Seperti yang telah dijanjikan sepasang suami istri ini sebelumnya, setelah malam tiba, layaknya suami-istri pada umumnya mereka menunaikan tanggung jawab mereka.
"Ma, aku pengen," bisik Willy di teling Sarah.
"Memangnya mas kuat?" tanya Sarah, yang mulai merayu suaminya juga.
"Sejak kapan, suamimu ini selemah itu. Mas tahan kok, sampe besok juga boleh mama sayang," rayu Willy yang semakin membuat suasana kamar itu berubah menjadi hawa nafsu ingin berahi.
"Kalau gitu, bawa istrimu ke bulan malam ini," balas Sarah yang balik menggoda lagi dan meremas s**********n suaminya.
Willy tertawa kecil dan menggendong istrinya. Seketika ciuman mendarat diantara mereka berdua.
"Mas mu ini siap untuk membawa istri tercintanya ini ke bulan malam ini, mama siap kan?" tanya Willy yang semakin menjadi-jadi.
Sara kembali tertawa kecil. "Mama siap-siap ya. Mas akan mulai dengan yang ini," kata Willy dan akhirnya terjadilah keintiman mereka berdua.
Mereka cukup intens melakukannya malam itu, begitu juga dengan Willy yang sepertinya sangat menikmati akan hal itu. Willy terlihat bersemangat sekali melakukannya. Baik suara desah, desis mereka memenuhi ruangan itu.
Sampai akhirnya mereka mencapai klimaks masing-masing dan merasa sudah lelah dan tertidur dengan pulasnya sampai keesokan harinya.
***
Keesokan paginya.
Akhirnya hari terakhir yang ditunggu-tunggu oleh Willy datang juga.
Hari ini adalah hari Minggu, tepatnya hari terakhir dia akan diragukan oleh mertuanya, dia akan menjadi menantu sesungguhnya di rumah itu.
Willy bangun lebih awal, meskipun dia melakukan hubungan intim dengan istrinya tadi malam beberapa ronde.
Tapi hal itu tidak membuat dia lemas atau merasa lelah karena, begadang menghabiskan malam dengan penuh cinta.
Dia tidak membangunkan istrinya yang masih tidur yang hanya beralaskan selimut, untuk menutupi tubuhnya.
Willy sejenak bercermin, menatap cerminan dirinya. "Akhirnya, kamu berhasil juga Willy," ucap Willy pada dirinya sendiri.
Willy yang juga masih bugil. Kemudian dia memakai celana dalamnya dan juga celana pendeknya, beserta bajunya. Dia segera ke turun ke bawah.
Willy meneguk dua gelas air putih hangat. Sepertinya dia merasa haus karena persenggamaan semalam.
Karena di dasari rasa senangnya, Willy berencana membuat kejutan untuk istrinya, mertuanya dan juga putrinya Kelly.
Berbekal pengetahuan seadaanya dalam memasak. Willy membuatkan beberapa menu makanan yang dia kuasai dan bisa di santap bersama.
Willy berkata-kata sendiri. "Semoga mereka suka dengan masakan yang aku buat khusus untuk mereka," kata Willy.
Dia dengan ingatan antara lupa dan ingat, dia mencoba semua bumbu yang dia rasa sesuai dengan yang ingin dia masak.
Meskipun sempat beberapa kali masakannya gosong, dia tetap semangat mengganti dengan yang baru.
Alhasil cukup lama dan letih dia memasak, akhirnya selesai sudah apa yang ingin dia hidangkan.
"Akhirnya selesai juga. Huh," kata Willy sambil menyeka keringatnya.
Belum lama setelah dia selesai menghidangkan semua. Istrinya datang ke dapur.
Sarah terkejut melihat apa yang dia kerjakan di dapur itu.
"Ya, ampun Mas.apa-apaan ini?" tanya Sarah yang terkejut melihat apa yang terjadi di dapur.
Willy menggaruk-garuk kepalanya, "em, habis masak ma," jawab willy.
"Ya ampun, Mas. Bukan itu yang mama maksud. Lihat tu." Sarah menunjuk ke arah tempat masak. "Coba di lihat," Sarah menyuruh suaminya melihat ke arah yang di tunjuk Sarah.
"Em, i, a ...,"-Willy menggaruk kepalanya-"itu, biar, Mas aja yang beresin," jawab Willy.
