Malam ini Jogja terasa hangat tapi tegang.
Rumahku berubah jadi aula kecil yang penuh lampu gantung, bunga melati, dan tamu yang terlalu wangi.
Mama mondar-mandir sambil menegur katering, Papa sibuk memastikan semua kursi berjejer rapi, sementara aku…
berdiri di depan cermin dengan kebaya warna hijau pastel yang jujur, terlalu manis untuk hatiku yang lagi pahit.
“Seneng banget, ya, Nak,” kata Mama dari belakang. “Lihat deh, cantik banget kamu malam ini.”
Aku menatap pantulan diriku sendiri.
“Cantik, tapi terpaksa, Ma.”
Mama pura-pura nggak dengar.
“Yang penting nanti kamu senyum. Keluarga Drajat orangnya formal, tapi baik. Jangan bikin wajah tegang, ya.”
Baik, formal, dingin.
Tiga kata itu langsung bikin satu nama muncul di kepalaku: Rangga.
Jam tujuh malam, tamu mulai berdatangan.
Keluarga Rangga datang dengan mobil hitam berjejer seperti konvoi pejabat.
Rangga turun terakhir, pakai jas abu gelap, rambut disisir rapi, ekspresinya... tetap seperti biasa: datar.
Kalau dia sedikit lebih diam, mungkin orang bakal ngira dia patung taman.
Dinda, yang nekat nyusup jadi “pembantu panitia”, nyenggolku pelan dari balik tirai.
“Nay, sumpah cowokmu itu auranya CEO banget. Dingin tapi... hmm... mahal.”
Aku melotot. “Dia bukan cowokku.”
“Ya belum, tapi bentar lagi jadi.”
“Din.”
“Oke, oke. Tapi sumpah, kalau dia melamar aku, aku nggak bakal kabur.”
Aku mendesah. “Itu karena kamu belum tahu rasanya dijodohin sama batu es.”
Acara dimulai.
MC memanggil kedua keluarga untuk duduk di depan.
Mama duduk di sebelahku, Papa di seberang Rangga.
Dan di antara semua tatapan, cuma satu yang membuat perutku mual: tatapan Rangga sendiri.
Tenang, dingin, tapi tajam.
Seolah dia bisa lihat isi pikiranku yang sedang berteriak: tolong, selamatkan aku dari drama ini.
MC mulai membaca doa, lalu disusul dengan sambutan Papa.
Aku menunduk sepanjang waktu, berusaha mengatur napas.
Sampai suara Mama berbisik, “Ayo, senyum sedikit, Nak.”
Aku tersenyum atau lebih tepatnya, menarik sudut bibir seperti orang kram rahang.
Tiba giliran keluarga Rangga berbicara.
Ayahnya berdiri dengan nada berwibawa.
“Kami datang dengan niat baik untuk meminang putri Bapak dan Ibu, Nayla Ayuningtyas, untuk putra kami, Rangga Drajat.”
Semua tepuk tangan.
Kecuali aku.
Dan Rangga, tentu saja.
Dia hanya menatap lurus ke depan, sama sekali tanpa emosi.
Sampai aku berbisik pelan, “Kamu kelihatan kayak mau rapat, bukan lamaran.”
Dia menoleh sedikit. “Dan kamu kelihatan kayak mau kabur.”
Aku menatapnya tajam. “Masih bisa, tahu.”
Sudut bibirnya naik sedikit entah senyum, entah refleks. Tapi cukup membuat jantungku berdetak tidak normal.
Tepat saat acara mulai terasa tenang…
petaka dimulai.
Kue besar di meja utama yang katanya dipesan dari pastry ternama di Malioboro tiba-tiba miring.
Seorang panitia teriak kecil, berusaha menahan nampan, tapi terlambat.
Praaak!
Seluruh topping meluncur seperti longsor ke lantai, menimpa taplak putih dan... sepatu Rangga.
Suasana hening seketika.
Semua mata menatap ke arah kue malang itu.
Dan aku... mencoba keras menahan tawa.
Dinda di pojok ruangan sudah hampir kejang nahan ngakak.
Rangga menatap sepatunya, lalu pelan-pelan mengangkat pandangan ke arahku.
Aku menutup mulut, tapi suara “khhh” kecil terlepas juga.
Dia menarik napas panjang. “Lucu?”
