RS Penerbangan jauh lebih besar dan bersih daripada puskesmas yang pernah Sekar datangi. Lantainya mengkilap, dindingnya putih, dan udara dingin dari pendingin ruangan membuat Sekar yang hanya memakai kaus tipis sedikit menggigil.
Enam puluh peserta yang lolos dibagi menjadi beberapa kelompok. Sekar dan Dian berada di kelompok yang sama. Mereka diberi formulir riwayat kesehatan untuk diisi.
Sekar menatap formulir itu. Pertanyaan demi pertanyaan. Riwayat penyakit. Alergi. Operasi. Dan satu baris yang membuat pulpennya berhenti:
"Apakah Anda pernah mengalami cedera serius atau trauma fisik? Jelaskan."
Sekar menelan ludah. Pikirannya melayang ke tiga tahun lalu. Ke malam badai. Ke perahu yang oleng. Ke tubuhnya yang terhempas ke karang, dan tulang lengan kirinya yang patah. Mereka tidak mampu ke rumah sakit waktu itu; seorang dukun patah tulang di kampung yang menyambungnya. Lengannya sembuh, tapi tidak sempurna. Kalau cuaca dingin, sendinya kadang ngilu. Dan ia tahu, kalau ada tes rontgen, mereka mungkin akan melihatnya.
Ia bisa berbohong. Ia bisa menulis "tidak ada". Tapi kalau ketahuan, ia akan langsung didiskualifikasi karena memalsukan data.
Sekar menarik napas. Lalu ia menulis dengan jujur: patah tulang lengan kiri tiga tahun lalu, ditangani secara tradisional, sudah sembuh, kadang ngilu saat dingin.
Tangannya gemetar saat menyerahkan formulir itu.
Tes dimulai. Pengukuran tinggi dan berat badan—Sekar memenuhi syarat, meski berada di batas bawah berat ideal karena terlalu kurus. Tes tekanan darah—normal. Tes paru-paru, meniup ke alat ukur—kapasitasnya bahkan di atas rata-rata, hasil dari bertahun-tahun menyelam mencari kerang dan menahan napas di bawah ombak.
"Bagus," gumam petugas saat melihat angka kapasitas paru Sekar. "Kamu perenang?"
"Nelayan, Pak," jawab Sekar.
Tes mata. Sekar membaca huruf-huruf di papan dari jarak jauh tanpa kesulitan. Matanya, yang terbiasa mencari ikan di kedalaman dan kapal di kejauhan, tajam sempurna.
Tes buta warna. Lembaran-lembaran titik warna disodorkan. Sekar membaca angka-angka tersembunyi di dalamnya dengan lancar. Lima. Delapan. Dua puluh sembilan. Tidak ada masalah.
Lalu tiba giliran yang ia takutkan. Rontgen.
Sekar masuk ke ruangan gelap. Teknisi memintanya berdiri di depan layar, mengangkat lengan, menahan napas. Mesin berdengung. Selesai.
Di ruang konsultasi, seorang dokter penerbangan—perempuan berkacamata dengan wajah serius—menatap hasil rontgen lengan Sekar di layar komputer. Sekar duduk di kursi seberang, telapak tangannya berkeringat.
"Kamu jujur menulis soal patah tulang ini," kata dokter itu, tanpa mengangkat wajah dari layar.
"Iya, Dok."
Dokter itu memperbesar gambar. "Penyambungannya tidak sempurna. Ada sedikit pergeseran di sini." Ia menunjuk garis tipis di tulang. "Ini yang bikin ngilu kalau dingin."
Sekar menunduk. Hatinya tenggelam. Inilah akhirnya. Inilah tembok yang Bapak peringatkan.
"Tapi," lanjut dokter itu, dan Sekar mengangkat kepalanya, "penyambungannya stabil. Tidak mengganggu fungsi gerak. Aku tadi lihat hasil tes fisikmu—kekuatan cengkeraman tangan kirimu bahkan normal. Rentang geraknya penuh." Dokter itu menatap Sekar lurus. "Kamu bisa angkat beban berat dengan lengan ini?"
"Tiap hari, Dok. Ember ikan, jaring basah."
Dokter itu diam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Untuk standar penerbangan sipil, selama fungsi gerak penuh dan stabil, cedera lama yang sudah sembuh seperti ini masih bisa diterima dengan catatan. Kamu lolos. Tapi aku catat ini di rekam medismu. Jaga betul lengan itu."
Sekar menatap dokter itu, hampir tidak percaya. "Lolos, Dok?"
"Lolos." Dokter itu tersenyum tipis untuk pertama kalinya. "Dan satu lagi—kapasitas parumu salah satu yang terbaik yang kuukur tahun ini. Apa pun yang kamu lakukan di kampungmu, itu menempa tubuhmu jadi bagus untuk terbang."
Sekar keluar dari ruangan itu dengan langkah yang hampir melayang. Di koridor, Dian sudah menunggu, cemas.
"Gimana?"
"Lolos," bisik Sekar, lalu mengulangnya lebih keras, seakan ingin meyakinkan dirinya sendiri. "Aku lolos, Dian."
Dua tahap sudah terlewati. Tinggal dua lagi: tes psikologi dan wawancara akhir. Dan Sekar mulai percaya, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, bahwa langit benar-benar mungkin.