"Hem, memangnya mas masak apa sih makanya dapur sekacau ini?" tanya Sarah sambil melihat apa yang di masak oleh suaminya. "Pantesan aja berantakan orang masak yang belum pernah mas masak sih," ujar Sarah.
"Yang penting kan, Mas udah nyoba, Ma."
"Iya deh, iya."
"Mama nggak marah kan?"
"Siapa yang marah. Malah senang dong suamiku bisa masak, begini"-Sarah mengambil sepotong daging yang dimasak willy-"enak nggak ya?" Sarah kemudian mencicipi masakan itu.
Seketika wajah Sarah berubah, setelah mencicipi masakan suaminya itu.
"Kenapa ma? Nggak enak ya? Ta-tapi, tadi mas udah cicipin kok, enak rasanya," ujar Willy.
Sarah mengambil sepotong lagi untuk dia cobai. "Em, nggak buruk-buruk juga rasanya mas. Mama suka kok sama rasanya," puji Sarah kepada masakan suaminya itu. "Dari siapa resepnya mas?"
"Em, mama ngejek ya?" tanya Willy.
"Nggak loh, suamiku,"-Sarah mengambil sepotong daging lagi untuk diberikan kepada Suaminya-"nih, coba cicipin mas. Enak kok mama nggak bohong."
Willy membuka mulutnya dan Sarah menyuapi sepotong daging itu. "Enak kan?" tanya Sarah setelah suaminya mengunyah sepotong daging yang diberikan istrinya.
"Em, iya, ya. Baru Sadar kalau rasanya enak begini, padahal tadi udah takut rasanya bakalan hancur," jawab Willy merendah.
"Kalau gitu mas udah bisa masak buat, mama dong sesekali," ucap Sarah.
"Bisa dong mama sayang. Apa yang nggak buat istrinya mas, yang baik hati, cantik, imut, perhatian lagi," jawab willy yang memuji istrinya.
Sarah tersenyum karena pujian suaminya. "Masa sih mas aku ini masih imut?" tanya Sarah.
"Mama nggak sadar ya?"
"Nggak mas, apa coba?"
"Mama itu imut karena, wajah mama masih muda, tembem ada lesung pipinya lagi, pokonya imut. Pingin di cium," jawab willy mulai melancarkan kebiasaannya.
"Heleh, gombal," ucap Sarah, yang mulai mengetahui strategi suaminya. "Memang banyak maunya kamu mas. Mama nggak mau nyuci semua itu. Kan mas yang ngacakin semua," ucap Sarah.
"Ma! ..."
Sarah pura-pura tidak mendengar suaminya memanggil dia.
"Ma! ..."
Sarah semakin pura-pura tidak mendengar.
"Mama sayang!" panggil Willy ketiga kalinya. "Bantuin mas dong, please!" pinta Willy memohon kepada istrinya untuk membantu dia merapikan kekacawan yang dibuat Willy.
"Nggak. M-a-u," jawab Sarah dengan pelan dan jelas.
Willy tidak menyerah sampai di situ saja. Willy mendekati istrinya dan memegang tangan istrinya. "Ayo dong ma, sekali ini aja. Nanti ibu bangun, mas kena marah lagi," bujuk Willy memohon.
"Nggak mau, mas aja deh. Perut mama lagi sakit. Ini mama mau ke toilet. Da ... Mas." Sarah berpura-pura berakting seolah dia sangat kebelet ingin buang air besar.
"Yah, Ma. Bantuin dong Ma!" panggil Willy mencoba menghentikan istrinya.
Sarah malah melambaikan tangannya, seperti gembira melihat suaminya melakukan pekerjaannya sehari-hari.
"Yah, mama ...," ucap Willy dengan nada kesal.
Akhirnya Willy pasrah untuk merapikan kekacawan di dapur itu. Willy mulai membersihkan satu per satu.
Saat Willy tengah asik merapikan kekacawan itu, ibu mertuanya datang.
Willy seketika menelan ludah, mulai khawatir kalau sampai ibu mertuanya marah melihat kekacauan di dapur itu.
"Ibu udah bangun?" tanya Willy sebelum ibu mertuanya lebih dulu menegur dia karena, marah.
"Istri kamu mana? Kenapa bukan dia yang beresin itu?" tanya Samantha. Justru dia tidak memarahi menantunya, melainkan menanyakan putrinya di mana.
