lelah sudah Shaga mencari di mana agaknya sang istri berada. Lelaki tampan itu sedang lapar. Dia tidak bisa makan sendirian apalagi makanannya bukan buatan sang istri walau hanya sebagai penata di piring. Berkeliling-keliling sudah Shaga menyisir ruangan, tapi tetap saja tak menjumpai sang istri.
Hingga kakinya refleks berhenti manakala ekor matanya menatap Diana sedang duduk di salah satu sofa di sudut dapur. Kerutan dahi Shaga tercetak sempurna. "Kamu ngapain di sini, Sayang? Aku sibuk nyariin kamu dari tadi." Sembari berjalan, Shaga bertanya.
Diana menatap malas pada suaminya. "Mau ngapain?" tanya Diana alih-alih menjawab.
"Kenapa sih? Kok kayak nggak mood gitu?" Shaga bisa merasakan aura tidak suka pada Diana. Lelaki berbadan padat itu lantas ikut duduk di samping sang istri, menunggu kisah apa yang telah membuat istrinya itu tampak kecewa.
"Mas, perasaan pas kita nikah nggak dikasih apa-apa tuh sama Mama? Acara pernikahan kita juga nggak semegah acara aqiqahan anaknya kak Ayana. Tapi kenapa Mama ngasih banyak banget sama mereka? Kayak kita nggak di anggap aja," ungkapnya kemudaan, tentang apa yang membuat suasana hatinya berubah.
"Astaga, aku pikir kenapa." Shaga menggeleng-geleng. "Itu wajar, Sayang. Kak Ayana itu kesayangan Mama sama almarhum Papa dulu. Ya gimana kalau nggak di kasih? Apalagi kak Ayana sekarang udah jadi ibu. Nggak mungkin, kan tetap ngebiarin dia ngajar, kerja seharian, sementara anaknya butuh dia?"
"Kita nggak digituin perasaan? Mama kayaknya abai sama kita."
"Hei ...." Gemas, Shaga pun memutar penuh tubuhnya menghadap sang istri. "Memangnya kamu kekurangan? Memangnya aku nggak buat kamu nyaman selama ini? Memangnya kamu butuh rumah baru? Mobil baru? Tanah baru? Jabatan baru? Nggak, kan? Semua itu kita punya, Sayang. Kita nggak kekurangan apa-apa sampai kita harus iri sama apa yang didapatkan kak Ayana sama mas Arga."
Diana membisu sejenak. Wajahnya masih dibalut sebuah rasa tidak terima. "Tetap aja nggak adil. Emang kita ini anak buangan?"
"Oke, gini, biar kamu nggak cemberut gini lagi, bilang sama aku kamu mau apa? Aku kasih sekarang juga. Uang? Mobil? Ayo, kita ambil sekarang," ajak Shaga begitu dia berdiri. Akan tetapi, tubuh tinggi itu kembali duduk sebab ditarik Diana.
"Aku mau punya anak," ungkap Diana tiba-tiba. Nada bicaranya tampak serius.
"A-apaan? Maksud aku, itu nggak bisa aku kasih kayak aku ngasih mobil atau pun uang, Sayang. Kita yang harus berusaha."
"Kalau gitu ayo kita usaha!"
"Kan udah! Kita berobat, kita menjalani beberapa program, kita juga udah lakuin semua hal-hal yang dianjurkan dokter. Kita udah usaha, Sayang. Kita nggak bisa maksain kehendak Allah. Mungkin belum saatnya," terang Shaga upaya membujuk.
"Udah ah! Kamu emang nggak pengertian!" ketusnya menjawab. Begitu Diana bangun, kepala Shaga refleks mendongak. "Aku mau pulang aja. Aku nggak betah lama-lama di sini!"
"Eh, tunggu. Acaranya belum selesai."
"Terserah. Kalau kamu emang masih mau di sini, ya udah. Aku pulang duluan!"
"Eh-" Sia-sia Shaga mencegah, yang dicegah sudah lebih dulu melenggang pergi. Tidak ingin membuat sang istri lebih merasa kecewa, Shaga pun berlari mengimbangi langkah Diana. "Hei, tunggu dulu. Jangan gini, dong. Bukannya tadi aku udah nanya sama kamu, mau tetap datang, katanya mau. Terus, kenapa malah ngambek gini?"
Diana menepis tangan sang suami. "Itu, 'kan tadi. Sekarang aku mau pulang. Aku kayaknya nggak dianggap karena nggak punya anak," tukas Diana tidak juga habis-habis akan kekesalannya.
Pertengkaran kecil itu terusik karena lantunan lagu religi dari tempat acara, yang mana langsung mengajak kepala Diana dan Shaga menoleh. "Kayaknya aku emang nggak dinggap". Statement yang barusan dikatakan Diana seakan nyata, manakala orang-orang hanya mempedulikan Ayana dan si buah hati tentunya. Bahkan dirinya tidak mendapatkan tawaran makan, meskipun hanya sekadar basa-basi.
"Eh, sabar-sabar," ucap Shaga sambil menahan Diana tepat di bahu.
