Surat itu datang di hari Jumat, diantar petugas pos ke kotak surat asrama, beralamatkan tangan Ibu yang miring dan susah dibaca.
Sekar membukanya di kasur atas, sendirian, di bawah cahaya jendela. Kertasnya kasar, kertas pembungkus warung yang dilipat jadi amplop. Tinta pulpennya beberapa kali macet.
Nak Sekar,
Ibu titip surat lewat anaknya Bu Lurah yang mau ke kota. Kabar di sini biasa saja. Ibu sehat. Cuma mau bilang, jangan khawatirkan rumah. Belajar yang benar di sana. Jangan sampai nilainya jelek karena mikirin kampung.
Mesin perahu Bapak rusak lagi, Nak. Yang ini agak parah. Bapak sudah bawa ke bengkel Pak Darto tapi katanya harus ganti banyak. Bapak belum punya uang, jadi sementara melaut numpang perahu Pak Karto, bagi hasil. Dapatnya jadi sedikit.
Utang ke koperasi juga belum lunas. Tapi jangan dipikirkan. Itu urusan Bapak sama Ibu.
Kamu fokus saja. Doakan Bapak.
Ibu.
Sekar membaca surat itu tiga kali. Setiap kali, dadanya makin sesak.
Jangan dipikirkan. Itu urusan Bapak sama Ibu. Tapi justru karena Ibu menulis "jangan dipikirkan," Sekar tahu keadaannya jauh lebih buruk dari yang ditulis. Ibu selalu begitu—menyembunyikan beban di balik kalimat yang menenangkan. Mesin rusak parah. Melaut numpang perahu orang, bagi hasil, dapat sedikit. Utang koperasi menumpuk. Dan tabungan arisan—tabungan yang seharusnya jadi pegangan Ibu kalau ada apa-apa—sudah habis untuk ongkos bus dan makan Sekar selama tes.
Sekar memandang ke sekelilingnya. Kasur yang empuk. Lemari penuh seragam baru. Sebentar lagi ada makan malam—nasi, lauk, sayur, gratis, sebanyak yang ia mau. Asrama ini memberinya semua yang tak pernah ia punya di rumah. Dan justru karena itu, rasa bersalah menggerogotinya seperti air laut mengikis karang.
Ia di sini, kenyang dan hangat, belajar terbang. Sementara di Pantai Cemara, Bapak mendayung perahu pinjaman di laut, dengan tangan yang melepuh, untuk pulang membawa ikan yang harus dibagi dua dengan pemilik perahu. Ibu menghitung utang koperasi di bawah lampu petromaks.
Malam itu, di makan malam, Sekar tak bisa menelan. Nasi di piringnya terasa seperti pasir.
"Kenapa?" tanya Dian, memperhatikan. "Dari tadi diem."
Sekar menyodorkan surat itu. Dian membacanya pelan, lalu meletakkannya dengan hati-hati.
"Sekar," katanya, "ini bukan salah kamu."
"Aku makan enak di sini, Dian." Suara Sekar bergetar. "Tabungan Ibu habis buat aku. Mesin Bapak rusak parah dan mereka nggak punya uang. Aku—aku ngerasa kayak nyolong. Kayak aku ambil semua yang mereka punya cuma buat mimpiku."
"Kamu nggak nyolong apa-apa." Dian menatapnya. "Dengerin aku. Beasiswa ini—satu-satunya cara kamu bisa bales semua itu. Kamu pikir kalau kamu pulang sekarang, ikut melaut, keadaan keluargamu jadi lebih baik? Nggak. Kamu cuma jadi satu mulut lagi yang harus dikasih makan, satu nelayan lagi yang dapatnya dikit." Ia menggenggam tangan Sekar. "Tapi kalau kamu jadi pilot—kamu bisa benerin mesin Bapak. Bayar lunas utang koperasi. Beliin Ibu rumah yang nggak bocor. Itu yang Ibumu mau, Sekar. Makanya dia bilang 'fokus saja'. Dia nggak mau kamu pulang. Dia mau kamu berhasil."
Sekar menunduk, air matanya jatuh ke piring.
"Rasa bersalahmu itu," lanjut Dian pelan, "ubah jadi bahan bakar. Tiap kali kamu capek, tiap kali kamu mau nyerah, inget mesin perahu yang rusak itu. Inget tangan Ibumu yang nyerahin tabungan terakhirnya. Bukan buat kamu berhenti—buat kamu jalan lebih cepat."
Malam itu, di kasur atas, Sekar tidak memasang earphone. Ia hanya menatap langit lewat jendela, surat Ibu didekap di dada.
"Tunggu aku, Pak. Bu," bisiknya pada gelap. "Aku nggak akan sia-siain ini. Tiap hari di sini, aku bawa kalian. Aku janji."
Lalu ia menyalakan lampu baca kecil, membuka buku teori, dan belajar sampai jauh melewati jam yang seharusnya. Bukan karena disuruh. Tapi karena di Pantai Cemara, ada mesin perahu yang rusak yang hanya bisa ia perbaiki dari atas sana—dari langit.