"Sarah lagi, di toilet Bu," jawab willy.
"Udah biar istri kamu aja yang beresin," kata Samantha kepada Willy.
"Nggak apa-apa bu. Saya cuman bantu sedikit aja," jawab Willy berbohong. Padahal dia yang telah membuat kekacauan itu sendiri.
"Ya sudah, terserah kamu saja," kata Samantha. "Udah punya lupa cara masak apa istri kamu itu? Segini berantakannya," gumam Samantha, merepeti Sarah.
Willy tidak mau mengakui kalau dia yang melakukan hal itu.
Kemudian Samantha pergi dengan membawa secangkir air putih hangat. Kemudian Sarah yang sebenarnya tadi pura-pura ke toilet, ternyata dia mendengar apa yang dikatakan ibunya kepada Willy.
Sarah mengendap-endap mendekat kepada suaminya yang tengah asik membereskan kekacauan itu.
Terdengar Willy berbicara sendiri, "untung aja ibu nggak tau kalau aku yang bikin kekacawan ini. Bisa mati aku, kena repet pasti. Huh, semoga aja ibu bisa menerima aku apa adanya setelah hari ini selesai. Amin ...," ucap Willy kepada dirinya sendiri.
Akan tetapi Sarah yang mendengar ocehan suaminya yang sedang berbicara sendiri, tidak membuat Willy sadar kalau ada istrinya dibelakangnya.
Sampai akhirnya Willy berbalik badan dan kaget kalau istrinya sudah ada di hadapannya.
"Mama! Bikin kaget aja!" teriak Willy sambil mengelus dadanya.
"Mas, sih pake bohong segala sama ibu," kata Sarah.
"Apa? Mama denger ya tadi?" tanya Willy heran.
"Hem, iyalah orang mama aja, nggak ke toilet. Cuman mau mastiin aja mas mau beresin kekacawan ini," ujar Sarah.
"Hehehe, mama bisa aja. Ya udah mama bantuin Mas, ya. Biar cepat selesai," bujuk Willy.
"Nggak mau, mas aja. Mama jadi nggak niat bantu," jawab Sarah menolak permintaan suaminya.
"Ayo dong ma. Sekali ini aja,"pinta Willy sekali lagi dengan wajah memelas.
"Cium dulu," ujar Sarah memberi perintah.
"Oke." Willy langsung mencium istrinya dengan senang hati, tanpa ragu, malah kesenangan.
"Bye ..., Da ... mas, makasih loh udah dicium," kata Sarah, kemudian dia pergi dari situ.
Willy hanya diam memandangi istrinya yang memanfaatkan dia untuk menciumnya.
"Yah, kena tipu lagi deh," kata Willy kepada dirinya sendiri.
Dia lanjut merapikan lagi, dan masih cukup banyak kekacawan itu.
Tanpa diketahui dan disadari Willy, istrinya datang dengan memakai celemek.
Sarah pura-pura batuk. "Ahem, ahem, Mas," dia menepuk pundak suaminya pelan.
Willy tidak berbalik. "Iya ma," jawab Willy.
"Mas, kok merajuk sih. Suami mama merajuk udah besar, udah punya anak lagi. Nggak malu mas?" tanya Sarah.
Akhirnya Willy berbalik badan.
"Sini biar aku bantu. Gitu aja udah merajuk, kaya anak kecil," kata Sarah sambil mencubit hidung Willy.
"Mama sih, pake ngerjain mas segala," jawab willy dengan nada seperti anak kecil mengucapkan kekesalannya.
"Iya, iya deh maaf. Masnya aja yang manja. Pengen di sayang aja sama istrinya," ucap Sarah yang membuat suaminya itu sedikit malu.
Willy seketika mencium pipi istrinya. "Tau aja kalau, suami mu ini pengen di manja aja sama mama," ujar Willy berbisik di telinga istrinya.
"Sudah nggak usah ngeles. Rapiin yang bener. Itu belum bersih," perintah Sarah mengehentikan suaminya yang mulai mencoba merayu dia.
Willy kemudian merapikan apa yang masih kurang.
"Ngomong-ngomong, mas tadi aku dengar bilang apa? Pas ibu datang ke dapur?" tanya Sarah ingin mengetahui apa yang dikatakan suaminya tadi.
"Bukannya mama udah dengar?" tanya Willy kembali.
