Kamar asrama putri berisi empat kasur tingkat untuk delapan cadet. Sekar mendapat kasur atas di sudut dekat jendela—posisi yang tidak diinginkan siapa pun karena harus memanjat, tapi yang justru disukai Sekar. Dari atas sana, lewat jendela, ia bisa melihat sepotong langit malam. Itu cukup.
Dian mendapat kasur bawah tepat di bawahnya. Di kasur seberang ada Nadira Salsabila—gadis berambut ikal sebahu, penerima beasiswa ke-delapan, yang ternyata sama gugupnya dengan Sekar di hari pertama. Dua cadet reguler lain melengkapi kamar itu: Tari dan Mega, anak-anak kota yang sopan tapi menjaga jarak.
Hari pertama, sebuah kertas ditempel di pintu kamar. Jadwal Harian Cadet, dalam huruf tebal:
04.00 — Bangun.
04.30 — Apel pagi dan lari fisik.
06.00 — Sarapan.
07.00 — Ground school.
12.00 — Istirahat.
13.00 — Kelas lanjutan / simulator.
17.00 — Olahraga sore.
19.00 — Makan malam.
20.00 — Belajar mandiri.
22.00 — Lampu padam.
Di bawahnya: Inspeksi kamar setiap pagi pukul 06.30. Kasur harus rapi seperti papan. Lemari tertata. Sepatu mengilap. Pelanggaran dicatat. Tiga catatan sama dengan satu sanksi.
Sekar membaca jadwal itu dan hampir tertawa. Bangun jam empat pagi? Ia sudah bangun jam tiga seumur hidupnya, menemani Bapak menyiapkan jaring sebelum subuh. Lari fisik? Ia sudah berlari di pasir basah membawa ember ikan sejak bisa berjalan. Mungkin, untuk pertama kalinya, hidupnya yang keras di Pantai Cemara justru jadi keuntungan.
Malam pertama, lampu padam tepat pukul sepuluh. Sekar berbaring di kasur atas, menatap langit-langit yang dekat dengan wajahnya, mendengarkan napas teratur teman-teman sekamar dan dengung jangkrik di luar. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidur di kasur, bukan di tikar. Untuk pertama kalinya, ia tidak mendengar deburan ombak.
Anehnya, justru itu yang membuatnya sulit tidur.
Inspeksi pagi keesokan harinya jadi bencana kecil. Sekar tidak tahu cara melipat sprei sampai kencang seperti papan—di rumah, ia hanya menggulung tikar. Kasurnya, meski sudah ia rapikan sebisanya, terlihat gembung di sana-sini.
Instruktur asrama, seorang sersan tegap berkumis tipis, berhenti di depan kasur Sekar. Ia menjatuhkan koin logam ke atas sprei. Koin itu tidak memantul. Tenggelam sedikit di kain yang kendur.
"Nama?" tanya sang sersan.
"Sekar Wulandari, Pak."
"Sprei kamu seperti jaring nelayan, Wulandari. Kendur." Ia mencatat sesuatu di buku saku. "Catatan satu. Rapikan ulang. Belajar dari yang bisa."
Ia berlalu. Wajah Sekar memanas. Di ujung barisan, ia mendengar dengusan yang ia kenal—Rangga, dari kamar putra di seberang, yang kebetulan lewat saat inspeksi, menyaksikan semuanya dengan seringai puas.
Tapi saat sang sersan pergi, Nadira mendekat. "Sini, aku ajarin," bisiknya. "Triknya kainnya ditarik dari bawah dulu, baru disetrika pakai tangan dari tengah ke pinggir. Kayak gini."
Dian ikut membantu dari sisi lain. Bertiga, mereka membongkar dan menata ulang kasur Sekar sampai sprei itu kencang seperti drum. Sekar menjatuhkan koin sendiri untuk menguji—dan koin itu memantul.
"Nah," kata Nadira, tersenyum. "Anak laut yang bisa baca angin, masa nggak bisa baca sprei."
Sekar tertawa—tawa lepas pertamanya di asrama ini.
Tapi benturan tak berhenti. Siang itu, saat kembali ke kamar, Sekar menemukan buku tuanya—"Mengenal Dunia Penerbangan" karya Pak Wirawan, edisi 2009, satu-satunya harta paling berharga yang ia bawa dari kampung—tergeletak di lantai, terbuka, beberapa halamannya terlipat dan kotor jejak sepatu.
Buku itu selalu ia simpan di laci lemarinya. Tidak mungkin jatuh sendiri.
Sekar memungutnya, menghapus jejak sepatu dengan ujung lengannya, meluruskan halaman yang terlipat. Tangannya gemetar menahan marah. Lewat jendela, di koridor seberang, ia melihat Rangga dan dua temannya berjalan menjauh, tertawa.
Ia tidak bisa membuktikan apa-apa. Tapi ia tahu.
"Buku lecek," gumam Sekar, mendekap buku itu ke dada, "tapi isinya udah masuk akademi. Bukunya kamu yang baru, masih bersih, tapi—" ia menatap punggung Rangga yang menjauh, "—kita lihat aja siapa yang isinya nyangkut."
Ia menyimpan buku itu kembali, kali ini di tempat paling dalam, di balik baju. Dan ia mulai mengerti: di akademi ini, perang bukan cuma melawan langit. Sebagian perang ada di koridor, di kamar, di mata-mata yang menatap rendah anak nelayan yang berani bermimpi.