[Dek, datang ya ke rumah lusa. Kakak adain acara doa buat masuk rumah. Bilang sama Shaga ya ngosongin jadwalnya. Kakak tunggu lho, ya.]
Ponsel yang memamerkan pesan teks dari Ayana untuk Diana itu pun segera diletakkan cukup kasar di atas meja rias. Membaca pesan itu lagi-lagi membuat Diana seolah tidak terima. Kebahagiaan kakak iparnya itu seakan bukanlah kebahagiaannya juga. Sebal, dirinya pun berakhir tak membalas pesan lantas beranjak dari kamar.
Baru saja keluar kamar, sosok perempuan berbusana gamis dengan hijab pasmina oval menyapa pandangannya. Hitungan detik saja dadanya berdebar kencang, yang mengajak kakinya segera berlari cepat.
"Nayla!" pekik Diana. Yang bersangkutan ikut tersenyum lebar, merasa bahagia manakala menatap kembali wajah sang kakak.
"Kak," gumam Nayla yang kini berada di pelukan perempuan berbau harum itu. Seketika saja rindu yang kemarin terpendam benar-benar hilang. "Apa kabar? Kakak baik, 'kan?"
"Kakak baik banget," jawab Diana begitu menarik diri. "Gimana sama kamu? Sehat? Ada yang kurang nggak? Ada yang bikin kamu nggak nyaman selama perjalanan atau selama di negara orang sana?"
Si pemilik senyum teduh serta mata mengilap itu menggeleng kecil pertanda kalau dirinya tidak ada kendala apa-apa baik selama perjalanan atau pun menetap di Mesir sana. "Alhamdulillah, Nayla sehat. Nggak ada kekurangan apa-apa, Kak."
"Baguslah kalau gitu. Kakak pikir kamu malah menderita di sana."
Kala dua orang itu sibuk meluapkan rasa rindu, ada Shaga yang kelihatan lelah terlihat dari caranya berjalan sambil meregangkan otot leher. Niat hati ingin cepat-cepat berendam air hangat seperti kebiasaannya, justru napas lelahnya kembali mengudara begitu melihat isi bathtub yang masih menyisakan air rendaman mandi sang istri. Tampak sedikit keruh, penuh busa.
Shaga pun berjalan kembali keluar kamar. Posisi kedua perempuan itu kini sudah duduk disofa. "Sayang, kenapa air di bathtub nggak dibuang?" tanya Shaga dari anak tangga.
Diana menoleh. "Ya ampun, Mas. Ya udah buang aja. Kadang-kadang manja banget deh," sahut Diana, santai.
"Bukan gitu. Aku capek. Pengen langsung mandi tapi malah belum dibuang airnya."
"Ya udah sih tinggal dibuang aja. Apa susahnya?"
Pasrah, Shaga pun menunda niat merendam diri. Dirinya sudah sangat tampak lelah kali ini. Lelaki itu pun berakhir mengguyur diri di bawah pancuran shower, setelah lebih dulu membuang isi dari bak mandi.
Sementara di sisi lain, Diana tidak puas-puasnya mendengar tentang adiknya yang baru saja menyelesaikan pendidikan sarjana di Mesir sana. "Terus, apa rencana kamu selanjutnya? Mau langsung nikah nih?"
"Eh, nggak, Kak. Nayla nggak mau buru-buru nikah dulu."
"Lho kenapa? Usia 23 tahun itu udah cocok banget lho nikah."
Nayla meringis kecil. "Emang benar, Kak. Tapi, 'kan balik lagi ke kitanya. Jangan berpatokan usia untuk menjalani sebuah pernikahan. Ini tentang kesiapan diri kita baik secara mental juga perasaan."
Diana pun mengangguk-angguk. Dia sebenarnya sudah tahu apa jawaban sang adik. Mengingat Nayla itu lulusan universitas berbasis agama, pastinya sebuah pernikahan adalah salah satu hal yang paling penting untuknya. Dan tentunya dia yang paling tahu bagaimana caranya mencari seorang suami untuk dijadikan imam.
"Terus gimana sekarang? Udah ada rencana ke depan mau ngapain?" tanya Diana lagi setelah dia memahami jawaban sang adik.
"Udah kok, Kak. Nayla udah di terima jadi salah satu pengajar di sebuah Yayasan. Nanti Nayla bakalan cari-cari kosan di dekat situ."
"Eh, kok malah ngekos? Jadi kamu anggap Kakak ini apa? Orang asing?" Diana mendelik tiba-tiba.
"Nggak, Kak. Bukan kayak gitu. Nayla cuma nggak mau pulang pergi terlalu jauh. Kakak tahu, 'kan kalau jarak dari TK itu ke rumah hampir satu jam? Boros, 'kan itungannya. Waktu Nayla juga bisa kebuang sia-sia cuma untuk perjalanan pulang pergi."
"Tapi, 'kan nggak ngekos juga, Dek? Di rumah ini ada sopir kok yang siap antar jemput kamu. Ada mas Shaga juga. Kebetulan juga, 'kan arah kalian sama?"
