Begitu kakinya menapaki area dapur, Shaga ikut terkejut saat sosok perempuan yang baru saja dia temui siang tadi, cepat-cepat menyembunyikan diri dibalik pilar besar rumah.
"Ah, maaf. Saya nggak tahu kalau ada kamu di dapur," ucap Shaga. Dia tidak lagi melihat tubuh perempuan itu kecuali siluetnya saja. .
Shaga tahu kenapa Nayla bersembunyi darinya. Tanpa sengaja tadi Shaga mendapati gadis itu tanpa balutan penutup kepalanya. Shaga yakin, kalau hal itulah yang membuat adik iparnya itu buru-buru menutup diri.
Di sudut sana, yang mana Nayla juga hendak mengisi teko, tak henti-hentinya merutuki diri. Harusnya dia tidak gegabah. Ini rumah kakaknya yang sudah bersuami, pasti akan ada insiden seperti ini. Harusnya Nayla tidak menanggalkan hijabnya, bahkan mengenakan baju tidur dengan lengan seperempat seperti saat ini. Merasa malu, Nayla pun enggan rasanya bersuara. Hingga ucapan Shaga membuatnya terpengaruh.
"Saya tunggu di atas. Kamu ambillah apa yang kamu mau."
Mendengar derap langkah sang kakak ipar, Nayla pun buru-buru pergi menjauh, bahkan tidak lagi berniat mengisi air pada teko yang dia bawa. Biarkan saja dia kehausan malam ini. Toh, ini juga berkat kecerobohannya.
Suara pintu yang ditutup memberikan pertanda pada Shaga. Sambil menggelengkan kepalanya sekilas, kakinya pun kembali turun ke bawah. Rupanya lelaki itu pun menyalahkan dirinya. Harusnya dia ingat, kalau ada sosok lain yang tinggal di rumahnya. Apalagi sosok ini orang yang sangat paham tentang ajaran agama. Pastinya hal seperti ini menjadi kesalahan besar padanya. Shaga menepuk puncak kepalanya satu kali. Dasar ceroboh! Pikirnya.
***
Pagi itu, Nayla sudah bersiap untuk menempati kediaman barunya. Koper yang kemarin memang sengaja tidak dibongkar, kembali dibawa. Gadis berkulit putih sedikit pucat itu pun sudah siap membalut diri dengan gamis berbahan cringkle premium lengkap dengan hijab pasmina oval dengan warna senada, nude.
Diana sudah menegaskan kalau dirinya akan ikut mengantar sang adik. Hitung-hitung juga tahu di mana letak tepatnya posisi indekos tersebut. Juga memastikan kembali, apakah area tersebut aman untuk Nayla. Mengingat lagi kalau adiknya itu polos, mengajak Diana ikut was-was akan keadaannya nanti. Itulah kenapa dia ingin mengamati dengan kaki, tangan, serta mata sendiri.
Sementara di atas sana, di kamar sejoli itu, Diana baru saja selesai mandi terlihat dari rambutnya yang masih dibalut handuk putih. Sementara sang suami sudah sejak sepuluh menit yang lalu rapi dengan balutan kemeja warna nude soft dengan tambahan celana bahan warna hitam.
"Sayang, bukannya adik kamu bakalan nempatin kosannya hari ini? Ketemu sama ibu kosnya jam sembilan, 'kan kalau nggak salah?" tanya Shaga, ingat Diana mengatakannya kemarin sore.
"Hu'um," gumam yang bersangkutan. "Kenapa?" tanyanya balik di sela aktivitas memilah pakaian yang sesuai hatinya.
"Ya kalau ketemu sama ibu kosnya jam segitu, kita ya harus udah berangkat sekarang. Kan udah hampir jam sembilan, Yang. Sisa lima belas menit lagi," jelas Shaga yang baru saja melirik arlojinya.
"Iya tahu. Sabar dulu. Kan aku masih siap-siap."
"Aku nggak masalah sama itu. Tapi, 'kan kasihan adik kamu malah nunggu."
Diana pun meraih baju crop lengan pendek yang dipadukan dengan rok se ukuran betis. Dirinya siap membungkus diri dengan tampilan sedikit terbuka. Berbeda dengan Nayla yang sudah menaati syariat Islam sejak dirinya memahami perintah agama, Diana justru menunda-nunda. Katanya, akan ada waktunya dia menutup diri dengan balutan yang memang dianjurkan. Tapi kalau untuk sekarang, Diana masih enggan. Walau tidak jarang Shaga mengingatkan, namun tetap saja Diana belum menerima.
"Bentar lagi, Mas. Ngeringin rambut dulu," kata Diana yang sudah beralih meraih hair dryer.
Melihat tampilan sang istri, Shaga pun menarik napas dalam sampai dadanya membusung. "Sayang, kapan kamu mau nutup aurat? Kan aku nggak rela kecantikan kamu ini diliat laki-laki lain," katanya.
Diana hanya melirik sekilas. "Ya ampun, Mas. Nanti kalau emang udah siap, aku tutup kok. Lagian anak kecil banget deh pake acara cemburuan segala. Kayak anak SMA."
"Cuma nggak suka aja, Sayang."
"Iya, nanti ya? Kalau aku udah siap. Aku tutup kok. Kayak Nayla itu, iya kan?"
