Aku pikir setelah pertemuan keluarga itu, semuanya akan reda.
Ternyata aku salah besar.
Tiga hari kemudian, sebuah paket datang ke rumah.
Bukan makanan, bukan bunga, tapi sebuah kotak besar berisi undangan pernikahan.
Undangan.
Dengan namaku di atasnya.
Dan nama Rangga.
Aku menatapnya lama, berharap huruf-huruf itu tiba-tiba menghilang. Tapi sayangnya, tinta emasnya tetap berkilau menertawakan nasibku.
Wah, cantik sekali ya,” kata Mama dengan wajah berbinar. “Kamu lihat, Nay? Font-nya elegan banget!”
Aku masih diam.
Papa menyambung, “Keluarga Drajat memang cepat dan rapi. Semua sudah mereka urus.”
Cepat dan rapi, katanya.
Ya, tentu saja cepat. Bahkan sebelum aku sempat memproses trauma makan malam pertama, undangan pernikahan sudah kelar cetak.
Aku menatap Papa. “Jadi... semuanya udah fix?”
Papa menatap balik, senyum kecil di wajahnya. “Iya, Nak. Kamu tinggal mempersiapkan diri.”
Aku menarik napas panjang.
Mempersiapkan diri untuk apa? Untuk menyerahkan hidupku ke laki-laki yang bahkan belum pernah aku lihat tertawa lepas?
Siang itu, aku kabur ke kafe langganan di Gejayan lagi.
Dinda sudah duduk di pojokan, memesan dua gelas kopi seperti biasa.
Begitu aku datang, dia langsung menyipit curiga.
“Wajahmu kayak orang abis dikasih surat tilang.”
Aku menghempaskan undangan di meja. “Bukan tilang. Undangan pernikahan.”
Dia menatap benda itu, lalu menatapku. “Kamu serius?”
“Sayangnya, iya.”
Aku menunjuk tulisan di kertas itu dengan nada getir. “Lihat, ‘Nayla Ayuningtyas & Rangga Drajat akan melangsungkan pernikahan di Kaliurang tanggal 23 Mei.’ Itu dua minggu lagi, Din!”
Dinda menutup mulutnya. “Gila! Dua minggu?!”
Aku mengangguk lesu. “Kayaknya keluarga kami berkompetisi masuk rekor MURI pernikahan tercepat abad ini.”
Dia mencondongkan tubuh, suaranya merendah.
“Terus kamu mau ngapain?”
Aku menatapnya tajam.
“Din, kamu tahu aku. Aku nggak bisa cuma diam dan menerima. Aku harus punya rencana.”
“Rencana?”
“Rencana kabur,” jawabku mantap.
Rencana kaburku, tentu saja, tidak heroik seperti di drama.
Aku tidak punya jet pribadi, tidak punya paspor ganda, bahkan tabungan pun... nyaris habis gara-gara beli skincare.
Tapi aku punya tekad.
Dan tekad kadang lebih berbahaya dari logika.
Aku mulai menyusun “Operasi Kabur dari Pernikahan” di notes ponselku.
Poin pertama: Tempat persembunyian.
Pilihan jatuh ke kosan lama Dinda di belakang kampus. Tempat itu kecil, lembab, tapi aman.
Poin kedua: Alasan kabur.
Aku menulis: stress, tekanan sosial, dan sedikit alergi pada jas pengantin.
Poin ketiga: Waktu eksekusi.
Malam sebelum acara lamaran resmi diadakan.
Dinda melongo. “Kamu beneran mau kabur pas malam lamaran? Gila, Nay, itu keluarga besar loh.”
“Aku nggak peduli. Aku lebih baik jadi berita viral ‘calon pengantin kabur’ daripada jadi istri dingin kayak batu es.”
Dinda menggeleng tak percaya, tapi aku bisa lihat, dia mulai tersenyum bangga.
“Kalau gitu, aku ikut bantu. Aku yang siapin tempat persembunyian.”
“Serius, Din?”
“Serius. Tapi kamu janji satu hal.”
“Apa?”
“Kalau nanti kamu benar-benar jatuh cinta sama cowok itu, jangan nyalahin aku.”
Aku tertawa miris. “Jatuh cinta sama Rangga? Dinda, please. Aku lebih mungkin jatuh cinta sama
*
Tiga hari menjelang lamaran, rumahku berubah jadi pabrik pengantin.
Mama sibuk fitting kebaya, Papa bolak-balik nerima tamu keluarga Drajat.
Dan aku?
Aku sibuk latihan pura-pura tenang.
Setiap kali nama Rangga disebut, perutku mual.
Bukan karena benci sepenuhnya. Tapi karena aku bingung: kenapa dia bisa setenang itu menghadapi semua ini?