Aku cepat-cepat menunduk. “Enggak.”
“Kelihatannya lucu.”
Aku menggigit bibir, menunduk lebih dalam. “Mungkin dikit.”
Mama buru-buru berdiri. “Maaf ya, Pak, Mbak, Mas Rangga ini kecelakaan kecil.”
Tapi “kecelakaan kecil” itu jadi besar saat si katering panik bawa nampan lain, tersandung kabel mic, dan...
brak!
Satu toples puding meluncur ke arahku dan
kena d**a kebayaku.
Dingin. Lengket. Dan jelas, memalukan.
Aku menatap noda cokelat di bajuku.
Semua orang terkejut.
Dan yang pertama kali bergerak adalah… Rangga.
Tanpa bicara, dia melepas jasnya, berdiri, dan menutup tubuhku dengan itu.
Gerakannya cepat, tegas, tapi halus.
Ruangan jadi hening.
Mama memegang dadanya lega.
Papa cuma mengangguk.
Dan aku... tak tahu harus ke mana menatap.
“Terima kasih,” bisikku pelan.
Dia menunduk sedikit. “Kali ini, aku nggak bisa diam saja.”
Aku menatap wajahnya.
Dingin, tapi entah kenapa... ada sesuatu di balik tatapan itu.
Sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Sementara panitia sibuk membersihkan meja, MC mencoba mengalihkan suasana.
“Baik, sambil menunggu, kita dengarkan sedikit musik, ya…”
Tapi musisi yang disewa rupanya salah cue, dan memutar lagu dangdut remix versi DJ Tugu Jogja.
Seketika, semua orang kaget.
Keluarga Rangga yang super formal itu bengong, sementara Dinda langsung menari kecil di pojok.
Aku menutup wajahku. “Astaga... aku pengen lenyap.”
Rangga menatap ke arah musisi, lalu ke arahku.
“Apa ini bagian dari rencanamu?”
Aku menatapnya cepat. “Kamu pikir aku se-absurd itu?”
Dia mengangkat alis. “Sampai sekarang, belum ada bukti sebaliknya.”
Tepat saat situasi mulai mereda, salah satu tanteku yang bawel maju ke depan.
“Nayla, Rangga, ayo foto berdua dulu! Biar keluarga punya dokumentasi!”
Aku menelan ludah.
Rangga berdiri, lalu menatapku. “Ayo.”
Aku berdiri pelan, masih dengan jasnya di bahuku.
Kami berdiri di depan backdrop bunga melati.
Fotografer berkata, “Sedikit lebih dekat, ya.”
Rangga diam.
Aku maju setengah langkah.
“Sedikit lagi,” kata fotografer.
Aku hampir menyentuhnya.
Lalu
Blitz!
Tiba-tiba salah satu lampu sorot jatuh dari atas panggung kecil, membuatku kaget dan secara refleks melangkah mundur eh, salah, bukan mundur.
Aku justru terpeleset sedikit, dan...
Aku tidak sempat berpikir.
Semuanya terjadi cepat lampu jatuh, tamu berteriak, dan aku, dalam usaha menyelamatkan diri dari tragedi cahaya itu, malah kehilangan keseimbangan.
Rangga spontan menoleh.
Refleks, tangannya menangkap bahuku. Tapi langkahku yang panik justru membuat kami sama-sama jatuh.
Semuanya terasa seperti adegan slow motion.
Aku sempat melihat wajahnya begitu dekat, mata abu gelapnya yang biasanya dingin tiba-tiba membesar kaget, lalu...
dug!
Dunia berhenti sesaat.
Hidungku menabrak dagunya, bibir kami bersentuhan sekilas hanya sepersekian detik, tapi cukup untuk membuat seluruh ruangan membeku.
Sunyi.
Begitu sunyi sampai aku bisa mendengar degup jantungku sendiri.
Aku terpaku, wajahku menempel di d**a Rangga.
Rangga menatap langit-langit, seperti sedang mempertanyakan seluruh keputusan hidupnya.
Seseorang di antara tamu berseru pelan, “Eh… itu barusan… mereka…?”
Tanteku, yang memang tak punya filter, menjerit, “Astaga! Ciuman di depan keluarga?!”
Aku refleks bangkit. “Bukan! Itu kecelakaan!”
