Pagi di Jogja biasanya terasa tenang. Tapi pagi ini, aku bangun dengan kepala berdenyut, perut melilit, dan pikiran yang lebih rumit dari soal skripsi.
Bukan karena aku sakit. Tapi karena Papa baru saja mengetuk pintu kamarku jam tujuh pagi dengan kalimat yang bikin sarafku kejang.
“Nayla, siap-siap ya. Jam sepuluh keluarga Rangga mau datang ke rumah.”
Aku sempat menatap cermin dan berharap ini mimpi. Tapi sayangnya, wajah belepotan masker tidur ini nyata.
Aku menarik napas dalam. “Papa… aku baru ketemu dia semalam.”
Papa hanya menjawab ringan, “Bagus. Jadi sekarang bisa kenalan sama keluarganya.”
Kenalan?
Dengan keluarga calon suami yang bahkan belum aku setujui?
Oke, semesta, kamu serius banget bercandanya.
Dua jam kemudian, ruang tamu rumahku disulap jadi tempat rapat keluarga. Mama sibuk mengatur kue kering, Papa sibuk memastikan AC hidup, dan aku sibuk… mengatur detak jantung yang makin tidak stabil.
Aku duduk di kursi panjang, pakai dress putih polos yang Mama pilihkan.
“Biar kelihatan sopan tapi tetap cantik,” katanya.
Padahal aku lebih merasa seperti peserta audisi menantu ideal.
Belum lama aku sempat melamun, suara mobil berhenti di depan pagar.
Dan di situlah, mereka datang.
Keluarga Drajat.
Tiga mobil berjejer, turunlah beberapa orang dengan penampilan rapi seperti adegan pembuka sinetron kaya raya.
Dan tentu saja, di antara mereka…
Rangga.
Dia tetap dengan wajah tenang, jas abu-abu muda, rambut tersisir rapi, dan ekspresi yang sama seperti semalam: datar tapi entah kenapa… mencuri fokus.
Aku benci mengakuinya.
Mama langsung menyambut hangat. “Selamat datang, Bu Drajat, Pak Drajat! Silakan masuk, wah senangnya bisa kumpul.”
Aku ikut berdiri, pura-pura sopan.
Dan begitu mata kami bertemu, Rangga menatapku sekilas, hanya sekilas, tapi cukup untuk bikin perutku seperti dikocok blender.
Aku cepat-cepat menunduk dan duduk lagi.
Percakapan keluarga berjalan hangat… untuk mereka.
Untukku, ini seperti menonton film yang aku benci tapi nggak bisa skip.
Pak Drajat bicara dengan Papa soal kerja sama resort baru di Kaliurang, sementara Bu Drajat memuji betapa “anggun” aku.
Aku cuma bisa tersenyum kaku.
Kalau ada tombol “keluar dari percakapan”, aku udah tekan dari tadi.
Dan Rangga?
Dia duduk di seberangku, diam. Tangannya sesekali merapikan jam tangan, tapi matanya sesekali melirikku dengan pandangan datar.
Aku beneran nggak ngerti dia ini manusia atau robot?
Lalu tiba-tiba, Papa membuka topik yang membuatku hampir tersedak teh.
“Jadi, kalau tidak ada halangan… kami setuju kalau pernikahan dilaksanakan bulan depan.”
Aku spontan menoleh, nyaris menjatuhkan cangkir.
“Apa?!”
Semua mata langsung ke arahku.
Hebat. Nayla dan panggung dramanya.
Aku berdeham, mencoba tertawa. “Maksudku… bulan depan? Cepat sekali, ya. Aku pikir masih proses kenalan.”
Papa menatapku menenangkan, tapi jelas-jelas peringatannya tertulis di matanya: Jangan bikin malu keluarga.
Bu Drajat tersenyum lembut. “Tidak apa-apa, Nak Nayla. Rangga anaknya juga sibuk, jadi lebih cepat lebih baik, biar bisa langsung menyesuaikan.”
“Menyesuaikan apa, Bu?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku.
“Menyesuaikan kehidupan baru,” jawabnya dengan senyum keibuan yang hangat tapi bikin dadaku sesak.
Aku menoleh ke Rangga, mencari sekutu. Tapi dia cuma menatap Papa dan berkata,
“Saya setuju, Pak. Bulan depan tidak masalah.”
Aku nyaris menjatuhkan napas.
Dia serius? Serius banget?
Aku menatapnya tajam, berharap tatapanku bisa menyalakan alarm di otaknya. Tapi dia tetap tenang, seolah ini cuma pertemuan bisnis kecil.
