAN: Dana SPP Semester Ganjil dialihkan secara ilegal ke rekening pribadi Ketua Yayasan. Total kerugian: 12 Miliar Rupiah. Klik link ini untuk bukti audit."
Notifikasi itu seperti granat yang dilemparkan ke tengah kerumunan. Tidak ada yang bisa membungkamnya. Para guru berdiri mematung di lobi, tidak tahu harus memberikan penjelasan apa, sementara kepala sekolah mengunci diri di ruangannya, menghindari amukan massa yang menuntut transparansi.
Di tengah kekacauan itu, Siska berdiri di koridor kelas 12 dengan tangan gemetar memegang ponselnya. Ia menatap kursi kosong milik Aura, lalu menatap tempat parkir motor Langit yang juga melompong.
"Gila... Langit beneran ngelakuin ini," bisik Siska tak percaya. Ia tahu, hanya satu orang di sekolah ini yang punya kemampuan dan keberanian untuk meretas sistem sekolahnya sendiri sedalam itu.
Sementara itu, di penthouse rahasia, suasana justru sunyi senyap. Aura Senja Kirana duduk di depan televisi yang menampilkan siaran langsung dari depan sekolahnya. Ia melihat kericuhan itu, melihat polisi mulai memasang garis kuning di depan kantor yayasan.
"Ini benar-benar terjadi, Langit," ucap Aura lirih. Ia menoleh ke arah Langit yang sedang berdiri di balkon, menatap jauh ke arah cakrawala kota dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Langit mematikan rokoknya, lalu melangkah masuk. "Ini baru permulaan, Aura. Ayahku punya banyak 'tikus' di pemerintahan. Dia pasti akan mencoba menghapus jejaknya dan melemparkan kesalahan ini pada orang lain. Mungkin pada kepala sekolah, atau bahkan... padaku."
"Tapi buktinya nyata! Kamu sudah menyebarkan data auditnya!"
Langit tersenyum pahit. "Di dunia nyata, kebenaran adalah milik siapa yang punya pengacara paling mahal, Aura. Tapi jangan khawatir. Aku sudah menyiapkan langkah selanjutnya."
Langit mendekati Aura, lalu berlutut di depan gadis itu. Ia mengambil tangan Aura yang dingin dan menggenggamnya erat. "Aku baru saja mendapat kabar dari Elang. Ibumu sudah aman di sebuah rumah di pinggiran Bogor. Dia sudah tahu soal toko roti itu, dan dia... dia hanya ingin kamu selamat."
Air mata Aura kembali jatuh. "Ibu tidak marah padaku?"
"Dia bangga padamu, Aura. Dia bilang, putrinya tidak boleh tunduk pada orang jahat," bisik Langit sambil mengusap air mata Aura dengan ibu jarinya.
Tiba-tiba, suara sirene polisi terdengar dari bawah gedung apartemen. Langit seketika menegang. Ia berlari menuju layar monitor keamanan. Di sana, terlihat tiga mobil patroli dan dua mobil hitam tanpa plat nomor masuk ke area basemen.
"Mereka menemukan kita?" Aura bertanya dengan suara yang melengking karena takut.
"Sistem keamanan biometrikku ditembus dari pusat. Ayah pasti menggunakan koneksinya di kepolisian untuk melacak koordinat IP terakhirku," geram Langit. Ia segera menyambar jaketnya dan meraih tas berisi laptop serta dokumen penting.
"Kita harus pergi sekarang!" Langit menarik tangan Aura.
"Lewat mana? Mereka sudah ada di bawah!"
Langit tidak menjawab. Ia menarik Aura menuju ke arah dapur, mendorong sebuah lemari kayu besar yang ternyata menyembunyikan sebuah pintu kecil yang terbuat dari besi baja. "Jalur evakuasi darurat. Ini langsung menuju ke lift barang di belakang gedung."
Mereka berlari menuruni tangga darurat yang sempit dan remang-remang. Detak jantung Aura terasa seperti genderang perang yang bertalu-talu. Di belakang mereka, terdengar suara pintu utama apartemen yang didobrak paksa.
