Tuk, tuk, tuk ...
Suara ketukan pintu, yang mengetuk pintu kamar Vera beberapa kali, tidak juga kunjung dibukakan oleh Vera.
"Vera! Buka sayang pintunya, mama mau ngomong sama kamu. Buka dong sayang!" Teriak ibunya Vera memanggil-manggil putrinya.
Sudah berulangkali ibunya mencoba mengetuk dan membujuk Vera untuk membuka pintu kamarnya, namun, tidak di respon oleh Vera sama sekali.
Awalnya ayah Vera yang mengunci dia dari luar. Tapi, setelah selang beberapa menit Vera mengunci kamarnya dari dalam. Sepertinya Vera terlihat sangat kesal sekali, pulang-pulang sudah kena tamparan yang mendarat di kedua pipinya ditambah dengan nasihat yang diberikan ayahnya seperti makian.
Memang sebenarnya yang salah adalah Vera. Dia tidak pernah menghiraukan peraturan yang telah dibuat oleh ayahnya, terutama dalam etika berpakaian. Terlebih karena mereka adalah keluarga yang terpandang di desa Moab. Mereka dikenal karena kesopanan mereka dalam beretika, juga mereka memiliki tugas yang diwariskan oleh oleh para tetua terdahulu untuk menjaga sebuah kitab agar tidak terjatuh ke tangan yang salah. Tugas itu mereka jaga dengan baik.
"Udah di buka, Bu?" tanya Reno yang melihat majikannya itu belum juga dibukakan pintu oleh Vera. "Coba saya lihat dari jendela belakang ya, Bu. Mana tau Vera ketiduran lupa menutup jendelanya. Biar nanti saya bukakan pintunya dari dalam," ujar Reno kepada ibu majikannya, untuk melihat dari jendela belakang kamar Vera.
"Iya, nak, coba kamu lihat dulu dari sana. Semoga saja dia lupa menutup pintunya," jawab ibunya Vera.
Reno mengangguk mengiyakan. Kemudian pergi melihat dari balik jendela belakang kamar Vera.
Ibunya Vera tetap memanggil-manggil Vera dari balik pintu. Sayangnya Vera tidak menjawab sedikitpun. Ibunya jadi tambah khawatir kalau dia kenapa-napa di dalam sana.
"Vera! Buka dong sayang pintunya. Kamu kenapa sih nak? Ayo buka pintunya. Kan bisa dibicarakan baik-baik sama ibu. Ayo dong nak buka pintunya." Beberapa kalipun ibunya mencoba memanggil Vera tetap saja tidak digubris oleh Vera dari dalam.
Ibunya Vera semakin khawatir saja di depan pintu kamar Vera.
Setelah beberapa menit setelah Reno melihat ke jendela belakang kamar Vera. Suara pintu kamar Vera terbuka, ternyata Reno yang membukanya.
"Vera mana Ren?" tanya ibunya Vera khawatir.
Reno menunduk menutupi matanya dari majikannya itu begitu saja.
Ibunya Vera langsung masuk, melihat tingkah Reno yang terdiam.
Setelah mereka melihat ke dalam kamar tersebut, dan mencari ke seisi rumah mereka tidak menemukan Vera ada di dalam kamarnya.
"Vera! Kamu dimana sih nak?" panggil ibunya sambil mencari Vera, dia mengira kalau Vera bersembunyi.
"Bu! Mungkin Vera kabur dari jendela Bu," kata Reno mencoba memberi asumsi.
"Apa kamu yakin Reno?" tanya ibunya Vera.
"Mungkin saja bu. Kemana lagi dia kalau nggak di kamar ini, ya, pasti kabur lewat dari jendela," ujar Reno menerka kalau Vera memang kabur dari rumah.
"Kalau begitu cari Vera sekarang sampai ketemu, jangan sampai ayahnya tau kalau dia kabur dari rumah. Mengerti." Ibunya Vera menyuruh Reno dengan segera menemukan Vera.
"Baik bu. Akan saya cari Vera sampai ketemu," jawab Reno. Kemudian dia pergi mencari Vera di luar rumah. Sementara ibunya Vera mencari dia di seluruh isi rumah maupun di seluruh bagian rumah yang di kelilingi dengan tembok.
"Bambang! Sugiro!" Ibunya Vera menyuruh kedua pekerja lainnya di rumah itu untuk mencari Vera, "kalian berdua cari Vera sekarang di sekitar rumah ini. Temukan dia sebelum papanya pulang. Mengerti!" perintah ibunya Vera dengan tegas.
