Berita tentang Sekar yang membeku di simulator menyebar di asrama dalam dua hari. Tidak ada yang mengatakannya langsung di depannya, tapi Sekar bisa merasakannya—dari tatapan yang sedikit lebih lama, dari bisikan yang berhenti saat ia lewat, dari cara beberapa cadet reguler memandangnya seakan ia retakan kecil yang menunggu pecah.
Anak nelayan yang takut air. Ironi yang terlalu lezat untuk tidak dibicarakan.
Tapi yang membuat Sekar benar-benar gelisah bukan bisik-bisik itu. Melainkan Rangga.
Sejak insiden simulator, Rangga berubah. Ejekannya berkurang. Ia tidak lagi melempar lelucon soal sandal jepit atau kampung. Sebaliknya, ia jadi lebih diam, lebih sering memperhatikan Sekar dari jauh, dengan tatapan menghitung yang membuat Sekar tidak nyaman. Seolah Rangga sedang mengumpulkan sesuatu.
Sekar mendapat jawabannya pada Kamis sore.
Ia sedang sendirian di lorong dekat ruang administrasi medis, hendak mengambil jadwal pemeriksaan kesehatan rutin, ketika ia melihat Rangga keluar dari ruang itu—ruang yang seharusnya hanya boleh dimasuki staf medis. Rangga melipat selembar kertas dan memasukkannya ke saku saat melihat Sekar. Ia tidak terkejut. Ia justru tersenyum—senyum tipis yang dingin.
"Wulandari," katanya, berhenti di depannya. "Pas banget."
"Kamu ngapain di ruang medis?" tanya Sekar, waspada.
"Kebetulan lewat." Rangga menepuk saku bajunya, tempat kertas tadi. "Tapi sambil lewat, aku nemu hal menarik. Tahu nggak, ternyata rekam medis cadet nggak sesusah itu diakses, kalau orangnya tahu cara minta tolong yang benar." Ia memiringkan kepala. "Misalnya rekam medis kamu."
Tubuh Sekar mendingin. "Itu rahasia. Kamu nggak punya hak—"
"Lengan kiri," potong Rangga pelan, menikmati setiap kata. "Patah tulang tiga tahun lalu. Disambung dukun. Penyambungan nggak sempurna, ada sedikit pergeseran. Diloloskan dokter dengan catatan." Ia menatap mata Sekar. "Aku benar, kan?"
Sekar tidak menjawab. Tapi wajahnya sudah cukup jadi jawaban.
"Kamu tahu apa artinya catatan di rekam medis, Wulandari?" lanjut Rangga, suaranya turun jadi bisikan licik. "Artinya kamu diloloskan dengan syarat. Artinya kalau lengan itu bermasalah—nyeri, lemah, mengurangi kemampuanmu mengendalikan pesawat—mereka bisa mencabut sertifikasimu kapan saja. Standar medis penerbangan itu kejam. Aku tahu. Ayahku petinggi maskapai. Aku besar dengan aturan-aturan ini."
Ia melangkah lebih dekat. "Dan sekarang aku tahu sesuatu yang lain. Aku lihat kamu di simulator. Tangan kamu gemetar. Bukan cuma takut air, Wulandari—aku lihat kamu meringis sebelum panik. Lengan kiri, kan? Sakit pas kamu cengkeram kemudi keras-keras?"
Sekar membuka mulut untuk membantah, tapi tak ada suara yang keluar. Karena Rangga, dengan licik, telah menebak setengah kebenaran. Memang bukan lengannya yang membuatnya panik di simulator—itu air. Tapi lengan itu memang ngilu saat dingin, saat ia menggenggam keras. Dan ruang simulator selalu dingin.
"Apa maumu?" tanya Sekar, suaranya rendah.
Rangga tersenyum lebar sekarang, senyum kemenangan. "Aku belum tahu," katanya jujur. "Tapi aku suka punya kartu di tangan. Lengan yang catatannya bermasalah. Fobia air yang bikin kamu crash di simulator. Dua-duanya, kalau dilaporkan ke instruktur dengan cara yang tepat, di waktu yang tepat—" ia mengangkat bahu, "—bisa bikin satu kursi beasiswa kosong. Dan kursi yang kosong itu, bisa diisi cadet lain yang lebih pantas."
"Aku diloloskan dokter," kata Sekar, berusaha mengeraskan suaranya. "Dengan jujur. Aku tulis sendiri riwayat patah tulangku di formulir. Aku nggak nyembunyiin apa-apa."
"Kejujuranmu nggak akan menyelamatkanmu kalau lenganmu gagal di udara," balas Rangga dingin. "Atau kalau kamu beku lagi pas ada laut di bawah. Kamu tahu seberapa banyak rute latih yang lewat laut, Wulandari? Hampir semua." Ia menepuk saku bajunya sekali lagi. "Aku simpan ini dulu. Kamu belajar yang rajin, ya. Sayang sekali kalau anak nelayan yang udah sejauh ini, jatuh gara-gara tulang yang nggak nyambung benar."
Ia berlalu, meninggalkan Sekar berdiri sendirian di lorong, tubuhnya dingin, tangan kirinya—seolah dipanggil oleh kata-kata Rangga—mulai berdenyut ngilu di udara ber-AC.
Sekar menatap punggung Rangga yang menjauh. Untuk pertama kalinya, rasa takutnya bukan pada air. Bukan pada langit. Tapi pada manusia—pada seseorang yang kini menggenggam dua rahasia paling rapuh dalam hidupnya, dan menunggu waktu terbaik untuk memakainya.
Ia menyandar ke dinding lorong, memejamkan mata, dan memijat lengan kirinya yang ngilu.
Dua kelemahan. Lengan yang ngilu, dan air yang membekukan. Dua hal yang tak bisa ia sembuhkan dengan belajar semalaman atau mendengar rekaman radio. Dua hal yang lahir dari satu badai, tiga tahun lalu, yang nyaris membunuhnya—dan yang kini, lewat tangan Rangga, mengancam mimpinya sekali lagi.
"Aku udah lawan badai itu sekali," bisik Sekar pada dirinya sendiri, membuka mata, menatap koridor kosong dengan rahang mengeras. "Aku akan lawan lagi. Setiap hari kalau perlu."
Tapi di dalam dadanya, ia tahu—pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai.