Gedung Visi TV Nasional berdiri megah di pusat jantung kota, dikelilingi oleh pagar besi tinggi dan penjagaan yang sangat ketat. Namun malam ini, kemegahan itu terasa mencekam. Saat mobil jeep hitam yang dikendarai Bimo mengerem mendadak tepat di depan lobi utama, dua mobil hitam pengejar mereka juga berhenti hanya beberapa meter di belakang.
"Cepat turun! Aku akan menahan mereka di sini!" teriak Bimo sambil mencabut sebuah kunci besi dari bawah kursinya.
Langit tidak membuang waktu. Ia menyambar tangan Aura dan menariknya keluar dari mobil. Mereka berlari menaiki anak tangga lobi tepat saat pintu-pintu mobil pengejar terbuka dan pria-pria berjas hitam mulai berhamburan keluar.
"Tuan Muda Langit! Berhenti!" teriakan itu menggema, namun Langit tetap memacu langkahnya.
Di dalam lobi, petugas keamanan tampak bingung melihat sosok Langit yang berantakan—bibir pecah, kemeja ternoda darah, dan ekspresi yang begitu liar. Namun, begitu mereka mengenali wajah pewaris tunggal keluarga Arkantara itu, tak ada yang berani menghalangi jalannya.
"Panggil produser berita utama sekarang! Katakan Langit Arkantara punya bom yang akan meledakkan seluruh negeri dalam sepuluh menit!" teriak Langit kepada resepsionis yang mematung.
Aura hanya bisa mengikuti langkah panjang Langit. Jantungnya terasa seperti hendak melompat keluar dari tenggorokan. Ia melihat ke arah pintu kaca lobi; Bimo sedang terlibat perkelahian sengit di luar untuk menghambat orang-orang suruhan Tuan Arkantara agar tidak masuk.
"Langit... Bimo di luar..." Aura berbisik ketakutan.
"Dia pria yang kuat, Aura. Kita harus fokus pada tugas kita," jawab Langit tanpa menoleh. Ia menekan tombol lift menuju lantai lima—studio berita prime time.
Di lantai lima, suasana ruang redaksi yang biasanya sibuk mendadak hening saat Langit dan Aura masuk. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian formal—sang produser eksekutif bernama Sarah—melangkah maju dengan kening berkerut.
"Langit? Apa yang sedang kamu lakukan? Ayahmu baru saja menelepon kantor pusat dan—"
"Lupakan telepon ayahku, Kak Sarah," potong Langit tajam. Ia mengacungkan flashdisk hitam di tangannya. "Di dalam sini ada bukti korupsi dana yayasan, pemalsuan pajak, dan sabotase fisik berupa pembakaran pemukiman warga semalam. Ayahku mencoba melenyapkan saksi kuncinya, dan dia ada di sampingku sekarang."
Langit menarik Aura ke depan. Aura menunduk, matanya yang sembap dan kaos hitam kebesaran yang ia pakai menceritakan lebih banyak hal daripada kata-kata.
Sarah tertegun. Sebagai jurnalis senior, ia mencium adanya berita terbesar dekade ini. Namun, ia juga tahu risiko berurusan dengan keluarga Arkantara. "Langit, jika aku menyiarkan ini tanpa verifikasi hukum..."
"Tidak ada waktu untuk verifikasi hukum jika saksinya mati malam ini juga!" bentak Langit. "Lihat ke bawah! Polisi dan orang-orang suruhan ayahku sudah mengepung gedung ini. Jika kalian tidak menyiarkannya secara langsung sekarang, mereka akan mengambil data ini dan menghapusnya selamanya. Pilihan ada di tanganmu, Kak. Ingin menjadi jurnalis sejati atau menjadi b***k keluarga Arkantara?"
Sarah terdiam. Ia menatap Aura, lalu menatap Langit yang berdiri dengan posisi melindungi. Di luar studio, suara gaduh mulai terdengar—suara langkah sepatu lars yang menaiki tangga darurat.
"Masuk ke studio dua. Sekarang!" perintah Sarah tiba-tiba kepada krunya. "Kita akan melakukan breaking news dalam tiga menit! Siapkan tim siaran langsung!"
Aura didorong masuk ke dalam studio yang dingin dan penuh dengan peralatan kamera raksasa. Ia dipasangi mikrofon kecil di bajunya. Ia duduk di kursi tinggi di samping Langit, di depan latar belakang layar digital yang bertuliskan Berita Terkini.
"Hitung mundur dalam sepuluh... sembilan..." suara kru terdengar lewat headset.
Langit menggenggam tangan Aura di bawah meja studio. Tangannya hangat, memberikan sedikit ketenangan di tengah badai yang sedang berlangsung. "Bicaralah yang jujur, Aura. Ceritakan tentang toko roti itu. Ceritakan tentang beasiswamu. Jangan takut, seluruh rakyat Indonesia sedang menonton."