"Baik, inang," jawab mereka berdua dengan serentak.
Mereka bertiga mulai mencari Sarah di seluruh isi rumah, mereka menggeledah gudang, kamar mandi, ruangan kosong, bahkan lemari baju juga mereka geledah, di bawah tempat tidur, dan di dalam bak mandi, sayangnya tidak ditemukan dimana Vera berada.
"Kalian sudah ketemu sama dia?" tanya ibunya Vera.
"Belum, inang." Jawab mereka berdua.
"Kemana sih itu anak, bisa-bisanya kabur dari rumah," keluh ibunya Vera. "Sekarang coba kalian cari dan perhatikan lagi dia di seluruh halaman rumah, mana tau dia bersembunyi di sana!" perintah ibunya Vera.
"Kemana sih kamu Vera?" ucap ibunya Vera, yang tidak habis pikir kenapa dia kabur dari rumah hanya karena, dimarahi oleh ayahnya.
Mereka terus mencari dan memeriksa sampai dua kali.
***
Sementara Reno yang mengendarai sepeda motor mencari Vera.
Diperjalanan Reno tidak menemukan dia sedang berjalan atau berada di rumah tetangga.
Reno memutuskan untuk menanyakan Vera kepada warga.
Kebetulan ada seorang warga yang berjalan berlawanan arah dengannya, Reno kemudian mengehentikan sepeda motornya.
Dan bertanya, "permisi pak, ada lihat Vera tidak?" tanya Reno.
"Vera? Saya tidak lihat. Memangnya kemana dia?" pria itu bertanya balik.
"Vera tadi ngambek karena saya kerjain makanya dia pergi deluan, eh tiba-tiba di sudah hilang ntah kemana," jawab Reno berbohong menutupi kalau sebenarnya Vera kabur dari rumah. Sengaja dia menutupi hal itu karena, dia tidak mau image keluarga Vera jadi dianggap miring oleh warga setempat.
"Coba di cari lagi di tempat kamu ngerjain dia, mana tau dia masih di sana," ujar pria itu memberi saran.
"Oh, iya pak, makasih ya. Saya mau cari dia kesana dulu."
"Iya sama-sama."
Reno kemudian melajukan kendaraannya mencari Vera. Di perjalan Reno seketika teringat dengan saran pria barusan yang dia tanya. "Sebaiknya aku mencari Vera ketempat yang sering dia kunjungi kalau lagi sedih." Ucap Reno pada dirinya sendiri.
Ternyata Reno memutar balik kembali ke arah pulang ke rumah Vera. Dia kembali berpapasan dengan pria yang berjalan kaki yang dia tanya tadi, Reno membunyikan klakson sepeda motornya kepada pria itu dan tersenyum dengan sedikit menunduk.
Setelah beberapa menit kemudian akhirnya Reno sampai ke sawah di belakang rumah Vera sekitar seratus meter dari balik tembok rumah mereka.
Reno menepikan sepeda motornya, kemudian dia melihat Vera sedang duduk di pematang sawah dengan kakinya dimasukkan kedalam air yang menggenang di sawah tersebut.
Semakin dekat Reno kepada Vera, terlihat kalau Vera sesenggukan sepertinya habis menangis hebat.
"Ver ..., Vera? Kamu kenapa nangis?" tanya Reno yang sudah berjarak satu meter dari Vera.
"Ngapain kamu kesini?!" bentak Vera.
"Ver, kamu masih marah ya ... a-aku minta maaf soal tadi ya ... aku sebenarnya ngg..."
Vera kembali menangis.
"Loh, Vera kok kamu nangis lagi sih? tanya Reno yang tidak tau harus berbuat apa untuk menenangkan Vera dari tangisnya.
"Kalian semua nggak pernah dukung aku, percuma saja aku seorang perempuan," ujar Vera mengeluh.
"Kok kamu ngomong gitu sih Vera?-Reno mendekat dan duduk di samping sangat dekat.
Vera sedikit menjauh dari posisi Reno. "Nggak usah dekat-dekat sama saja nggak akan ngaruh," ucap Vera.
Sejenak mereka hanya duduk terdiam begitu saja di pematang sawah. Keduanya tidak ada yang mau mulai bicara, mereka hanya menunduk.
"Vera sebenarnya bapak nggak salah kok negur kamu begitu," ucap Reno membuka pembicaraan.
Vera langsung terbawa emosinya. "Kamu nggak tau apa rasanya ditampar! Sama dikatain begitu? Hah?!," teriak Vera memarahi Reno.
