Papan pengumuman di koridor blok teori itu hanya selembar kertas putih yang ditempel dengan empat selotip di tiap sudut. Tapi pagi itu kertas itu seperti magnet. Cadet berdesakan di depannya, ada yang berjinjit, ada yang menyikut, ada yang diam-diam menahan napas.
Sekar berdiri di barisan paling belakang. Tangannya yang kasar menggenggam tali ransel kecilnya erat-erat. Ujian teori pertama—aerodinamika, meteorologi dasar, navigasi—sudah diselesaikan tiga hari lalu. Tiga malam itu pula ia tidak tidur nyenyak. Bukan karena tak siap. Justru karena ia takut tahu bahwa semua kerja kerasnya tidak cukup.
"Wulandari." Dian menarik lengannya, matanya berbinar di balik kacamata. "Lihat. Lihat ke atas."
Sekar mendongak. Daftar itu disusun berdasarkan peringkat. Nama paling atas dicetak agak tebal.
PERINGKAT 1 — SEKAR WULANDARI.
Untuk sesaat ia tidak percaya pada matanya sendiri. Ia membaca ulang. Huruf-huruf itu tidak berubah. Namanya. Di paling atas. Di atas nama-nama anak kota yang sejak hari pertama memandangnya seperti memandang sesuatu yang nyasar masuk gerbang akademi.
"Pasti salah ketik," kata sebuah suara dingin di sampingnya.
Rangga. Tangannya menyilang di dada, dagunya terangkat. Tapi Sekar melihat sesuatu yang lain di matanya—nama Rangga sendiri ada di urutan keempat, dan itu jelas bukan tempat yang ia rencanakan untuk dirinya.
"Nggak salah ketik," sahut Aulia Rizki, yang berdiri tak jauh. Gadis berambut ikal itu menunjuk angka di samping nama Sekar. "Sembilan puluh empat. Soal navigasi nomor delapan belas yang bikin separuh kelas mati, dia kerjain bener. Aku yang salah."
"Aku juga salah di situ," Galang Saputra menimpali, menggaruk tengkuknya sambil nyengir. "Eh, Sekar, itu jawabannya gimana sih? Yang headwind sama waktu tempuh."
Sekar mengerjap. Ini pertama kalinya ada cadet selain Dian yang bertanya padanya bukan untuk merendahkan, tapi karena benar-benar ingin tahu.
"Itu... mirip soal waktu aku ikut tes tertulis dulu," katanya pelan. "Angin sakal ngurangin kecepatan tanah. Jadi waktunya nambah. Aku cuma bayangin perahu Bapak ngelawan arus. Kalau ngelawan arus, lebih lama sampainya. Sama aja."
Galang terbengong. "Perahu," ulangnya, seolah baru menemukan rumus baru. Lalu ia tertawa. "Gila. Aku belajar dari buku tebal lima ratus halaman, kamu belajar dari perahu bapakmu."
Sekar tidak tahu harus menjawab apa. Tapi di dadanya ada sesuatu yang menghangat, sesuatu yang sudah lama terasa beku sejak hari pertama ia menginjak akademi ini dengan sandal jepit dan dipermalukan.
Nadira Salsabila, yang biasanya pendiam dan menjaga jarak, mendekat. Ia menyodorkan tangan. "Aku Nadira. Selama ini aku diam aja karena... yah, kupikir kamu bakal nyerah duluan bulan pertama, kayak yang lain. Ternyata aku salah." Ia tersenyum tipis. "Maaf udah salah nilai."
Sekar menjabat tangan itu. Tangan Nadira halus; tangan Sekar penuh kapalan. Dua dunia bertemu di satu genggaman.
Rangga mendengus dan berbalik pergi, tapi langkahnya kaku. Di koridor yang mulai sepi, Dian melingkarkan lengan ke bahu Sekar.
"Kamu sadar nggak," bisik Dian, "kamu baru aja ngubah cara mereka ngeliat kamu? Bukan karena kamu minta dikasihani. Tapi karena kamu menang di soal yang sama dengan mereka."
Sekar menatap kertas pengumuman itu sekali lagi. Ia teringat malam-malam di atap rumah panggung, menatap garis putih pesawat di langit, berjanji pada diri sendiri: suatu hari, aku yang di atas sana.
Hari ini ia belum di atas sana. Tapi untuk pertama kalinya, langkahnya ke atas terasa nyata.
Sore itu, di kantin, untuk pertama kalinya pula meja Sekar tidak kosong. Aulia membawa kentang gorengnya, Galang menyeret kursi sambil membawa buku navigasi penuh coretan, Nadira duduk dengan tenang, dan Dian—seperti biasa—di sampingnya.
"Besok mulai materi penerbangan praktik," kata Aulia, menjilat garam dari ujung jarinya. "Kita bakal naik pesawat beneran sebentar lagi. Deg-degan nggak?"
Sekar menelan ludah. Naik pesawat. Mimpi seumur hidupnya. Ia mengangguk. "Deg-degan," akunya jujur.
Tapi di dalam hati, ada satu hal lain yang tidak ia ucapkan. Sesuatu yang akan ia hadapi di udara nanti. Sesuatu yang lebih dingin daripada gugup.
Air. Selalu ada laut di bawah langit kampungnya.