"Apa sih, Mas? Aku mau pulang. Aku beneran udah nggak betah di sini!"
"Iya aku tahu. Tapi jangan gini dong. Katanya kamu udah mau berpikir kalau kita juga bakalan ada di posisi mereka. Itu kan yang kamu bilang pas Aqila lahir?"
Diana ingat tentang ucapannya kala itu. Benar, dulunya dia tampak ikut bahagia atas kelahiran bayi mungil itu. Tapi hari ini tidak lagi. Semua baginya hanya tengah mengolok-oloknya hanya karena dia belum memiliki seorang buah hati.
"Mas, aku mau punya anak juga. Aku mau buat perayaan megah. Aku mau Mama juga kasih aku hadiah. Aku juga mau di panggil ibu, Mas," lirih Diana, mencurahkan isi hati.
"Kita coba lagi, ya? Tapi ingat, kita nggak boleh nyerah. Oke?"
Diana pun mengangguk-angguk. Kesempatan bagi Shaga untuk menarik tubuh sebahunya itu untuk ditenggelamkan dalam peluknya. Dalam diam Shaga berdoa, semoga apa yang mereka harapkan hari ini terkabul diwaktu yang dekat. Semoga keinginan sang istri benar-benar pertanda kalau Shaga akan menjadi seorang ayah.
***
Usai mengantar Diana pulang, wanita itu bukannya menyiapkan kebutuhan suami, seperti makanan, pakaian, atau mungkin air hangat yang kerap kali diminta Shaga untuk berendam, Diana justru menyuruh sang suami ke bandara, upaya menjemput kepulangan Nayla Syakira, adik sepupunya.
dan di sinilah laki-laki itu sekarang. Di area tunggu guna menanti sosok yang akan dia bawa pulang.
Shaga adalah tipe laki-laki yang tidak banyak maunya. Dia mandiri, juga terbilang mapan walau didasari batu loncatan dari kekayaan keluarga. Akan tetapi, bagi Shaga, memperistri Diana adalah hal yang paling indah dalam sejarah hidupnya. Dia berhasil meluluhkan sang pujaan hati beberapa tahun lalu.
Kisah keduanya terjaga hingga tali suci pernikahan. Satu hal yang membuat Diana seolah bersikap seenaknya, karena Shaga itu adalah tipe suami yang penurut.
Pegal sudah kedua kaki jenjang Shaga berdiri sambil memegangi papan nama bertuliskan Nayla Syakira. Bagaimana tidak lelah, sejak ikut menghadiri acara syukuran, dirinya belum juga ada istirahat. Bahkan Shaga merasakan kalau tubuhnya sudah sedikit lengket sebab keringat.
Dari ujung sana, ada sepasang mata yang sudah mengamati Shaga yang berdiri sambil menopang diri di pembatas area. Sosok jelita itu tampak mengembangkan senyumannya, yakin kalau yang ditatapnya saat ini adalah suami sang kakak. Keyakinan itu dibantu oleh papan nama yang digenggam Shaga meski tak sepenuhnya terangkat.
Berbeda dengan Shaga yang malah sibuk menoleh sana-sini akibat tak mengenali wajah sang adik ipar. Maklum, Shaga hanya pernah bertemu Nayla sekali, itu pun waktu dia memacari Diana. Setelah hampir empat tahun ini, Shaga sudah tidak lagi pernah melihat perempuan itu.
"Assalamualaikum," ucap Nayla, santun.
"Eh, wa'alaikumsalam," sahut Shaga refleks menegakkan tubuhnya begitu mendapati sosok perempuan berbungkus gamis berwarna soft lengkap dengan hijabnya yang panjang ada dihadapannya. "Who?"
"Mas, Shaga?" tebak Nayla, seolah meyakini lagi. Yang ditanyakan mengangguk lemah tidak yakin kalau dirinya pernah mengenal perempuan ini. "Ini Nayla, Mas. Adiknya Kak Diana."
Segera bibir Shaga membentuk huruf o, lantas menyengir tidak enak. "Eh, maaf, saya nggak kenal tadi."
Nayla hanya membalas dengan senyuman. Kepalanya kemudian melirik ke sekeliling. "Kak Diananya mana, Mas?"
"Kakak kamu nggak ikut. Katanya capek. Ada acara tadi pagi di rumah. Jadi dia mau istirahat dulu," jelas Shaga. Melihat Nayla hanya diam sambil mengangguk, Shaga pun kembali berujar, "Mau pulang sekarang? Atau masih ada yang ditunggu?"
"Oh iya, Mas. Pulang sekarang aja." Hendak meraih koper, tak sengaja tangan Nayla bertemu tangan Shaga yang juga hendak menarik koper sosok cantik itu.
"Eh, maaf. Biar saya yang bawa," tawar Shaga. Dia jadi tidak enak tadi karena sudah membuat Nayla menarik tangan dengan cepat.
"Nggak usah, Mas. Biar saya aja. Saya bisa kok." Tentu saja Nayla menolak. Segera dia tarik kembali kopernya lantas berjalan lebih dulu.