"Oke, oke, aku tau itu sakit bagi kamu, atau aku yang ada di posisi kamu. Tapi, bapak pasti punya maksud dan tujuan untuk membuat kamu lebih baik lagi. Kan mau tau kalau bapak orang yang terpandang di desa ini. Itu makanya dia bersikap tegas sama kamu Vera. Apalagi kamu anak perempuannya bapak," ujar Reno menasihati Vera.
Seketika Vera menjadi larut dan menangis lagi.
"Ver, sudah dong ... jangan nangis lagi malu kalau ada warga yang lihat kamu nangis," ucap Reno menghentikan Vera menangis.
Vera menyeka wajahnya dengan kedua tangannya. Dia mencoba menahan air matanya yang terus mengalir.
Dengan berani dan percaya diri Reno menyentuh kepala Vera, dan mulai mendekatkannya ke bahu Reno.
"Sudah, sudah, kamu jangan sedih lagi," ucap Reno sambil mengusap lembut kepala Vera. Dan Reno semakin mendekat dengan Vera, hingga akhirnya Vera yang tidak menolak untuk disandarkan ke bahunya Reno, akhirnya wajahnya terbenam diantara bahu kanan Reno.
"Kenapa kalian laki-laki tidak pernah lembut sedikit saja kepada orang yang kalian suka?" keluh Vera dengan nada bertanya diiringi nada suaranya yang sedih.
"Bukan begitu Vera. Bapak pasti sangat menyayangi kamu, itu sudah pasti. Sudahlah jangan terlalu sedih karena hal seperti itu. Bagaimana jika dibandingkan aku dengan kamu? Aku sama sekali tidak pernah merasakan tamparan dari orang tuaku sama sekali. Kenapa? Karena, aku sejak kecil saja sudah ditinggalkan hidup sendiri, sementara mereka entah kemana? Aku tidak tau. Kadang aku berpikir apa gunanya aku hidup tanpa kedua orang tuaku. Tapi, itu semua bisa terobati karena, ada bapak sama ibu yang mau menampung aku dan menganggap aku sebagai anak mereka. Ah, aku tidak ..."
Reno menahan air matanya yang mulai ingin menetes. Dia segera mengelap matanya dengan tangan kirinya.
"Sudahlah kamu tidak perlu sedih lagi. Itu semua bentuk kepedulian bapak sama kamu Vera," lanjut Reno mencoba menenangkan Vera.
Akhirnya berangsur-angsur Vera mulai bisa menahan tangisannya, setelah Reno mencoba membujuk dia cukup alot.
"Sekarang kita pulang yuk," ajak Reno, "nanti ayah kamu tau kalau kamu kabur dari rumah. Bisa tambah marah, bapak sama kamu," tambahnya.
Reno kemudian mencoba membantu dia berdiri. "Ayo aku bantu,"-ia memberikan tangganya untuk membantu vera-"cepat sebelum bapak pulang, maka aku tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi," ucap Reno.
Kemudian Vera menerima tangan Reno dan bangkit berdiri dari pematang sawah tersebut.
Akhirnya mereka pulang dan kembali ke dalam rumah. Untungnya sesampainya mereka di rumah, ayah Vera belum pulang.
Ibunya Vera langsung memeluk putrinya itu. "Vera sayang kamu dari mana aja sih sayang?" ucap ibunya Vera.
"Maafin Vera ya Bu," jawab Vera.
"Iya sayang, sekarang kamu ganti baju dulu. Dan kembali ke dalam kamar kamu, sebentar lagi papa kamu pulang. Biar nanti mama yang bilang sama papah kamu biar kamu nggak dikurung lagi. Ok."
"Iya ma, makasih ya ma."
"Iya sayang, sudah sana." Kemudian Vera pergi untuk mandi. "Makasih ya Reno, memang ibu nggak pernah salah milih kamu jadi orang kepercayaan ibu," puji ibunya Vera. Reno hanya menunduk sedikit bangga.
"Oh iya bu. Bapak kapan datang Bu?" tanya Reno.
"Katanya sebentar lagi, tadi bapak kamu telpon sama ibu dia bilang begitu," jawab ibunya Vera. " Ngomong-ngomong kamu dapat dia dari mana?" tanya ibunya Vera.
"Dia ada di belakang rumah Bu, dia nangis di sana."
"Oh, ya sudah kalau begitu kamu juga sana mandi pada kotor," perintah ibunya Vera.