Kegelapan jatuh ke aula seperti kain hitam yang ditarik menutup seluruh ruangan.
Untuk satu detik penuh, tidak ada apa-apa. Tidak ada lampu, tidak ada dengung mikrofon, tidak ada suara sang Kapten. Hanya napas enam puluh orang yang tertahan bersamaan, dan jantung Sekar yang berdetak begitu keras sampai ia merasa dadanya akan pecah.
"Nama kesepuluh tadi siapa?" Suara seseorang di belakang, panik.
"Belum disebut! Listriknya mati duluan!"
Gumaman menyebar. Seseorang menyalakan senter ponsel, lalu dua, lalu sepuluh. Cahaya-cahaya kecil itu bergoyang di kegelapan seperti kunang-kunang yang bingung. Sekar tetap diam di kursinya, kedua tangannya mencengkeram sandaran sampai buku-buku jarinya memutih. Di panggung, ia bisa melihat siluet Dian yang berdiri, mencari-cari ke arah kursi tengah, ke arahnya.
Lalu, sekuat tarikan napas, lampu menyala kembali.
Cahaya membanjiri aula. Semua orang mengerjap. Sang Kapten masih berdiri di podium, kartu kesepuluh masih di tangannya, wajahnya sama sekali tidak berubah—seolah listrik yang padam bukan urusannya, seolah ia sudah terlalu sering berdiri di tengah keadaan kacau untuk tergoyahkan oleh hal sekecil ini.
Ia menempelkan kartu lebih dekat ke wajah. Pengeras suara berdengung sekali, lalu jernih.
"Maaf atas gangguan teknis," katanya datar. "Sekarang—nama kesepuluh, dan terakhir, penerima beasiswa penuh Akademi Dirgantara Nusantara tahun ini."
Ia berhenti. Matanya, untuk kedua kalinya, menyapu ruangan. Dan kali ini Sekar yakin—benar-benar yakin—tatapan itu berhenti tepat di kursinya.
"Sekar Wulandari. Nomor peserta dua-tujuh-empat."
Untuk sesaat, Sekar tidak mengerti namanya sendiri.
Ia mendengar suku kata itu—Se-kar Wu-lan-da-ri—tapi otaknya menolak menyusunnya jadi kenyataan. Ia menatap ke panggung, ke arah Dian, yang sudah menutup mulut dengan kedua tangan, air mata mengalir deras di pipinya. Bibir Dian bergerak: kamu, Sekar! Kamu!
Lalu kenyataan itu masuk seperti gelombang menghantam karang.
Sekar berdiri. Kakinya nyaris tak menopang. Aula bertepuk tangan—entah karena tahu kisahnya, entah hanya karena itu nama terakhir—tapi suara tepukan itu terdengar jauh, seperti dari balik air. Ia berjalan ke lorong di antara kursi, satu langkah, dua langkah, sandal—bukan, sepatu pinjamannya menapak karpet merah. Tangannya gemetar. Pandangannya kabur.
Ia naik ke tangga panggung. Dian langsung memeluknya, erat, basah oleh air mata. "Aku bilang apa," bisik Dian di telinganya, terisak, "aku bilang kamu bisa. Aku bilang."
Sekar tidak bisa menjawab. Tenggorokannya tersumbat. Ia hanya bisa mengangguk di bahu sahabatnya, sementara matanya menatap ke atas, ke langit-langit aula yang putih, membayangkan ada langit asli di baliknya. Aku yang di atas sana, pikirnya. Janji di atap rumah panggung itu, janji yang ditertawakan ombak—
Di ujung deretan penerima beasiswa, Rangga Pratama berdiri dengan tangan terlipat. Ia tidak bertepuk. Ketika Sekar lewat di depannya menuju tempat berdirinya, anak laki-laki itu mendengus pelan, cukup keras untuk hanya didengar Sekar.
"Anak nelayan," gumamnya. "Pakai keberuntungan listrik mati."
Sekar menoleh. Tapi ia tidak marah. Tidak hari ini. Hari ini bahkan Rangga tak sanggup mengusik apa pun di dalam dadanya.
"Bukan keberuntungan," kata Sekar pelan, menatap mata Rangga lurus-lurus. "Nomor dua-tujuh-empat. Lengkap. Dia tinggal baca."
Ia berdiri di tempatnya, di ujung deretan, sepuluh anak dengan satu mimpi yang sama. Sang Kapten menatap mereka semua dari podium.
"Sepuluh dari ribuan," katanya. "Lihat baik-baik wajah orang di sebelah kalian. Mulai besok, mereka adalah saingan kalian. Dan dalam tiga tahun ke depan, kalau kalian sanggup bertahan, mereka adalah orang yang akan kalian percayai dengan nyawa kalian."
Ia menutup map. "Selamat datang di langit."
Tepuk tangan kembali pecah, kali ini bercampur teriakan keluarga yang bangga. Sekar berdiri di tengah hiruk-pikuk itu, sendirian tanpa keluarga, tapi tidak merasa sendiri. Ia menatap ke ruangan, mencari satu wajah yang seharusnya ada di sana—Ibu yang menyelipkan uang arisan, Bapak yang berkata burung besi bukan buat kita.
Mereka tidak ada. Tapi mereka harus tahu.
Begitu turun panggung, sebelum apa pun yang lain, Sekar tahu satu hal yang harus ia lakukan. Ia harus menelepon pulang.