Selang beberapa menit sesudah makan, Willy terlihat seperti mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan sesuatu.
Akhirnya Willy memberanikan dirinya untuk bertanya kepada ibu mertuanya, mengapa dia meragukan Willy sebelumnya.
"Em, Bu. Maaf kalau saya lancang mau bertanya sama ibu," ucap Willy sebelum dia memulai apa yang akan dia katakan.
"Silahkan, tidak apa-apa," jawab Samantha kepadanya.
"Em, ma boleh bawa Kelly sebentar ke kamarnya?" pinta Willy kepada Sarah untuk membawa kelly ke dalam kamarnya. Mungkin karena ini tidak cocok untuk di dengar oleh anak di bawah umur seperti Kelly.
"Iya mas. Ayo sayang. Kita ke kamar Kelly dulu. Ayah mau ngomong hal yang serius sama nenek," ucap Sarah kepada putrinya Kelly untuk membawa Kelly masuk kedalam kamarnya.
Memang baik Willy maupun Sarah selalu mengajarkan kepada Kelly kalau, kedua orangtuanya sedang membahas sesuatu. Maka Sarah maupun Willy selalu mengatakan 'ada hal serius yang akan dibicarakan' pasti Kelly akan nurut kepada orangtuanya untuk tidak mendengarkan pembicaraan itu.
Sarah dan Kelly kembali kedalam kamar.
Sementara Willy terlihat sedang mengumpulkan keberanian untuk menanyakan pertanyaan yang mengganjal di dalam dirinya selama ini.
"Memangnya kamu nanya apa sama saya?" tanya Samantha dengan nada biasa-biasa saja.
"Begini bu, sebenarnya saya mau bertanya sama ibu. Kenapa ibu membuat persetujuan dengan Sarah, untuk menceraikan saya dengan Sarah? Apa saya pernah salah sama ibu selama ini?" tanya Willy.
"Oke baiklah, kalau kamu memang pingin tau. Sebenarnya, ibu pingin ngasih tau ini besok saja. Tapi, ya sudahlah ibu akan beritahu sekarang," jawab Samantha.
Willy hanya mengangguk-angguk saja.
"Kenapa ibu bisa tega melakukan hal itu kepada kamu. Karena, ibu pernah lihat kamu membonceng perempuan waktu itu. Dan ibu berusaha tidak menanyakan hal itu kepada kamu. Tapi, sayangnya ada tiga kali ibu pernah melihat kamu membonceng dia waktu itu. Dari situ ibu mulai curiga kalau kamu sedang selingkuh dari Sarah."-Samantha mengambil sehelai tissu-"dan lama kelamaan ibu semakin curiga kalau kamu memang benar-benar selingkuh dari putri saya. Makanya ibu ingin sekali mengatakan itu kepada Sarah, namun, saya masih berpikir positif tentang kamu dan ibu masih menahan untuk tidak memberitahu hal itu kepada Sarah. Sayangnya saat ibu tau Kelly masuk ke rumah sakit. Karena, insiden yang menimpa dia. Ibu tidak bisa menahan lagi amarah ibu, terpaksa ibu memberitahu kepada Sarah untuk menceraikan kamu," ujar Samantha panjang lebar menerangkan semua kenapa Samantha begitu benci kepadanya.
"Maksud ibu perempuan yang saya bonceng siapa ya?" tanya Willy penasaran siapa perempuan yang dia maksud, yang diboncengnya saat itu.
"Ibu kurang ingat bagaimana wajahnya hanya saja, ibu samar-samar mengingat kalau baju yang di pakai perempuan yang kamu bonceng pertama kalinya itu memakai baju warna coklat," jawab Samantha.
Willy mulai berfikir dan mengingat perempuan yang pernah dia bonceng waktu itu. Setelah beberapa saat Willy kemudian sepertinya mengingat.
"Oo, yang ibu maksud itu Bu Sunarti, dia yang bantu saya mengurus berkas saya untuk pindah ke sini bu," ucap Willy memberitahu perempuan yang di maksud oleh Samantha.
"Jika memang begitu kenapa bisa sampai beberapa kali kamu dengan dia?" tanya Samantha lagi.
"Karena, berkas saya belum siap-siap Bu, makanya beberapa kali saya di bantu sama Bu Sunarti mengurus berkas tersebut. Karena, kebetulan Bu Sunarti itu guru pindahan juga, makanya saya minta tolong sama beliau Bu," ujar Willy menjelaskannya kepada Samantha.
Ternyata Samantha salah paham akan hal tersebut. Walaupun memang dulu Samantha merasa ragu kepada Willy saat Sarah memutuskan untuk menikah dengan dia.
