Tes psikologi berlangsung dua hari kemudian, di gedung yang sama tempat tes tertulis diadakan. Uang Ibu sudah hampir habis; Sekar menghitung receh terakhirnya, cukup untuk dua hari lagi kalau ia makan sehari sekali. Dian, tanpa banyak bicara, sering membagi bekalnya. Sekar mencoba menolak, tapi Dian selalu berkata, "Aku nggak bisa habisin sendiri. Bantu aku, dong."
Hari pertama tes psikologi adalah tes tertulis: ratusan pernyataan yang harus dijawab setuju atau tidak setuju, deretan gambar yang harus dilengkapi, pohon yang harus digambar. Sekar mengerjakannya sebaik mungkin, mengikuti naluri, menjawab jujur.
Hari kedua adalah wawancara psikolog. Satu per satu peserta dipanggil ke ruangan tertutup.
Ketika nomor dua-tujuh-empat dipanggil, Sekar masuk dengan jantung berdebar. Di dalam, seorang psikolog laki-laki paruh baya, berambut beruban, duduk di balik meja. Ia mempersilakan Sekar duduk, lalu menatap berkasnya cukup lama sebelum bicara.
"Sekar Wulandari. Dari Pantai Cemara. Anak nelayan." Ia mengangkat wajah. "Jauh sekali kamu datang."
"Iya, Pak."
"Kenapa pilot? Kenapa bukan, katakanlah, guru, atau perawat—sesuatu yang lebih mudah dijangkau dari latar belakangmu?"
Sekar sudah menduga pertanyaan ini. Tapi ia tidak menyiapkan jawaban hafalan. Ia menjawab dari hati.
"Karena setiap pagi, Pak, saya lihat pesawat lewat di atas kampung saya. Garis putih di langit. Dan setiap kali lihat itu, ada yang nyala di dalam dada saya. Saya nggak bisa jelasin pakai kata-kata. Tapi saya tahu, tempat saya bukan cuma di bawah, nunggu di pantai. Saya pengin ada di garis putih itu."
Psikolog itu mengamatinya, wajahnya datar, profesional. "Itu jawaban yang indah. Tapi terbang bukan soal keindahan, Sekar. Terbang itu soal tanggung jawab. Soal nyawa. Soal tetap tenang ketika semua salah." Ia mencondongkan tubuh. "Jadi sekarang aku tanya yang sulit. Apa yang kamu takutkan?"
Sekar terdiam. Ia bisa menjawab klise—takut gagal, takut mengecewakan orang tua. Tapi sesuatu di tatapan psikolog itu memberitahunya bahwa jawaban dangkal tidak akan cukup.
"Saya takut air, Pak," kata Sekar akhirnya, pelan.
Psikolog itu mengangkat alis. "Air? Kamu anak nelayan."
"Justru karena itu." Sekar menggenggam tangannya di pangkuan. "Tiga tahun lalu, ada badai. Saya dan Bapak terjebak di laut. Perahu kami oleng, hampir karam. Saya terlempar, lengan saya patah kena karang. Saya sempat tenggelam, Pak. Beberapa detik, saya di bawah air, gelap, nggak tahu mana atas mana bawah. Saya pikir saya mati."
Ruangan hening.
"Bapak narik saya naik. Tapi sejak itu, kalau laut lagi marah, saya gemetar. Saya tetap melaut tiap hari karena harus, tapi rasa takut itu nggak pernah hilang."
Psikolog itu menatapnya, kali ini dengan ekspresi yang berbeda—lebih tajam, lebih tertarik. "Lalu kenapa kamu mau terbang? Di udara, kalau salah, jatuhnya bukan cuma beberapa detik dalam air. Jatuhnya lebih jauh, lebih final."
Sekar menatap psikolog itu lurus. "Karena saya capek takut, Pak. Saya capek dikendalikan sama rasa takut. Kalau saya bisa belajar tenang di udara—di tempat yang paling jauh dari tanah, paling jauh dari yang saya kenal—mungkin saya bisa belajar tenang di mana saja. Mungkin saya bisa ngalahin rasa takut saya, bukan lari darinya."
Untuk waktu yang lama, psikolog itu tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap Sekar, dan Sekar membalas tatapan itu tanpa berkedip.
Akhirnya, psikolog itu menulis sesuatu di berkasnya. Sekar tidak bisa melihat apa.
"Kamu tahu," kata psikolog itu sambil meletakkan pulpennya, "kebanyakan orang yang masuk ke ruangan ini bilang mereka nggak takut apa-apa. Mereka pikir itu yang ingin kudengar." Ia tersenyum tipis. "Tapi penerbang terbaik bukan orang yang nggak punya rasa takut. Mereka orang yang tahu persis apa yang mereka takutkan, dan terbang tetap dengan kepala dingin. Pengakuan itu butuh keberanian yang lebih besar daripada kepura-puraan."
Ia berdiri, mengulurkan tangan. "Terima kasih atas kejujurannya, Sekar."
Sekar menjabat tangan itu, tidak tahu apakah itu pertanda baik atau buruk. Ia keluar dari ruangan dengan perasaan campur aduk, perasaan telah membuka sesuatu yang selama ini ia kunci rapat.
Tinggal satu tahap lagi. Wawancara akhir dengan dewan penguji akademi. Dan setelah itu, sepuluh nama akan dipilih dari enam puluh.
Sepuluh dari enam puluh. Sepuluh dari ribuan yang mendaftar di seluruh negeri.
Sekar menatap langit sore dari halaman gedung. Garis-garis awan tipis membentang seperti sayap.
Sedikit lagi.