Shaga ingin mengiyakan, akan tetapi tertahan. Dia tidak enak kalau harus membuat Nayla menjadi tolak ukur dalam membungkus diri. Bukan apa-apa. Shaga hanya segan pada gadis polos itu, juga tidak ingin terlihat membandingkan sang istri.
"Udah ah, buruan. Kita bisa telat. Aku juga mau kerja lagi, Sayang. Belum lagi besok harus ke rumah kakak, 'kan? Ada acara doa katanya," tandas Shaga sekalian mengingatkan tentang acara sang kakak.
Refleks Diana menghentikan gerakan tangannya. "Mas dikabarin sama siapa tentang acara doa itu?" tanyanya kemudian.
"Mas Arga. Dia tadinya mau nanya jadwal di hotel bisa dikosongin nggak. Ya sekalian nanya mau ngapain. Eh tahunya aku nggak dikabarin sama mereka, Yang. Parah, 'kan?"
Perempuan itu hanya diam. Dia ingat pesan sang kakak ipar, tapi tidak ingat menyampaikannya pada sang suami. Tapi biarkanlah, toh suaminya juga sudah tahu. "Jadi kamu mau datang? Nggak ganggu kerjaan emang?"
"Nggaklah. Lagian ada sekretaris aku yang biasa handle semua kalau aku lagi nggak bisa masuk."
Diana mengangguk-angguk. Rambutnya sudah dari tadi kering. Keasyikan mendalami isi kepalanya yang sedikit-sedikit membuat fake skenario, dia jadi lupa kalau sang adik juga butuh waktu yang sudah dia sia-siakan.
Sadar, Diana pun cepat-cepat merapikan tataan rambutnya, juga memoles wajah dengan beberapa perona. Begitu siap, Diana pun buru-buru meraih tas selempangnya lantas berjalan cepat keluar kamar. "Ayo, Mas. Kayaknya Nayla udah nungguin."
"Eh, itu handuknya benerin-" Sia-sia, Diana sudah berjalan cukup jauh. Terpaksa Shaga mengalah, tidak bisa membiarkan handuk basah itu tetap di atas ranjang. Risih rasanya.
Seperti apa yang ditebak Shaga, pasti Nayla sudah menunggu lama. Lihatlah sosok cantik itu yang berjalan mondar-mandir seakan khawatir kalau hari ini dia tidak akan bertemu dengan si empunya kos. Kalau begitu, pasti acara pindahannya di tunda. Bagaimana dia mau masuk kos, kalau kuncinya saja belum ada di tangan?
Baru saja menuruni anak tangga sepenuhnya, dering ponsel Shaga pun menginterupsi. Baik Diana mau pun Nayla--yang baru menyadari kedatangan sang kakak, sama-sama menoleh pada Shaga. Sementara Shaga buru-buru merebut benda pipih yang terus berdering di dalam sakunya.
"Iya, kenapa, Kak?" tanya Shaga begitu panggilan suara terhubung.
[Dek, datang ke rumah ya pagi ini? Duh ceritanya panjang lagi. Tapi katanya acara doanya diadain pagi ini juga. Datang sekarang ya? Please?]
"Lho, kok dimajuin? Kan katanya besok?"
[Nanti Kakak cerita. Ke sini dulu buruan. Jangan lupa ajak Diana juga.]
Tak ada statment lain yang bisa menolak permintaan sang kakak, Shaga pun mengiyakan untuk datang hari ini. Sesaat ponsel kembali di turunkan dari daun telinga, Diana pun sudah memasang wajah tanda tanya.
"Acara doa di rumah kakak di percepat hari ini, Yang. Kita di paksa datang ke sana," jelas Shaga, sedikit kecewa. Dia juga refleks menatap Nayla yang mana gadis itu buru-buru menundukkan pandangan.
"Lho, bukannya besok? Kok plin-plan gini sih? Kita juga, 'kan ada urusan, Mas?" sungut Diana, tidak terima.
"Ya mau gimana, Sayang? Bukan aku yang mau."
"Terus gimana dong sama adik aku? Harus ngalah juga?"
Nayla pun mengangkat lagi pandangannya. "Eh, Kak. Nggak apa-apa, Kak. Jangan jadikan Nayla jadi penghalang. Kita bisa pergi besok kok. Kakak sama Mas Shaga pergi aja. Biar Nayla yang di rumah."
"Mana bisa gitu, Dek."
"Udah nggak apa-apa, Kak. Lagian kalau kita pergi pun kitanya udah terlambat. Ibu kos udah nggak di sana lagi pasti. Besok aja, Kak. Nayla nggak apa-apa," katanya lagi, upaya meyakinkan sang kakak.
"Ya udah, kalau gitu kamu ikut Kakak aja. Mana tega Kakak biarin kamu sendirian di rumah. Kejam banget kakak kesannya."
Walaupun Nayla menolak, tetap saya Diana memaksa. Seperti apa katanya, kalau dia akan tampak seperti kakak yang kejam yang meninggalkan sang adik sendirian di rumah. Mana di area ini juga Nayla masih baru. Tampak menyedihkan rasanya.
Shaga jadi bangga pada isterinya yang bisa berpikiran terbuka seperti ini. Shaga pikir Diana mengamuk lagi hanya karena sudah merusak jadwalnya.