Pagi ini harusnya aku cuma ngopi sambil scroll t****k, bukan duduk di meja makan besar bareng Papa dan Mama yang wajahnya tegang kayak lagi sidang kabinet.
“Papa mau ngomong serius,” kata Papa, dengan nada khasnya yang bikin siapa pun langsung tegak.
Serius? Biasanya kalau Papa bilang “serius”, entah mobilku yang disalahin, entah aku dituduh ngabisin saldo Mama di marketplace. Tapi kali ini… entah kenapa jantungku berdegup agak aneh.
Aku meletakkan sendok perlahan. “Kalau ini tentang saldo Mama yang tiba-tiba minus, aku bisa jelaskan”
Bukan, Nayla.”
Mama menatapku dengan tatapan campuran antara gugup dan haru. “Ini tentang masa depanmu.”
Masa depanku? Oke, ini mulai terdengar seperti kalimat pembuka sinetron jam tujuh malam.
“Papa sudah bicara sama keluarga Pak Drajat,” lanjut Papa. “Kamu ingat, rekan bisnis Papa yang punya resort di Kaliurang?”
Aku mengangguk pelan.
“Ya, kenapa?”
Papa menarik napas panjang, dan dari ekspresi itu aku tahu, kalimat selanjutnya pasti tidak akan menyenangkan.
“Kamu dijodohkan dengan anaknya.”
Aku sempat terdiam lima detik penuh.
Lalu aku tertawa.
Bukan tawa bahagia, tapi tawa absurd. “Papa bercanda, kan?”
Tidak ada yang tertawa balik. Bahkan kucing peliharaan di bawah meja pun seperti ikut menatapku iba.
“Papa… ini tahun berapa sih? 2025, bukan 1825!” seruku dengan nada tinggi. “Jodoh dijemput pake notifikasi, bukan surat bisnis!”
Papa menatapku tenang tapi tegas. “Papa tahu kamu nggak akan langsung setuju. Tapi ini penting untuk hubungan keluarga kita.”
Aku menatap Mama, berharap dia jadi pihak yang waras. Tapi Mama malah tersenyum lembut dan menggenggam tanganku.
“Nayla, Papa dan Mama cuma ingin kamu bahagia. Rangga itu anak yang baik. Dia sopan, cerdas, dan”
“Dan?” potongku cepat.
“Dan calon suami yang ideal,” jawab Mama sambil menatap ke arah Papa seolah minta dukungan.
Calon suami. Kata itu menggema di kepalaku.
Aku? Dijodohkan dengan pria yang bahkan aku belum pernah lihat mukanya?
Sore harinya, aku masih belum bisa move on dari pagi absurd itu.
Aku duduk di kafe favorit di Gejayan, menatap cappuccino-ku yang mulai dingin. Di depanku, sahabatku, Dinda, memandangi wajahku seperti sedang menonton reality show gratis.
“Jadi… kamu dijodohkan?”
Aku mengangguk lesu.
“Dan kamu belum pernah ketemu orangnya?”
“Belum. Papa bilang besok malam aku harus makan malam bareng dia di restoran hotel, biar ‘kenal lebih dulu.’”
Aku menirukan gaya bicara Papa dengan nada rendah, lalu memutar mataku.
Dinda menahan tawa. “Gila, Nay. Kamu kayak lagi ikut acara Take Me Out versi keluarga konglomerat.”
Aku memegangi kepala. “Dinda, aku tuh baru naik jabatan, baru mau nikmatin hidup. Eh, malah disodorin suami kayak bonus paket internet.”
Dinda ngakak.
“Aduh, kalau suaminya cakep sih nggak apa—”
“Kalau dia kayak dosenku yang killer, gimana?” potongku cepat.
“Yang ngasih nilai C+ cuma karena aku nanya dua kali?”
“Ya udah, kamu bales aja kasih nilai D buat hubungannya,” jawab Dinda sambil menepuk pundakku.
Humornya nggak membantu, tapi setidaknya aku sedikit bisa tertawa.
*
Keesokan malamnya, aku benar-benar berdiri di depan restoran mewah di Jalan Malioboro, pakai dress sederhana warna biru muda pilihan Mama.
Katanya, “Biar Rangga tahu kamu elegan tapi nggak berlebihan.”
Aku menarik napas dalam.
Oke, Nayla. Ini cuma makan malam. Bukan lamaran. Belum tentu juga cowoknya mau.