"Nak, mama mau ngobrol dulu sama nenek dan ayah kamu, Kelly nggak apa-apa kan mama tinggal sendiri dulu? Nanti mama langsung kesini kalau mama udah nanya sesuatu ya sayang."
Kelly mengangguk iya kepada ibunya.
Sementara ketika Willy dan Samantha lanjut berbincang. Sarah seketika datang.
"Kalian bahas apa ma, mas?" tanya Sarah yang melihat mereka berdua berhenti sejenak ketika Sarah datang. "Kenapa kalian diam?" tanya Sarah lagi.
"Ahem." Willy mulai dengan pura-pura batuk untuk mengangkat bicara. "Ibu sama aku bahas mengenai persetujuan yang kalian buat ma," jawab Willy.
"Jadi bagaimana udah jelas semuanya kan mas? Udah kan ma?" tanya Sarah kepada mereka berdua.
"Sudah ma, tenang aja. Ibu sebenarnya hanya salah faham saja," jawab Willy kepada Sarah untuk menenangkan dia.
"Apa benar ma? Memangnya mama salah paham bagaimana sih? Sarah jadi penasaran? Boleh diceritakan dari awal?"
"Sebaiknya biar mas aja nanti yang jelasin kekamu ya sayang," ucap Willy kepada istrinya.
"Ok, mas. Terus ini bagaimana apa kalian sudah selesai?"
"Belum ma, dengerin aja dulu."
"Yang dikatakan suami kamu itu benar, sebenarnya ibu hanya salah paham. Karena tampang suami kamu yang tampan seperti ini, mungkin mudah baginya untuk selingkuh. Kebetulan juga karena ibu pernah lihat suami kamu membonceng seorang perempuan. Ternyata itu bukanlah selingkuhan suami kamu. Melainkan hanya sebatas rekan kerjanya saja, untuk membantu menyelesaikan berkasnya," ujar Samantha menjelaskan kembali.
"Maksudnya mama teman kerjanya mas Willy itu, mama curigai sebagai selingkuhannya mas Willy ma?" tanya Sarah.
"Iya bener, mama pikir suami kamu begitu. Makanya ibu sempat benci sama suami kamu, ditambah lagi karena cucu satu-satunya mama jadi seperti sekarang ini," ujar Samantha.
"Ya ampun ma,"-Sarah mendekati ibunya-"kenapa mama bisa segitunya si sama mas Willy. Lagian setiap kerjaan mas Willy selalu dia bilang sama aku. Makanya aku percaya kalau mas Willy tidak akan macam-macam di luaran sana," ucap Sarah menenangkan ibunya yang sepertinya merasa bersalah.
"Iya nak, maafin mama ya. Sebenarnya mama juga sekaligus mau menguji kesetiaan suamimu ini, apa dia setia atau tidak makanya mama melakukan seperti itu, ya meskipun mama juga terpaksa," kata Samantha meminta maaf kepada putrinya itu.
"Tidak apa-apa ma. Tapi, Sarah pengen mama jangan terlalu memikirkan kearah sana ya ma. Sarah nggak mau mama jadi sakit cuman karena memikirkan Sarah. Ya ma."
"Iya sayang, ibu tidak akan pernah begitu lagi," jawab Samantha. "Maafin ibu ya nak," ucap Samantha kepada Willy.
"Iya bu, saya tidak pernah menganggap ibu bersalah. Karena, pasti ada sesuatu di balik rencana yang ibu buat," balas Willy padanya.
"Ya sudah kalau begitu kalian lanjut saja berbincang lagi, ibu akan menemani Kelly."
"Iya bu."
Samantha meninggalkan mereka berdua untuk berbincang kembali.
"Mas, sekarang ibu sudah menceritakan semuanya sama mas bukan. Mulai sekarang tidak akan pernah lagi ada sesuatu yang menghalangi kita," ucap Sarah.
"Iya ma, akhirnya mas mu ini bisa tenang setelah ibu mengatakan seperti itu sama mas. Semoga keluarga kita ini semakin harmonis ya ma."
"Iya mas amin."
Aktivitas pagi mereka berlangsung begitu saja, setelah beberapa pertanyaan yang di berikan Willy dijawab oleh mertuanya.
Mereka menjalankan hari mereka dengan bahagia, mulai dari menemani Kelly bermain di ruangan keluarga. Bahkan mereka tertawa bersama-sama. Tawa itu sudah lama hilang semenjak dua bulan terakhir, dalam artian mereka semua bukan hanya Willy dan Sarah saja.