Nayla menyentuh tangan sang kakak. Dengan tatap binar yang cantik, Nayla hendak membuat Diana tidak terbebani karenanya. "Kak, Nayla udah ambil semua kebaikan Kakak selama ini. Kakak biayain Nayla sekolah, ngirimin Nayla uang jajan, belum lagi barang-barang Nayla, Kakak udah pastikan semuanya baik. Mana mungkin Nayla balik-balik malah tetap jadi beban? Nayla juga mau mandiri, Kak. Nayla nggak mau terus-terusan bergantung pada orang lain."
Siapa yang tidak tersentuh manakah mendengar ucapan manis seperti ini? Nayla itu berjarak empat tahun dari Diana, tapi lihatlah pola pikirnya yang sudah lebih matang. Diana sampai kagum dibuatnya.
"Ternyata adek Kakak ini udah dewasa ya?" gumamnya kemudian. Ada suara parau yang terdengar sekilas.
"Alhamdulillah, Kak. Nayla udah bisa bikin Kakak percaya kalau Nayla ini udah besar. Udah nggak jadi beban," gurau sang adik.
"Apa-apaan kamu. Kakak nggak pernah ya anggap kamu beban!"
Nayla meringis kecil, lalu menerima tangan Diana yang dibuka luas untuk memeluknya. Habis sudah rasa rindu itu mencair ditempatnya.
***
Malam ini Nayla masih tidur di rumah Diana. Besok dia akan berbenah lagi untuk perpindahan ke salah satu indekos yang sudah di carikan Diana. Seperti keinginan Nayla, dia akan tinggal di tempat yang lebih dekat dengan pekerjaannya.
"Mas, Kak Ayana ngadain acara doa buat masuk rumah baru tuh. Udah tahu?"
Sunyi, senyap. Tanyanya tak bersahut. Perempuan yang tengah sibuk mengolesi wajahnya dengan beberapa skincare malam, pun menoleh guna menatap sang suami di atas ranjang sana. Pantas saja tidak menyahut, ternyata suaminya sudah lebih dulu tertidur pulas bahkan tanpa mengatakan 'selamat malam' padanya.
"Ya ampun, Mas! Kok udah tidur aja sih?" sebal Diana. Shaga terusik, hanya saja masih terbawa lelah. Efeknya dia hanya tersentak pelan. Kian sebal hati Diana, manakala sang suami tetap tak meresponnya. Kakinya pun terangkat, berjalan gusar menghampiri sang suami. "Mas! Ih, Mas!"
Shaga benar-benar terlonjak sekarang. Kelopak mata itu refleks terbuka yang kini memamerkan bola mata yang memerah membuktikan kalau Shaga benar-benar mengantuk. "Hmm? Kenapa, Sayang?" gumamnya, masih setengah sadar.
"Dengar nggak sih aku ngomong? Ih, bangun dulu, Mas!" Diana menarik kuat tangan Shaga memaksa suaminya itu bangun hingga duduk di atas ranjang.
Susah payah Shaga menyadarkan diri. Ditekannya kuat-kuat kelopak mata, lalu membuka lebar upaya membuat kantuknya segera hilang. Begitu wajah sang istri dapat ditatapnya, Shaga pun bertanya, "Iya, kenapa?"
"Nggak jadi! Kamu itu nggak peduli lagi ya sama aku? Masa tidur nggak bilang-bilang sih? Nggak sadar apa istrinya belum ada di kamar? Betah kayaknya tidur tanpa aku?" gerutunya membalas.
"Ya udah sini-sini." Shaga menepuk-nepuk sisi ranjang di sebelahnya.
"Nggak mau! Tidur aja sendirian. Aku mau tidur di kamar Nayla aja!"
"Eh, eh. Kok gitu?" Dengan sekuat tenaga sgaha memaksakan diri untuk bangun upaya menahan sang istri. "Kok tega sih ninggalin suaminya tidur sendirian?"
"Ya habisnya kamu sih!"
"Iya-iya, maaf ya. Maaf ya istrinya Shaga. Maaf udah ninggalin, nggak bilang-bilang mau tidur." Kebiasaan Shaga mengalah. Meski dirinya tak salah sekalipun, lelaki itu pasti akan tetap diposisinya sekarang.
"Ya udah," tutur Diana. "Air minum kita abis. Ambilin ya, Mas? Aku males banget turun ke bawah."
Diana bahkan tidak menginginkan persetujuan sang suami, karena sudah terbiasa kalau Shaga tidak akan menolak. Dirinya berjalan, naik ke atas ranjang, membungkus diri dengan selimut, lantas memainkan ponsel dengan santainya.
Shaga menutupi mulutnya dengan telapak tangan kala bibirnya menguap pertanda kantuk kembali menyerang. Sebelum ikut berbaring, lelaki itu pun merebut teko kaca di atas nakas, lantas bergegas mengisinya ke dapur.