BRAAAKKK!
"Geledah setiap sudut! Jangan biarkan Tuan Muda Langit kabur!" suara teriakan itu terdengar menggema hingga ke lorong tangga.
Langit menarik Aura masuk ke dalam lift barang yang bergerak lambat ke bawah. Di dalam ruang sempit itu, oksigen seolah menipis. Aura bisa merasakan keringat dingin Langit yang menetes ke tangannya.
"Langit... apa kita akan tertangkap?" bisik Aura.
Langit menatap Aura, lalu tiba-tiba ia menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Ia mencium kening Aura dengan sangat lama. "Tidak akan. Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu. Jika keadaan memburuk, aku ingin kamu lari lewat pintu samping basemen. Elang sudah menunggu dengan mobil lain di sana."
"Lalu kamu?"
"Aku harus mengalihkan perhatian mereka," jawab Langit dingin.
"Nggak! Aku nggak mau tinggalin kamu!" Aura memeluk Langit lebih erat. "Kita mulai ini bareng-bareng, kita harus selesaiin ini bareng-bareng juga!"
Pintu lift terbuka di lantai basemen dua yang gelap dan lembap. Suara langkah kaki sepatu lars mulai terdengar dari arah lift utama. Langit melihat sebuah mobil jeep hitam yang mesinnya sudah menyala di ujung lorong. Itu mobil Bimo.
"Cepat masuk ke sana!" perintah Langit.
Namun, sebelum mereka sampai ke mobil, dua orang pria berjas hitam muncul dari balik pilar beton. Mereka memegang senjata api yang diarahkan langsung ke arah Langit.
"Tuan Muda Langit, mohon jangan melawan. Tuan Arkantara ingin bicara secara pribadi di kediaman utama," ucap salah satu pria itu dengan nada tenang yang mengerikan.
Langit melindungi Aura di belakang punggungnya. Matanya berkilat penuh dendam. "Bicara secara pribadi? Atau ingin menghapus saksi kunci?"
"Jangan memaksa kami menggunakan kekerasan di depan Nona Aura," ancam pria itu lagi.
Tepat saat itu, Bimo menginjak gas mobil jeep-nya dengan kencang, melakukan atraksi gila dengan menabrakkan bagian belakang mobil ke arah pilar untuk menciptakan kepulan debu dan suara gaduh.
"SEKARANG, LANGIT! LARI!" teriak Bimo dari dalam mobil.
Dalam kekacauan suara ban yang berdecit dan kepulan asap, Langit menarik Aura masuk ke dalam mobil Bimo. Peluru sempat dilepaskan dan mengenai kaca belakang mobil, namun untungnya kaca itu anti-peluru. Bimo memacu kendaraannya keluar dari basemen dengan kecepatan tinggi, menabrak palang parkir hingga patah.
Mereka melesat keluar ke jalanan raya Jakarta yang padat. Di belakang, dua mobil hitam terus membuntuti dengan jarak yang sangat dekat.
"Ke mana kita, Langit?" tanya Bimo sambil memutar kemudi dengan lihai.
Langit menoleh ke arah Aura yang pucat pasi, lalu menatap ke arah flashdisk yang ia genggam erat. "Ke kantor pusat Media Televisi Nasional. Kita tidak bisa bersembunyi lagi. Jika kita ingin menang, kita harus membuat seluruh dunia menonton apa yang akan kita lakukan selanjutnya."
Aura menatap Langit. Di tengah kejaran maut itu, ia menyadari bahwa Langit Arkantara Semesta bukan lagi sekadar bad boy sekolah. Dia adalah seorang pemberontak yang sedang membakar jembatannya sendiri demi sebuah keadilan—dan demi dirinya.
"Siap untuk menjadi berita utama malam ini, Aura?" tanya Langit sambil menggenggam tangan Aura.
Aura mengangguk mantap. "Siap, Langit."
Di atas sana, awan mendung mulai menutupi langit Jakarta, seolah bersiap menyambut badai besar yang akan segera meledak. Kuasa Langit sedang diuji, dan malam ini, seluruh dunia akan menjadi saksinya.