Tapi tentu saja, siapa yang percaya?
Mama menepuk dahinya, Papa pura-pura batuk keras.
Dan Dinda di pojok sana, sudah hampir jatuh dari kursi menahan tawa.
Rangga berdiri pelan, merapikan jasnya (yang sekarang melekat di pundakku).
“Sepertinya saya harus minta maaf,” katanya datar.
Aku melotot. “Kamu minta maaf karena nyium aku, atau karena semua orang lihat?”
Dia menatapku sebentar, kemudian menjawab tenang, “Dua-duanya.”
Aku ingin menghilang. Serius.
Suasana lamaran jadi kacau total.
Musisi kembali salah cue dan memutar lagu “Cinta Luar Biasa” dengan volume terlalu keras, seperti menertawakan keadaan.
Sementara panitia sibuk memperbaiki lampu yang hampir menimpa pelaminan, tamu-tamu sibuk bergosip.
“Mungkin mereka emang cocok, tuh.”
“Ih, modern banget ya, belum sah udah saling nyium.”
“Anak zaman sekarang, aduh…”
Aku menutup wajah dengan tangan.
“Rangga, aku pengen gali tanah dan ngubur diri sekarang juga.”
Dia menatapku, nada suaranya datar tapi lembut, “Kalau kamu gali, aku bantuin.”
Aku berhenti, lalu menatapnya tajam. “Itu sarkas atau bentuk solidaritas?”
Dia mengangkat alis. “Terserah kamu anggap apa.”
Ugh. Lelaki ini bisa membuatku kesal dan tersentuh di waktu yang sama.
Acara diteruskan seadanya.
MC berusaha menenangkan suasana, membacakan doa sambil tersenyum canggung.
Aku dan Rangga kembali duduk berdampingan, tapi kini jarak kami seperti jurang atau mungkin justru sebaliknya, terlalu dekat.
Sampai aku bisa mencium aroma parfum khasnya: segar, maskulin, sedikit mint.
“Maaf,” bisikku.
Rangga menoleh. “Untuk apa?”
“Untuk... semua kekacauan ini.”
Dia menatap ke depan, lalu menjawab pelan, “Kamu nggak perlu minta maaf atas hal yang bahkan aku nggak hindari.”
Aku menatapnya cepat. “Kamu nggak hindari?”
Dia mengedikkan bahu. “Kalau aku benar-benar mau menghindar, aku bisa.”
Aku membeku.
Kata-katanya menggantung di udara, samar tapi cukup membuat dadaku bergetar aneh.
Apakah itu artinya... dia memang tidak keberatan?
Setelah acara selesai, tamu-tamu mulai pamit satu per satu.
Mama sibuk mengantarkan keluarga Rangga ke pintu, Papa tertawa kecil menutupi rasa malu, dan aku ya, aku duduk memeluk lutut di kursi belakang, masih mencoba memproses bahwa aku baru saja “berciuman” di depan 60 orang.
Dinda datang menghampiri, wajahnya merah karena menahan tawa.
“Gila, Nay, sumpah ini lamaran paling epic se-Jogja Raya.”
Aku menatapnya datar. “Aku pengen kamu ikut aku ke dimensi lain dan pura-pura ini nggak pernah terjadi.”
“Yang bener aja. Justru ini bakal jadi kenangan legendaris.”
“Kenangan? Dinda, aku baru bikin Papa borderline kena darah tinggi!”
Dia mengangkat bahu santai. “Tapi, kamu sadar nggak? Rangga tadi nolong kamu tanpa mikir. Dan dia bahkan ngelindungin kamu waktu puding jatuh. Itu... sweet, lho.”
Aku mendengus. “Sweet? Itu refleks!”
Dinda menyipitkan mata. “Refleks juga butuh niat.”
Aku terdiam.
Kalimatnya terlalu dalam untuk ukuran Dinda yang biasanya cuma ngomong soal diskon skincare.
Sekitar setengah jam kemudian, keluarga Rangga pamit.
Aku berdiri di depan rumah, menatap mobil mereka yang berderet keluar halaman.
Rangga berjalan paling belakang.
Sebelum masuk mobil, dia berhenti sebentar di depanku.
“Kamu baik-baik aja?” tanyanya pendek.
Aku mengangguk cepat. “Iya. Cuma mungkin nanti aku akan pindah ke pulau terpencil.”