Setelah sesi basa-basi panjang, para orang tua pindah ke taman belakang buat makan siang.
Dan aku, terjebak sendirian bersama Rangga di ruang tamu.
Suasana hening.
Cuma terdengar suara burung di luar dan detik jam dinding.
Aku akhirnya bicara duluan. “Kamu gila, ya?”
Nada suaraku rendah tapi tajam. “Kamu setuju aja begitu?”
Dia menatapku tenang. “Aku cuma menghormati keputusan orang tua.”
“Keputusan? Itu hidup kita, Rangga, bukan proyek perusahaan.”
“Bisa jadi keduanya,” jawabnya ringan, meneguk teh.
Aku menatapnya tak percaya. “Kamu tahu nggak, aku bahkan nggak tahu kamu suka film apa, makanan apa, bahkan kamu alergi apa!”
Dia menatapku lama, seolah menimbang sesuatu, lalu berkata pelan,
“Aku nggak suka seafood. Aku suka kopi hitam tanpa gula. Aku nggak tahan kebisingan, dan aku benci orang yang terlalu reaktif.”
Aku mematung.
Dia melanjutkan, nada suaranya datar tapi menyentuh.
“Dan kamu, Nayla, tampaknya termasuk yang terakhir.”
Aku terdiam, antara ingin marah dan tertawa.
“Jadi aku ini contoh buruk buat kamu?”
Cuma beda. Tapi bukan berarti buruk.”
Kata itu menancap aneh di dadaku.
Untuk pertama kalinya, dia menatapku lama dan ada sesuatu di matanya.
Bukan dingin, bukan datar. Lebih seperti… kelelahan.
Sesuatu yang belum sempat dia ceritakan.
Tapi tentu saja, egoku menolak melunak.
Aku bersandar dan berkata sinis, “Terima kasih atas psikologinya, Dokter Rangga. Tapi aku masih nggak mau nikah bulan depan.”
Dia mengangguk pelan. “Kamu boleh nggak mau. Tapi keluarga kita sudah sepakat. Kalau kamu mau menolak, bilang langsung di depan mereka.”
Mataku membulat. “Sekarang?”
“Sekarang,” katanya tenang.
“Kalau kamu yakin ingin melawan, aku tidak akan menghentikanmu.”
Aku menatap ke arah taman belakang.
Suara tawa Papa dan Bu Drajat terdengar samar dari luar.
Tanganku dingin, jantungku berdetak kencang.
Bagian logika di kepalaku bilang, ini kesempatanmu, Nayla.
Tapi bagian lain, entah kenapa, menahan langkahku.
Aku menghela napas, memeluk diriku sendiri. “Aku benci ini,” gumamku.
Siang menjelang sore, keluarga Drajat akhirnya pamit.
Aku berdiri di teras, mengantar mereka pergi.
Bu Drajat memelukku singkat. “Nanti, kalau sempat, Ibu ajak kamu lihat lokasi resepsi ya, Nak. Indah sekali di kaki Merapi.”
Aku cuma mengangguk kaku.
Rangga sempat menoleh sekali sebelum masuk ke mobil.
Tatapannya datar… tapi kali ini, ada sedikit senyum samar di ujung bibirnya.
Entah kenapa, senyum itu menempel di pikiranku.
Dia menatapku sebentar, lalu berkata pelan,
“Percaya atau tidak, aku juga.”
Malamnya, aku menulis lagi di jurnal.
Catatan Istri (Calon Istri) Terpaksa #2:
Aku resmi dikhianati semesta.
Calon suamiku terlalu tenang untuk dibenci, tapi terlalu dingin untuk dicintai.
Aku ingin lari, tapi entah kenapa… langkahku malah berhenti di tempat.
Aku menutup buku itu pelan.
Lalu menatap langit-langit kamar, membatin:
“Rangga, kalau ini memang permainan, kita lihat siapa yang bertahan paling lama.”
Beberapa jam setelah keluarga Rangga pulang, ponselku bergetar.
Nomor tak dikenal.
Pesan singkat masuk.
Rangga: Kamu lupa payung di restoran semalam. Aku simpan.
Aku: Serius masih kamu simpan? Aku kira kamu nggak peduli hal-hal kecil.
Rangga: Aku peduli, cuma tidak tunjukkan.
Aku: Kenapa dikasih tahu sekarang?
Rangga: Karena kamu akan butuh itu. Besok hujan.
Aku menatap layar lama, antara kesal dan… senyum kecil yang tak mau pergi.
Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya, aku berpikir:
Mungkin, justru dari perjodohan paling absurd inilah… sesuatu mulai tumbuh.