Wawancara akhir adalah yang paling menakutkan. Bukan karena pertanyaannya, tapi karena siapa yang bertanya.
Tiga orang duduk di balik meja panjang di sebuah ruangan berkarpet di kantor pusat Akademi Dirgantara Nusantara—gedung megah berlapis kaca di pusat kota provinsi. Di tengah, seorang lelaki berseragam pilot lengkap dengan empat garis di bahu: Kapten. Wajahnya keras, rambutnya cepak beruban, dan tatapannya seperti mampu membaca isi kepala orang. Di sisi kiri, seorang perwakilan akademi. Di sisi kanan, perempuan dari bagian beasiswa.
Sekar masuk dengan baju terbaiknya—satu-satunya kemeja yang ia punya, pinjaman dari Dian karena ukurannya pas. Ia merasa kecil di ruangan besar itu, tapi ia mengangkat dagunya dan berjalan tegak.
"Sekar Wulandari," kata sang Kapten, membaca berkas. Suaranya berat. "Nilai tes tertulis bagus. Tes fisik bagus, kapasitas paru luar biasa. Tes psikologi—" ia berhenti, menatap Sekar, "—menarik."
Sekar menunggu, tangannya terlipat rapi di pangkuan.
"Kamu tahu apa yang membuat akademi ini berbeda?" tanya Kapten itu. "Kami tidak mencetak orang yang bisa terbang. Mesin bisa diajari terbang. Kami mencari orang yang bisa membawa nyawa seratus, dua ratus penumpang di belakangnya, dan tetap membuat keputusan benar ketika tiga sistem mati sekaligus dan mereka punya empat detik untuk berpikir." Ia mencondongkan tubuh. "Kenapa kami harus memilih kamu, anak nelayan tanpa pengalaman apa pun, dibanding lima puluh sembilan orang lain di luar sana yang banyak di antaranya sudah punya jam terbang pribadi?"
Pertanyaan itu seperti tamparan. Sekar tahu Kapten itu sengaja menekannya, menguji apakah ia akan goyah.
Sekar menarik napas. "Karena saya nggak punya rencana cadangan, Pak."
Kapten itu mengangkat alis.
"Orang-orang di luar sana, kalau gagal di sini, mereka pulang ke kehidupan yang nyaman. Mereka bisa sekolah lain, kerja kantoran, lanjut bisnis keluarga. Buat mereka, ini salah satu pilihan." Suara Sekar tenang, tapi tegas. "Buat saya, ini satu-satunya. Kalau saya gagal, saya balik ke laut, narik jaring sampai tua. Saya nggak punya jaring pengaman, Pak. Jadi saya nggak akan setengah-setengah. Saya akan belajar lebih keras daripada siapa pun di kelas, karena saya nggak punya pilihan untuk malas."
Perempuan dari bagian beasiswa di sisi kanan mencatat sesuatu. Perwakilan akademi mengangguk tipis.
Tapi sang Kapten belum selesai. "Cita-cita tinggi itu murah, Sekar. Semua orang bisa bicara soal kerja keras. Tapi pelatihan di sini akan menghancurkanmu. Bangun jam empat pagi. Lari fisik sampai muntah. Belajar teori sampai larut, lalu diuji esoknya tanpa ampun. Instruktur yang akan meneriakimu sampai kamu meragukan kenapa kamu lahir. Banyak cadet yang lebih kuat darimu menyerah di bulan pertama." Ia menatap Sekar tajam. "Apa yang membuatmu yakin kamu tidak akan jadi salah satunya?"
Sekar menatap balik tanpa berkedip. "Karena saya sudah dibangunin jam tiga pagi seumur hidup saya, Pak. Buat melaut. Saya sudah kerja sampai tangan saya berdarah karena tali jaring. Saya sudah diteriakin badai yang jauh lebih nggak kenal ampun daripada instruktur mana pun." Ia berhenti sejenak. "Bedanya, semua kerja keras itu cuma buat bertahan hidup. Di sini, kerja keras saya buat mimpi saya. Itu jauh lebih ringan, Pak. Jauh lebih ringan."
Ruangan hening sejenak.
Lalu, untuk pertama kalinya, sudut bibir sang Kapten bergerak. Bukan senyum penuh, tapi sesuatu yang mendekati pengakuan.
"Satu pertanyaan terakhir," katanya. "Andai kamu sudah jadi kapten suatu hari, menerbangkan ratusan orang. Lalu kamu lihat anak kecil di kampung, anak nelayan seperti kamu dulu, menatap pesawatmu dari bawah. Apa yang ingin kamu sampaikan padanya?"
Sekar terdiam. Pertanyaan itu menyentuh sesuatu yang dalam. Matanya sedikit berkaca.
"Saya pengin dia tahu," kata Sekar pelan, "bahwa langit nggak nanya kamu anak siapa. Langit nggak nanya kamu dari mana. Langit cuma nanya: berani nggak kamu terbang?" Ia menelan ludah. "Karena dulu, nggak ada yang pernah ngomong itu ke saya. Saya harus nemuinnya sendiri di selembar kertas brosur. Saya pengin jadi orang yang ngomong itu langsung ke dia."
Tidak ada yang berbicara. Sang Kapten menatapnya lama, lalu mengangguk sekali, pelan.
"Terima kasih, Sekar. Kamu boleh keluar. Pengumuman final akan diumumkan lusa, pukul sembilan pagi, di gedung ini. Sepuluh nama akan dipanggil langsung di atas panggung."
Sekar berdiri, membungkuk hormat, dan berjalan keluar dengan kaki yang gemetar. Begitu pintu tertutup di belakangnya, ia bersandar ke dinding koridor dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia telah memberikan segalanya. Setiap kata, setiap jujur, setiap keberanian yang ia punya.
Sekarang, semuanya di luar kendalinya.
Dua hari menunggu terasa seperti dua tahun.