Wartel di seberang gedung akademi berbau debu dan asap rokok. Sekar masuk ke bilik nomor dua, menutup pintu kaca yang berderit, dan menggenggam gagang telepon dengan tangan yang masih gemetar.
Ia hanya punya selembar uang lima ribu sisa tabungan Ibu, dilipat empat di saku. Cukup untuk beberapa menit. Ia memutar nomor warung Bu Lurah—satu-satunya nomor di kampung yang ia hafal, nomor yang dipakai seluruh Pantai Cemara untuk menerima kabar dari dunia luar.
Nada sambung berdengung. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
"Halo, warung Bu Lurah." Suara perempuan setengah baya, parau.
"Bu Lurah! Ini Sekar, Bu. Sekar Wulandari, anaknya—"
"Sekar!" Suara itu langsung naik. "Astaga, Sekar! Kami nungguin dari kemarin. Gimana? Gimana hasilnya, Nak?"
Sekar menarik napas. Air mata yang ia tahan sejak di panggung akhirnya tumpah. "Sekar diterima, Bu," katanya, suaranya pecah. "Sekar dapat beasiswanya. Yang penuh. Gratis semua."
Di seberang, terdengar Bu Lurah menjerit—jeritan bahagia—lalu suara langkah berlari, suara orang memanggil-manggil, suara warung yang riuh. "Sebentar, sebentar, Nak, Ibumu kebetulan lagi di sini! Tadi nungguin telepon dari pagi! Sebentar!"
Gagang telepon berpindah tangan. Lalu Sekar mendengar napas yang ia kenal seumur hidupnya.
"Sekar?" Suara Ibu. Kecil. Bergetar. "Sekar, ini kamu?"
"Ibu." Sekar menempelkan dahinya ke dinding bilik. "Ibu, Sekar berhasil. Sekar masuk akademi. Uang Ibu nggak sia-sia, Bu. Sekar—Sekar bakal jadi pilot, Bu."
Untuk beberapa detik, tidak ada jawaban. Hanya isak. Isak yang ditahan, lalu pecah, lalu ditahan lagi. Sekar bisa membayangkan Ibu di warung itu, berdiri di antara karung beras dan toples kerupuk, dengan daster lusuhnya, menutup mulut agar tak terlalu keras menangis di depan orang.
"Anak Ibu," kata Ibu akhirnya, di antara isak. "Anak Ibu mau terbang. Ya Allah. Ya Allah, terima kasih."
"Ibu jangan nangis—"
"Ibu nangis bahagia, Sekar. Ibu—" Suaranya tercekat. "Ibu udah tahu dari dulu. Dari kamu kecil, naik-naik ke atap, mandangin langit. Ibu udah tahu kamu nggak akan betah di laut. Cuma Ibu nggak berani bilang."
Sekar menutup mata. Pulsa terus berjalan, angka di mesin terus naik, tapi ia tidak peduli.
"Bapak gimana, Bu?" tanyanya pelan. "Bapak ada?"
Hening sebentar di seberang. Sekar mendengar Ibu menutup gagang telepon dengan tangan, suara teredam memanggil. "Pak! Pak, ini Sekar! Anaknya berhasil, Pak! Diterima!"
Lalu suara langkah. Berat. Lambat. Sekar mengenali ritme langkah itu—langkah kaki yang biasa menapaki haluan perahu yang bergoyang.
Gagang berpindah lagi.
"Sekar." Suara Bapak. Kering, seperti biasa. Datar, seperti biasa.
"Pak." Sekar menelan ludah. Sepuluh tahun rasa rindu dan takut menumpuk di satu kata itu. "Sekar diterima, Pak. Beasiswa penuh. Sekar nggak ngabisin uang Bapak buat mesin. Tabungan Ibu—Sekar bakal ganti, Pak, suatu hari—"
Hening.
"Pak?"
Napas Bapak terdengar di seberang. Berat. Sekar bisa membayangkannya: berdiri di warung dengan tangan yang melepuh garam, menatap lantai, rahangnya mengeras seperti saat menghadapi badai. Lelaki yang tidak pernah tahu cara mengucapkan hal-hal yang terlalu besar untuk mulutnya.
"Ya sudah," kata Bapak akhirnya. Cuma itu. "Ya sudah."
Lalu terdengar bunyi gagang diletakkan. Pelan, tapi pasti. Telepon ditutup.
Sekar berdiri di bilik itu, gagang masih menempel di telinganya, mendengar nada putus yang panjang. Di luar, lalu lalang kota terus berjalan seakan tidak ada yang berubah. Air matanya, yang tadi air mata bahagia, kini bercampur sesuatu yang lebih pahit.
Bapak tidak marah. Bapak juga tidak memberi selamat. Bapak hanya berkata ya sudah, lalu menutup telepon, seperti seseorang yang menyerah pada sesuatu yang tak bisa lagi ia tahan—bukan merestui, hanya tak lagi melawan.
Sekar meletakkan gagang. Membayar lima ribu di kasir wartel, persis. Lalu ia keluar ke trotoar, menengadah ke langit kota yang kelabu, dan berbisik pada dirinya sendiri:
"Suatu hari, Pak. Suatu hari Bapak bakal bilang lebih dari 'ya sudah'."
Ia tidak tahu betapa lama ia harus menunggu hari itu.