Aku memutuskan untuk mengirim pesan, sekadar memastikan dia juga nggak terlalu “menikmati” drama ini.
Aku: Jadi, kamu nggak keberatan dengan lamaran nanti?
Rangga: Aku nggak keberatan selama kamu hadir.
Aku: Dan kalau aku nggak hadir?
Pesan itu membuatku menggigit bibir.
Kata-katanya tidak panjang, tapi dinginnya terasa seperti ancaman lembut yang… anehnya membuat jantungku berdetak lebih cepat.
Rangga: Aku akan cari kamu.
Malam sebelum lamaran.
Rencana kaburku siap.
Tas ransel kecil sudah kupenuhi dengan baju, dompet, charger, dan satu hal paling penting: catatan jurnalku.
Aku menatap cermin, melihat bayangan diriku yang tampak... takut tapi juga berani.
Aku tersenyum kecil. “Maaf, Ma, Pa. Tapi Nayla bukan boneka.”
Dinda sudah menunggu di luar, pakai hoodie dan masker, seperti agen rahasia gagal.
“Ayo cepet! Sebelum ada yang lihat!”
Kami berlari pelan keluar rumah lewat pintu samping.
Udara malam Jogja dingin, tapi degup jantungku jauh lebih cepat.
Aku merasa hidup untuk pertama kalinya sejak kabar perjodohan itu datang.
Aku tiba di kosan Dinda.
Tempat itu sempit tapi terasa seperti surga.
Aku langsung rebah di kasur tipis dan tertawa pelan.
“Gila. Aku benar-benar kabur.”
Dinda ikut tertawa. “Kamu gila banget, Nay. Tapi aku bangga.”
Aku memejamkan mata, menikmati keheningan itu.
Sampai tiba-tiba… ponselku bergetar.
Nomor tak dikenal lagi.
Dengan tangan gemetar, aku buka pesannya.
Rangga: Kamu pikir aku nggak akan tahu kamu kabur?
Aku: Kamu nggak mungkin tahu di mana aku!
Rangga: Aku di depan kosanmu, Nayla.
Aku langsung duduk tegak.
Dinda melongo. “Apa? Siapa?”
Aku berlari ke jendela, mengintip ke luar.
Dan benar saja di bawah lampu jalan yang remang, ada mobil hitam terparkir.
Rangga keluar dari mobil, berdiri dengan tangan di saku, menatap ke arah jendela.
Aku membeku.
Dinda menatapku ngeri. “Kamu dikejar cowok drama Korea, Nay.”
Aku turun ke bawah dengan jantung nyaris copot.
Begitu keluar, Rangga sudah menungguku.
“Kenapa kamu bisa tahu aku di sini?” tanyaku, setengah marah, setengah panik.
Dia menatapku datar. “Kamu lupa, Dinda update story. Aku lihat bayanganmu di belakang.”
Aku menatap Dinda dari jauh.
Astaga. Kena juga.
“Aku cuma butuh waktu!” seruku.
Dia menatapku lama, lalu berkata pelan, “Aku nggak marah kamu kabur. Aku cuma ingin tahu... kamu mau sampai kapan lari?”
Aku terdiam.
Dia melangkah mendekat, jarak kami tinggal satu langkah.
“Aku tahu kamu nggak mau pernikahan ini. Aku juga nggak mau seperti ini, Nayla. Tapi entah kenapa… aku nggak bisa berhenti memikirkan kamu sejak malam pertama kita bertemu.”
Suara itu dalam, jujur, tapi masih diselimuti dingin khas Rangga.
Aku menatapnya bingung, takut, tapi juga... tertarik.
“Aku benci kamu,” kataku pelan.
Dia tersenyum tipis. “Mungkin. Tapi kamu tetap keluar untuk menemuiku.”
Hujan mulai turun perlahan.
Aku menatap langit, lalu ke arahnya lagi.
Dia menawari payung payung yang katanya kusimpan semalam.
“Payungmu,” katanya. “Kupikir kamu akan butuh ini.”
Aku menatapnya lama, lalu akhirnya menerima.
Untuk pertama kalinya, aku tidak tahu apakah aku sedang kalah... atau baru saja memulai sesuatu.
Malam itu aku kembali ke rumah, tanpa banyak bicara.
Mama sudah tertidur, Papa sudah tenang.
Dan aku... duduk di kasur, menatap undangan di meja.
Catatan Istri (Calon Istri) Terpaksa #3:
Aku gagal kabur. Tapi mungkin, tidak semua kegagalan buruk.
Kadang, hal yang paling kita hindari... justru sedang menunggu untuk kita pahami.
Rangga bukan cuma dingin. Dia rumit. Tapi mungkin, aku juga begitu.
Aku tersenyum kecil.
Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai
Aku tidak terlalu takut lagi.