Aku melangkah masuk. Restoran itu remang, tapi nyaman. Aroma steak dan jazz lembut mengisi udara.
Seorang pelayan menuntunku ke meja pojok dekat jendela besar. Di sana duduk seorang pria.
Dari jauh, aku hanya bisa melihat dia rapi banget. Jas hitam, kemeja putih, duduk tegak dengan wajah serius.
“Selamat malam, Mbak. Ini meja untuk pertemuan keluarga Drajat dan keluarga Susanto, betul?” tanya pelayan.
Aku mengangguk.
Dan saat pria itu menoleh…
Oke. Dunia berhenti sepersekian detik.
Dia tampan. Bukan yang manis, tapi tipe dingin dan tenang seperti karakter utama drama Korea yang susah tersenyum tapi sekali senyum bisa bikin chaos.
Tapi sayangnya, ekspresinya saat melihatku tidak ramah.
Sama sekali tidak.
“Oh, jadi kamu Nayla,” katanya datar.
Nada suaranya bariton, dalam, tapi dingin kayak es batu.
Aku tersenyum canggung. “Dan kamu pasti… Rangga?”
“Ya.”
Dia menatapku sejenak, lalu kembali fokus ke menunya.
Wow.
Ini bahkan belum lima detik, dan aku sudah pengen balik.
Aku duduk perlahan. “Eh, kamu sering makan di sini?”
“Kadang,” jawabnya tanpa menatap. “Restoran ini punya Papa.”
Aku terdiam, nyengir kikuk. “Oh. Ya, bagus… banget restorannya.”
Dia hanya mengangguk tipis.
Aku berusaha memulai obrolan lain. “Jadi, kamu setuju dijodohin juga?”
Kali ini dia menatapku, dan matanya menembus tenang tapi tajam.
“Setuju bukan kata yang tepat. Tapi aku nggak punya alasan menolak.”
Aku mengerutkan kening. “Jadi kamu terima aja begitu aja? Nikah karena… bisnis?”
Dia meneguk air putihnya pelan. “Kalau itu bisa membuat orang tua bahagia, kenapa tidak?”
Aku nyaris kelepasan tertawa sinis, tapi kutahan.
“Wah, keren banget ya. Kamu kayak poster anak berbakti.”
Dia menatapku dingin, tapi ada sedikit senyum samar di ujung bibirnya.
“Mungkin kamu yang terlalu emosional.”
Aku menatapnya tajam. “Atau kamu yang terlalu dingin.”
Hening sesaat.
Lalu entah kenapa, dia tertawa kecil.
Pertama kalinya aku dengar suaranya tidak datar. Dan anehnya… tawanya enak didengar.
“Mungkin kita berdua terlalu berbeda,” katanya akhirnya.
Aku menghela napas. “Bagus, berarti kita sepakat. Gimana kalau kita sama-sama bilang ke orang tua kita kalau ini nggak perlu dilanjut?”
Dia menatapku lama, matanya sulit dibaca.
“Sayangnya, aku nggak bisa. Aku sudah berjanji.”
Aku menatapnya tak percaya. “Serius?”
“Serius,” jawabnya tenang. “Dan sepertinya Papa kamu juga sudah menentukan tanggal.”
Jantungku seperti berhenti berdetak sejenak.
“Tanggal apa?”
“Pernikahan.”
Aku mematung. “Kamu bercanda.”
Dia menggeleng pelan. “Aku tidak pandai bercanda, Nayla.”
Aku pulang dengan kepala penuh kata-kata yang berputar tanpa arah.
Pernikahan? Aku bahkan baru kenal dia dua jam yang lalu!
Di kamar, aku langsung menyalakan laptop dan mengetik di jurnal pribadiku.
Catatan Istri (Calon Istri) Terpaksa #1:
Dunia memang lucu.
Aku belajar empat tahun buat dapat gelar S2, tapi nggak ada satu pun mata kuliah yang ngajarin gimana cara kabur dari perjodohan.
Kucetak “Rangga” dengan huruf besar di halaman berikutnya.
“Baiklah, Tuan Dingin. Kalau ini perang, aku nggak akan kalah.”
Aku menatap layar laptopku lama.
Kata-kata di jurnal itu seolah menggema balik ke d**a.
Mungkin aku nggak tahu seperti apa masa depan yang nunggu di depan sana.
Tapi satu hal aku tahu pasti
Kalau aku benar-benar harus menikah dengan Rangga,
maka aku akan pastikan...
cinta bukan satu-satunya hal yang membuatku kalah.