Asrama Akademi Dirgantara Nusantara berdiri di kompleks luas di pinggiran kota, dikelilingi pagar tinggi dan lapangan rumput yang dipotong rapi. Di kejauhan, di balik deretan hanggar, Sekar bisa melihat ekor-ekor pesawat latih kecil berjajar di apron, putih dengan garis biru—lebih dekat ke pesawat sungguhan daripada yang pernah ia bayangkan seumur hidupnya.
Hari pertama, mereka dibariskan di aula penerimaan. Sepuluh penerima beasiswa, ditambah puluhan cadet jalur reguler yang membayar penuh—anak-anak dari keluarga berada, kebanyakan sudah saling kenal, sudah pernah les terbang, sudah punya logbook pribadi sebelum masuk ke sini.
Seorang petugas tata usaha membagikan seragam dalam kantong plastik bening. Sekar menerima miliknya: kemeja putih lengan pendek dengan epaulet kosong di bahu—satu garis tipis menandakan siswa tahun pertama—celana panjang biru tua, dasi, dan sepasang sepatu pantofel hitam yang masih kaku dan berbau kulit baru.
Ia membawanya ke kamar mandi untuk ganti. Ketika ia keluar, mengenakan seragam itu untuk pertama kalinya, ia berhenti di depan cermin besar di koridor.
Ia nyaris tidak mengenali dirinya sendiri.
Gadis di cermin itu masih punya kulit gosong matahari laut, masih punya tangan kasar yang melepuh tali pancing, masih kurus dengan tulang selangka yang menonjol. Tapi ia memakai seragam. Seragam penerbang. Kerah kemeja yang kaku menggesek lehernya yang tak terbiasa. Dasi terasa seperti tali yang mencekik. Sepatu pantofel membuat langkahnya canggung, tidak seperti sandal jepit yang ringan menapaki pasir.
Sekar mengangkat tangan kirinya, menyentuh bayangan epaulet di bahunya di cermin. Lengan kiri itu—yang patah tiga tahun lalu saat badai menghempaskannya ke karang, yang disambung dukun patah tulang, yang ngilu setiap udara dingin—lengan itu kini memakai seragam akademi paling bergengsi di negeri.
"Bukan buat kita," bisik Sekar pada bayangannya, mengulang kata-kata Bapak. Lalu ia tersenyum tipis. "Lihat aja, Pak."
"Kamu kelihatan beda."
Sekar menoleh. Dian berdiri di belakangnya, sudah berseragam lengkap, kacamatanya berkilat di bawah lampu koridor. Tapi Dian terlihat pas dalam seragam itu—anak dosen kota, terbiasa dengan baju rapi, terbiasa dengan ruangan ber-AC dan lantai mengilap.
"Aku kelihatan kayak orang lain," kata Sekar.
"Kamu kelihatan kayak pilot," koreksi Dian, berdiri di sebelahnya menghadap cermin. Dua gadis berseragam putih-biru. "Cuma belum kebiasa aja. Nanti juga lengket di badan."
Mereka berjalan bersama menuju aula pengarahan. Di sepanjang koridor, Sekar memperhatikan cadet-cadet lain. Cara mereka berdiri, cara mereka tertawa, cara mereka melempar istilah-istilah—"ground school", "logbook", "PPL"—seakan kata-kata itu bahasa ibu mereka. Sebagian saling sapa dengan nama keluarga yang terdengar penting. Sebagian membahas merk jam tangan dan liburan ke luar negeri.
Sekar merapatkan langkahnya ke Dian, merasa seperti seekor burung laut yang tersesat di antara merpati istana.
"Eh, anak nelayan." Suara itu lagi.
Rangga bersandar di dinding koridor, dikelilingi dua-tiga cadet reguler yang tertawa-tawa. Seragamnya disetrika sempurna, sepatunya mengilap, dan ada jam tangan mahal melingkar di pergelangannya.
"Seragamnya kebesaran, ya?" katanya, menatap dari atas ke bawah. "Biasa pakai apa di kampung? Sarung?"
Cadet-cadet di sekitarnya tertawa. Sekar merasa panas merayap di lehernya. Tapi sebelum ia sempat menjawab, Dian sudah melangkah maju, menatap Rangga lurus-lurus.
"Seragam dia sama persis sama seragam kamu, Rangga," kata Dian, dingin. "Bedanya, dia masuk sini nggak pakai uang ayahnya."
Wajah Rangga mengeras. Tawa di sekitarnya berhenti. Untuk sesaat, sesuatu yang gelap melintas di matanya—sesuatu yang lebih dari sekadar kesombongan, sesuatu yang Sekar belum bisa baca.
"Lihat aja siapa yang bertahan," kata Rangga akhirnya, mendorong dirinya dari dinding. "Beasiswa gampang dicabut. Apalagi buat orang yang nggak punya rencana cadangan."
Ia berlalu, diikuti rombongannya.
Sekar menatap punggung Rangga. Kata-kata terakhir itu—nggak punya rencana cadangan—adalah kalimat yang ia ucapkan sendiri di wawancara final. Bagaimana Rangga tahu? Mungkin kebetulan. Mungkin tidak.
"Jangan dipikirin," kata Dian, menarik lengannya. "Ayo, kita telat."
Tapi saat mereka masuk ke aula, Sekar tahu satu hal dengan pasti: seragam ini, meski sudah menempel di tubuhnya, masih harus ia perjuangkan setiap hari untuk dipertahankan.