Bulan kedua, cadet tahun pertama mulai masuk ruang simulator.
Ruang itu gelap dan dingin, ber-AC sepanjang waktu untuk menjaga mesin. Di tengahnya berdiri sebuah kotak besar berkaki hidrolik—kokpit tiruan lengkap dengan kursi, panel instrumen, kemudi, dan layar lebar yang menampilkan pemandangan luar yang nyaris seperti sungguhan. Simulator pesawat latih dasar. Tempat cadet membuat kesalahan tanpa harus mati karenanya.
"Simulator ini bukan mainan," kata Instruktur Pranata, yang ternyata juga memegang sesi simulator. "Tapi simulator memberi kalian satu hadiah yang tidak diberikan langit sungguhan: kalian boleh jatuh. Boleh menabrak. Boleh mati seribu kali di sini, supaya nanti di udara, kalian hidup. Jadi jangan main aman. Lakukan kesalahan di sini, banyak-banyak."
Satu per satu cadet masuk. Sekar menunggu gilirannya dengan jantung berdebar—debar antara antusias dan gugup. Ini paling dekat ia pernah duduk di kursi pilot.
Ketika namanya dipanggil, ia naik ke kokpit, duduk di kursi kiri—kursi pilot. Sabuk pengaman terpasang. Layar di depannya menyala, menampilkan landasan pacu di bawah langit biru. Tangannya menggenggam kemudi. Kakinya menyentuh pedal. Untuk sesaat, ia lupa bernapas.
"Latihan dasar dulu," suara Instruktur Pranata dari konsol di belakang. "Lepas landas, naik ke seribu kaki, belok kanan, terbang lurus. Santai. Rasakan pesawatnya."
Sekar melakukannya. Mendorong tuas gas, melihat angka kecepatan naik, menarik kemudi pelan—dan layar menampilkan landasan jatuh ke bawah, langit naik ke depan. Pesawat tiruan itu lepas landas. Sekar tersenyum lebar, jantungnya melonjak. Bahkan dalam simulator, bahkan dengan layar dan hidrolik, rasanya ajaib. Ia terbang.
"Bagus," kata Pranata. "Tanganmu halus. Tidak kasar. Bagus untuk pemula." Lalu, setelah beberapa menit: "Sekarang kita naikkan tingkat. Skenario kegagalan mesin. Kau harus mendarat darurat. Aku akan pilih lokasinya."
Layar berubah. Suara mesin yang tadi menderu mendadak tersendat, lalu mati. Hening yang mengerikan—hanya suara angin. Lampu peringatan menyala merah. Dan pemandangan di layar bergeser, menampilkan satu-satunya tempat datar untuk mendarat darurat:
Laut.
Hamparan air biru kelabu membentang sampai cakrawala, ombak berkilau di bawah sinar matahari tiruan. Tidak ada landasan. Tidak ada daratan. Hanya air, luas, dalam, menunggu di bawah.
"Ditching," kata suara Pranata, jauh dan teredam di telinga Sekar. "Pendaratan darurat di air. Turunkan pesawat dengan selamat ke permukaan laut. Mulai."
Tapi Sekar tidak mulai.
Sesuatu terjadi di dalam tubuhnya. Saat matanya menatap hamparan air di layar—air yang naik mendekat, makin lama makin besar memenuhi pandangan—dadanya mengencang. Jantungnya berpacu liar. Napasnya jadi pendek, tersengal. Tangannya, yang tadi halus di kemudi, mendadak basah oleh keringat dingin dan gemetar tak terkendali.
Air. Air di bawah. Air yang naik. Air yang menelan.
Tiga tahun lalu kembali menghantamnya dalam sekejap. Badai. Perahu terbalik. Tubuhnya dilempar ombak. Gelap di bawah permukaan, tak tahu mana atas mana bawah, paru-paru terbakar, air masuk ke hidung dan mulut, kepastian dingin bahwa ia akan mati di sini—
"Wulandari?" suara Pranata. "Kau menyimpang dari jalur. Kecepatanmu turun. Wulandari, kendalikan pesawatmu."
Tapi Sekar tidak bisa. Tangannya membeku di kemudi. Matanya terkunci pada air di layar yang naik, naik, naik. Layar memenuhi seluruh pandangannya dengan biru kelabu, dengan ombak, dengan kematian. Ia mendengar suaranya sendiri, tipis dan ngeri: "Nggak—nggak mau—"
Pesawat tiruan menukik. Air membanjiri layar. Lalu hitam. Suara benturan keras, lampu menyala, dan hidrolik berhenti dengan sentakan.
Crash.
Hening di ruang simulator.
Sekar duduk di kursi, gemetar, napasnya tersengal seperti baru tenggelam sungguhan, keringat membasahi kemejanya. Tangannya masih mencengkeram kemudi dengan buku jari putih. Ia tidak bisa melepasnya.
Pintu kokpit terbuka. Instruktur Pranata berdiri di sana, menatapnya. Wajahnya tidak marah. Untuk pertama kalinya, sesuatu di mata tajam itu melunak—sesuatu yang mirip pengertian, atau kewaspadaan.
"Keluar," katanya pelan. "Istirahat dulu."
Sekar turun dengan kaki goyah. Di luar, cadet-cadet lain menatap—sebagian heran, sebagian menahan tawa. Dan di sudut, Rangga berdiri dengan tangan terlipat, matanya menyipit, memperhatikan Sekar dengan tatapan yang membuat bulu kuduk meremang. Bukan tatapan mengejek biasa. Tatapan yang sedang menghitung sesuatu. Tatapan yang menyimpan informasi untuk dipakai nanti.
Sekar menunduk, menyembunyikan tangannya yang masih gemetar.
Ia bisa menghitung angin sakal. Ia bisa menjelaskan aerodinamika dengan dayung. Ia bisa belajar bahasa langit sampai tertidur.
Tapi air—air masih bisa membekukannya dalam sekejap. Dan di dunia penerbangan, di mana laut membentang di bawah hampir setiap rute, kelemahan itu bisa membunuhnya. Atau menggugurkannya dari mimpinya.
Untuk pertama kalinya sejak diterima, Sekar bertanya pada dirinya sendiri dengan ngeri: bagaimana kalau rasa takut ini tidak pernah bisa ia kalahkan?