"Tiga... dua... satu... ON AIR!"
Lampu merah di atas kamera menyala. Di jutaan layar televisi di seluruh Indonesia, wajah Langit Arkantara dan Aura Senja Kirana muncul secara mendadak, memotong acara sinetron populer.
"Selamat malam, Indonesia," suara Langit terdengar sangat tenang namun bergetar dengan emosi yang mendalam. "Nama saya Langit Arkantara Semesta. Malam ini, saya berdiri di sini bukan sebagai putra mahkota keluarga Arkantara, melainkan sebagai saksi dari kejahatan yang dilakukan oleh ayah saya sendiri, Tuan Arkantara."
Langit mulai memaparkan data-data audit yang muncul di layar di belakang mereka. Ia menjelaskan bagaimana dana pendidikan ribuan siswa disalahgunakan untuk kepentingan pribadi. Namun, momen paling menyesakkan adalah saat kamera menyorot wajah Aura.
Aura menarik napas panjang, menatap langsung ke lensa kamera dengan mata yang berkaca-kaca. "Nama saya Aura Senja Kirana. Saya hanya seorang siswi beasiswa yang ingin sekolah untuk membantu ibu saya. Tapi semalam... toko roti kecil milik ibu saya dibakar habis karena saya menolak untuk diam. Saya kehilangan segalanya dalam satu malam karena kekuasaan yang disalahgunakan."
Suara Aura bergetar, namun ia tidak berhenti. "Jika hukum di negeri ini bisa dibeli dengan uang keluarga Arkantara, maka saya memohon kepada kalian, rakyat Indonesia, untuk menjadi hakim bagi kami malam ini."
Di luar studio, suara dobrakan pintu terdengar sangat keras. Polisi dan pria-pria berjas hitam berhasil menembus keamanan lantai lima. Sarah dan beberapa kru mencoba menahan pintu studio agar tidak terbuka.
"Langit! Mereka masuk!" teriak Sarah dari balik pintu.
Langit tetap tenang di depan kamera. Ia mengambil flashdisk itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi. "Data ini sudah terkirim ke server publik yang tidak bisa dihapus. Siapa pun yang mencoba menangkap kami malam ini, kalian hanya akan membuktikan bahwa apa yang kami katakan adalah kebenaran!"
BRAAAKKK!
Pintu studio pecah. Sekelompok pria berseragam polisi dan pengawal pribadi masuk dengan senjata teracung. Kamera masih terus merekam, menyiarkan adegan dramatis itu secara langsung ke seluruh pelosok negeri.
"Tuan Muda Langit, letakkan flashdisk itu dan ikut kami!" teriak seorang komandan polisi.
Langit berdiri, ia menarik Aura agar tetap berada di belakangnya. Ia menatap tajam ke arah kamera yang masih menyala. "Lihatlah, Indonesia! Inilah cara mereka membungkam kebenaran!"
Tiba-tiba, dari arah belakang kerumunan polisi, muncul sosok Tuan Arkantara. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat sangat mengerikan, dipenuhi urat-urat kemarahan. Ia melangkah maju, menatap putranya dengan kebencian yang murni.
"Kamu sudah menghancurkan segalanya, Langit," desis Tuan Arkantara, tidak peduli lagi bahwa jutaan orang sedang menontonnya melalui kamera yang masih on air. "Kamu menghancurkan warisanmu sendiri demi seorang gadis sampah!"
"Warisan yang dibangun di atas penderitaan orang lain bukanlah warisan, Yah. Itu adalah kutukan," balas Langit dengan suara yang sangat mantap.
Tuan Arkantara memberi kode kepada anak buahnya untuk bergerak. Namun, tepat saat mereka hendak menyergap, suara riuh terdengar dari arah lobi bawah yang terhubung dengan interkom gedung. Ribuan massa—warga sekitar, mahasiswa, dan orang tua murid yang tadi mengepung sekolah—kini mulai merangsek masuk ke gedung TV untuk melindungi Langit dan Aura.
"KAMI BERSAMA AURA! KAMI BERSAMA LANGIT!" teriakan massa itu menggema hingga ke dalam studio, membuat para polisi ragu untuk bertindak.
Langit menyeringai tipis. Ia menoleh ke arah Aura dan membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh gadis itu. "Senja tidak akan pernah hilang, Aura. Karena Langit akan selalu ada untuk menjaganya."
Kamera tiba-tiba mati saat kabel listrik dicabut secara paksa oleh salah satu pengawal, namun pesan itu sudah sampai. Seluruh negeri kini mendidih. Malam yang panjang baru saja dimulai, dan di tengah kepungan senjata, Langit dan Aura berdiri tegak, siap menghadapi apa pun akhir dari pertempuran ini.