"Nggak, mama nggak ada dengar. Bilang apa sih mas?"
"Em ... apa ya? Mas tadi bilang i love you my wife. Udah itu aja," jawab Willy.
"Kayaknya mama nggak dengar itu deh tadi," jawab Sarah menyangkal apa yang dikatakan suaminya.
"Iya deh. Aku tadi bilang ...," Willy mengatakan apa yang diucapkannya setelah ibu mertuanya menegur dia.
Sarah terdiam mendengar itu.
"Kenapa ma? Kok tiba-tiba diam begitu?"
"Nggak ada kok mas, mas ada-ada aja deh. Udah itu satu lagi biar selesai," jawab Sarah mengalihkan pembicaraan.
Setelah pekerjaan di dapur yang berantakan itu selesai. Willy membangunkan putrinya Kelly.
Willy mengusap kepala putrinya. "Sayang, ayo bangun."
Kelly terbangun, dia melihat ayahnya sudah ada di kamarnya. Kelly sedikit menghela nafasnya, dan menguap dengan tangan terangkat ke atas.
"Kelly ngantuk ya sayang?"
Kelly mengangguk iya.
"Biar Kelly nggak ngantuk lagi, Kelly cuci muka dulu, yu," ajak Willy.
Kelly langsung memeluk ayahnya.
"Kelly mau digendong sama ayah yah?" tanya Willy.
Sepertinya memang Kelly senang kalau ayahnya menggendong dia. Dengan kepala Kelly bersandar di pundak ayahnya, sepertinya Kelly masih mengantuk.
Willy membawa Kelly ke kamar mandi.
"Nah, sekarang putri cantik ayah, cuci muka dulu ya." Willy menurunkan putrinya dari gendongannya.
Kelly mulai mencuci wajahnya. Setelahnya Willy kembali menggendong putrinya, ke dapur. Disana mereka bercanda dengan putrinya.
Setalah pukul setengah tujuh pagi. Mereka sarapan pagi. Di meja makan sudah ada makanan yang dimasak sendiri oleh Willy.
"Gimana ma masakannya enak nggak?" tanya Sarah kepada ibunya.
"Enak, tumben kamu masak yang beginian," puji ibunya Sarah.
"Sebenarnya bukan aku yang masak, Mam. Mas Willy yang masak. Ya kan mas?"
"Iya bu, saya yang masak," jawab Willy memberitahu kalau dia yang memasak semua itu.
"Enek, ibu suka kok. Pantesan aja dapur berantakan, ternyata kamu yang masak," ujar Samantha.
"Iya bu, maaf. Tadi saya nggak bilang kalau saya yang masak. Makanya dapur berantakan seperti itu."
"Tidak apa-apa. Lain kali kalau mau masak tanya dulu sama istri kamu. Biar nggak semua bumbu, atau bahan yang kamu butuhkan, kamu keluarin semua," ujar Samantha kepada menantunya itu.
"Iya bu," jawab Willy dengan mengangguk. Willy terlihat sangat senang, karena ibu mertuanya mulai menunjukkan suasana yang positif kepada Willy.
Sepertinya ini akan menjadi pertanda baik bagi Willy, untuk menjalin hubungan keluarga yang baik.
Semoga saja itu bisa terjadi kepada mereka.
"Gimana Kelly suka nggak masakan ayah?" tanya Sarah. "Makan yang banyak ya sayang biar cepat besar, ya nak," ucap Sarah membujuk putrinya itu untuk makan lebih banyak.
Kelly mengangguk iya kepada ibunya.
"Kelly harus coba ini deh sayang,"-Willy memberikan sepotong cumi krispi untuk putrinya-"pasti Kelly suka," kata Willy. "Ayo dimakan sayang," lanjutnya.
Kelly dengan senang menikmati makanan yang diberikan ayahnya. Dia terlihat senang sekali.
"Ayo ma, tambah lagi. Jarang-jarang loh mas Willy masak enak begini," Sarah menyodorkan beberapa masakan yang terlihat paling lezat ibunya makan.
"Sudah, jangan terlalu banyak ibu makan yang itu, mending kamu ambilkan sayur acarnya saja." Samantha menunjuk untuk mengambilkan sayur acarnya.
"Ini ma." Sarah memberikan acar itu.
Sungguh sarapan pagi yang menyenangkan, mengenyangkan, dan menyehatkan.