Dia menatapku datar. “Kalau kamu kabur, aku bakal nemuin kamu lagi.”
Aku melipat tangan di d**a. “Kamu tuh... keras kepala banget, ya.”
Dia mengangkat alis sedikit. “Dan kamu suka ngelawan.”
Kami saling tatap beberapa detik, sebelum akhirnya dia melangkah masuk ke mobil dan pergi.
Aku masih menatap lampu belakang mobil itu sampai hilang di tikungan.
Entah kenapa, d**a ini terasa aneh campuran malu, lega, dan sedikit… hangat.
Malam makin larut.
Aku masuk kamar, melepaskan kebaya yang mulai terasa berat karena noda puding.
Di cermin, wajahku masih memerah setiap kali teringat adegan “tabrakan bibir” itu.
Bukan karena romantis... tapi karena memalukan.
Tapi, kalau jujur ada bagian kecil di dalam diriku yang… tidak sepenuhnya menyesal.
Aku membuka jurnal, menulis cepat:
Catatan Istri (Calon Istri) Terpaksa #4
Malam ini aku belajar dua hal:
Jangan berdiri di bawah lampu gantung murahan.
Kadang, hal paling memalukan justru jadi awal sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Aku berhenti menulis, lalu memandangi catatan itu lama.
Senyum kecil muncul tanpa sengaja.
“Aku benci perjodohan ini,” gumamku pelan. “Tapi aku nggak bisa benci semuanya.”
*
Keesokan paginya, Mama mengetuk pintu kamarku sambil membawa koran.
“Naylaaa!”
“Apa, Ma?”
Mama masuk dengan wajah panik. “Kamu masuk koran!”
Aku langsung duduk tegak. “APA?!”
Dia membuka halaman hiburan: foto besar kami saat jatuh bersama judulnya,
“Ciuman Manis di Malam Lamaran: Anak Pengusaha dan Calon Istri yang Viral.”
Aku menatap artikel itu tanpa suara.
Dinda yang kebetulan di kamar ikut membaca, lalu tertawa terbahak.
“Wah, Nay, kamu udah selebritas!”
Aku menatapnya muram. “Aku pengen ganti identitas.”
Mama menepuk bahuku. “Ya udah, setidaknya semua orang bilang kalian serasi.”
Aku hanya bisa mendesah.
Kalau Rangga tahu ini, aku yakin dia akan... ah, entahlah. Dia mungkin akan menatap datar, bilang “aku udah duga”, lalu balik ngopi dengan ekspresi 0%.
Benar saja.
Sore harinya, pesan masuk di ponselku.
Rangga: Kamu udah lihat berita?
Aku: Udah. Dan aku pengen pindah planet.
Rangga: Terlambat. Keluargaku malah seneng, katanya kita kelihatan cocok.
Aku: COCOK?! Aku hampir mati malu!
Rangga: Tapi kamu nggak mati, kan?
Aku: Belum. Tapi bentar lagi bisa kalau kamu ngetik lagi kayak gitu.
Dia tidak balas.
Tapi lima menit kemudian, ada satu pesan masuk lagi.
Rangga: Kalau kamu mau ngilang, kabarin dulu. Aku bantu siapin ranselnya.
Aku menatap pesan itu lama.
Lalu tanpa sadar, aku tersenyum.
Entah sejak kapan, setiap kali dia bicara dingin, datar, bahkan sarkas selalu ada sesuatu di baliknya yang membuatku... merasa diperhatikan, walau samar.
Malamnya aku duduk di balkon, menatap langit Jogja yang bertabur bintang.
Angin malam berhembus lembut, membawa aroma bunga melati dari taman depan.
Aku membuka catatan lagi.
Catatan Istri (Calon Istri) Terpaksa #4 Tambahan:
Kadang, orang yang paling bikin kita kesal, justru orang yang paling tenang saat semuanya berantakan.
Aku masih nggak tahu harus apa dengan perasaan ini.
Tapi kalau dunia berniat menjodohkan aku dengan Rangga…
mungkin, untuk pertama kalinya, aku pengen tahu alasan di baliknya.
Aku menutup jurnal, menatap langit lama-lama, dan entah kenapa, malam itu...
aku tak lagi membenci ide “perjodohan”.