Lusa datang dengan langit cerah tanpa awan—langit yang, menurut Sekar, terlalu indah untuk hari yang bisa menghancurkan atau mengubah hidupnya selamanya.
Aula utama Akademi Dirgantara Nusantara dipenuhi enam puluh peserta yang tersisa beserta keluarga mereka. Kursi-kursi tertata rapi menghadap panggung besar berlatar logo sayap emas. Sekar duduk di deretan tengah bersama Dian. Ia tidak punya keluarga yang menemani—Bapak dan Ibu di kampung, tanpa kabar, karena Sekar tak punya pulsa untuk menelepon. Tapi tadi malam ia berhasil menitip pesan lewat warung Bu Lurah ke ponsel tetangga: "Bu, doain Sekar. Besok pengumuman."
"Kamu gemetar," bisik Dian, menggenggam tangan Sekar.
"Kamu juga," balas Sekar. Tangan mereka sama-sama dingin.
Pukul sembilan tepat, sang Kapten yang mewawancarai Sekar naik ke panggung, diikuti jajaran pengurus akademi. Ruangan langsung senyap. Kapten itu memegang sebuah amplop dan map.
"Selamat pagi," suaranya menggema lewat pengeras suara. "Kalian semua, enam puluh orang di ruangan ini, sudah membuktikan diri lebih unggul dari ribuan pendaftar di seluruh negeri. Apa pun hasil hari ini, kalian patut bangga."
Ia berhenti, menatap deretan wajah penuh harap.
"Tapi beasiswa ini hanya untuk sepuluh orang. Itu adalah kenyataan yang keras, dan dunia penerbangan memang keras. Aku tidak akan memperhalusnya." Ia membuka map. "Aku akan memanggil sepuluh nama. Yang dipanggil, naik ke panggung. Yang tidak—jangan berhenti. Langit luas. Ada banyak jalan ke sana."
Sekar meremas tangan Dian. Jantungnya berdetak begitu keras sampai ia yakin orang di sebelahnya bisa mendengarnya.
"Nama pertama," kata Kapten, "Bramantyo Aji."
Anak laki-laki di deretan depan melonjak, disambut tepuk tangan keluarganya. Ia naik ke panggung dengan senyum lebar.
"Kedua. Dian Permatasari."
Sekar menoleh cepat ke Dian. Wajah gadis itu pucat, lalu pecah jadi tangis bahagia. "Dian! Itu kamu! Naik!" Sekar mendorong pelan bahu sahabatnya. Dian berdiri dengan kaki goyah, menatap Sekar sekilas penuh arti, lalu naik ke panggung.
Sekar bertepuk tangan sekuat tenaga, ikut bahagia. Tapi di dalam dadanya, rasa takut menggumpal. Satu kursi sudah terisi temannya. Tinggal delapan.
"Ketiga. Aulia Rizki."
"Keempat. Galang Saputra."
Nama demi nama dipanggil. Setiap nama yang bukan namanya membuat dada Sekar makin sesak. Panggung makin penuh. Lima. Enam. Tujuh. Kursi kosong makin sedikit.
"Kedelapan. Nadira Salsabila."
Tinggal dua nama. Tinggal dua kursi. Dan masih ada puluhan orang di kursi yang belum dipanggil. Tangan Sekar basah oleh keringat. Ia menatap Dian di panggung, yang balas menatapnya dengan mata memohon, bibirnya bergerak tanpa suara: ayo, Sekar, ayo.
"Kesembilan." Kapten itu berhenti, membaca kartunya. Jeda itu terasa seperti selamanya.
"Rangga Pratama."
Seorang anak laki-laki di deretan depan—Sekar mengenalinya, anak yang tadinya mengejek sandal jepitnya di hari pertama—berdiri dengan sorak kemenangan. Ia naik ke panggung sambil menyeringai.
Tinggal satu nama. Satu kursi terakhir.
Sekar tidak bisa bernapas. Seluruh ruangan seakan menahan napas bersamanya. Ia menutup mata. Di kegelapan di balik kelopaknya, ia melihat garis putih di langit pagi Pantai Cemara. Ia melihat wajah Ibu yang menyelipkan gulungan uang. Ia melihat Bapak di haluan perahu, berkata burung besi, bukan buat kita.
Tolong, doanya, lebih dalam dari yang pernah ia panjatkan. Tolong.
Sang Kapten mengangkat kartu terakhir. Matanya menyapu seluruh ruangan, perlahan, sampai—Sekar bersumpah—berhenti tepat ke arahnya. Bibir Kapten itu membuka.
"Nama kesepuluh, dan terakhir, penerima beasiswa penuh Akademi Dirgantara Nusantara tahun ini, adalah—"
Mikrofon berdengung. Listrik di seluruh gedung tiba-tiba padam.