Ternyata, langit punya bahasanya sendiri. Dan bukan bahasa yang Sekar kuasai.
Minggu kedua, ground school memasuki materi komunikasi penerbangan. Instruktur baru—seorang mantan pengatur lalu lintas udara bernama Bu Hartini—berdiri di depan kelas dan memutar rekaman percakapan radio antara pilot dan menara kontrol.
Suara di rekaman itu cepat, berderak, penuh istilah yang asing. "Dirgantara two-seven-four, cleared for take-off runway two-seven, wind two-six-zero at eight knots, contact departure one-two-one decimal five."
"Siapa yang bisa mengulang clearance tadi?" tanya Bu Hartini.
Beberapa cadet langsung mengangkat tangan—anak-anak kota yang fasih berbahasa Inggris, yang sudah terbiasa dengan film dan game berbahasa asing. Salah satunya mengulang dengan lancar, lengkap dengan readback yang benar.
Sekar duduk diam, jantungnya tenggelam.
Ia paham fisika. Ia paham angka. Tapi bahasa Inggris penerbangan—fraseologi radio yang baku, angka-angka yang harus diucapkan satu per satu ("niner" untuk sembilan, "tree" untuk tiga), istilah-istilah teknis yang berderet cepat—itu medan yang sama sekali asing. Di Pantai Cemara, tidak ada yang berbahasa Inggris. Sekolahnya hanya mengajarkan tata bahasa dasar dari buku cetak yang fotokopiannya buram. Ia bisa membaca, pelan-pelan. Tapi mendengar dan menirukan dengan kecepatan radio? Mustahil.
"Wulandari." Bu Hartini menunjuknya. "Coba ulang clearance tadi."
Sekar berdiri. Mulutnya terbuka. Tapi yang keluar hanya potongan yang berantakan. "Dirgantara... two-seven-four... cleared... take-off..." Ia tersendat. Pengucapannya kaku, kata-katanya tertinggal jauh dari kecepatan rekaman. Wajahnya memerah saat ia menyadari beberapa cadet menahan tawa.
"Cukup," kata Bu Hartini, tidak kejam, tapi tegas. "Kamu paham isinya?"
"Paham isinya, Bu. Cuma... susah ngomongnya. Cepat banget."
Bu Hartini mengangguk. "Pemahaman tanpa kelancaran tidak cukup di radio, Wulandari. Di udara, kamu cuma punya beberapa detik. Salah dengar satu angka frekuensi, kamu bisa kehilangan kontak dengan menara. Salah baca satu instruksi, kamu bisa masuk ke jalur pesawat lain." Ia menatap Sekar. "Bahasa ini bukan pelengkap. Ini nyawa. Perbaiki, atau kamu tidak akan pernah dilepas terbang."
Sekar duduk, dadanya berat. Untuk pertama kalinya sejak masuk akademi, ia merasa benar-benar tertinggal—bukan karena kurang pintar, tapi karena dari mana ia berasal.
Malam itu, saat belajar mandiri, Dian menemukannya di sudut perpustakaan asrama, menatap buku fraseologi radio dengan wajah putus asa.
"Susah?" tanya Dian, duduk di sebelahnya.
"Aku ngerti semua artinya," kata Sekar pelan. "Tapi pas keluar dari mulut, jadi belibet. Lidahku nggak biasa. Telingaku juga." Ia menutup buku. "Anak-anak lain udah lancar dari lahir, Dian. Aku baru mulai dari nol."
Dian diam sebentar. Lalu ia berdiri, mengambil sesuatu dari tasnya—sebuah pemutar musik kecil dengan earphone—dan menaruhnya di meja.
"Aku punya rekaman ratusan percakapan radio asli," katanya. "Ayahku ngumpulin buat aku waktu kecil. Dengerin tiap malam, sampai tidur. Bukan buat ngerti dulu—buat ngebiasain kuping. Lama-lama otakmu bakal nangkep polanya. Niner, tree, fife. Angka, frekuensi, clearance. Kayak lagu. Diulang terus, nempel sendiri."
Sekar menatap pemutar musik itu. "Tapi itu punyamu—"
"Kita pinjeman terus, kan?" Dian tersenyum. "Kamu pinjemin aku buku Pak Wirawan. Aku pinjemin kamu kuping ayahku. Impas."
Maka mulai malam itu, Sekar punya ritual baru. Setiap malam setelah lampu padam, di kasur atas dekat jendela, ia memasang earphone dan mendengarkan suara-suara dari menara kontrol di seluruh dunia—pilot dan controller, clearance dan readback, angka demi angka diucapkan dalam ritme yang asing. Mula-mula seperti dengung tak berarti. Tapi malam demi malam, pola itu mulai muncul. Niner. Tree. Cleared to land. Roger. Wilco.
Ia mengulang dengan bisikan, sendirian dalam gelap, sambil menatap sepotong langit malam. Lidahnya yang terbiasa bahasa pasir dan garam, pelan-pelan, belajar mengeja bahasa langit.
Dua minggu kemudian, saat Bu Hartini kembali memutar rekaman dan bertanya, Sekar mengangkat tangannya sendiri. Ia berdiri, dan mengulang clearance itu—pelan memang, belum sefasih anak kota, tapi benar, lengkap, dengan readback yang tepat.
Bu Hartini menaikkan alis. "Kamu berlatih."
"Tiap malam, Bu," kata Sekar. "Sampai ketiduran pakai earphone."
"Bagus." Untuk pertama kalinya, Bu Hartini tersenyum tipis. "Itu yang membedakan pilot dari penumpang, Wulandari. Penumpang cuma duduk. Pilot belajar bahasa langit, malam demi malam, sampai tertidur."
Sekar duduk, dan di bawah meja, ia menggenggam earphone pinjaman Dian seperti menggenggam sebuah harta.