Hanggar pelatihan ADN berbau aneh—campuran logam, oli, karet, dan sesuatu yang tajam menyengat yang kemudian Sekar tahu sebagai avtur. Bau itu. Bau yang dulu hanya ia bayangkan dari garis putih di langit, kini nyata, masuk ke paru-parunya yang luar biasa luas.
Empat pesawat latih kecil bersayap tinggi berbaris di apron, catnya putih dengan garis biru, hidung mungilnya menghadap landasan. Sekar berdiri di depan salah satunya dan untuk sesaat lupa cara bernapas.
"Jangan dipelototin kayak gitu, nanti pesawatnya malu," kata sebuah suara serak di belakang.
Sekar berbalik cepat. Seorang lelaki bertubuh tegap berdiri di sana, usianya mungkin lima puluhan, kulit wajahnya cokelat terbakar matahari ribuan jam terbang, dan di sudut matanya ada keriput orang yang banyak menyipit melawan cahaya. Seragamnya rapi tapi lengannya tergulung. Di dadanya ada brevet penerbang yang sudah pudar warnanya saking lamanya dipakai.
"Saya Instruktur Bayu," katanya, tanpa basa-basi. "Ribuan jam di pesawat ini dan saudaranya. Mulai hari ini, sebagian dari kalian saya yang pegang. Termasuk kamu." Ia menatap papan nama di dada Sekar. "Wulandari. Yang nomor satu di teori."
"Iya, Pak."
"Bagus. Sekarang lupakan nomor satu itu." Instruktur Bayu menepuk badan pesawat. "Di kelas, salah satu soal cuma bikin nilai turun. Di sini, salah satu keputusan bisa bikin kamu nggak pulang. Teori cuma janji. Pesawat ini yang nagih."
Cadet lain berkumpul—Dian, Rangga, Aulia, Galang, dan beberapa nama lain. Instruktur Bayu menggiring mereka ke ruang brifing kecil di sudut hanggar. Di papan tulis ada gambar pesawat dari samping, dengan panah-panah gaya: angkat, berat, dorong, hambat.
"Empat gaya," kata Instruktur Bayu, mengetuk papan. "Kalian hafal di luar kepala dari teori. Tapi besok kalian akan ngerasain mereka di pantat kalian sendiri. Angkat lebih besar dari berat, kita naik. Dorong lebih besar dari hambat, kita maju. Sederhana. Yang nggak sederhana adalah kepala kalian waktu bumi mulai jauh."
Ia berkeliling ruangan, menatap satu per satu.
"Brifing sebelum terbang itu bukan formalitas. Ini ritual. Kita bahas cuaca, rute, bahan bakar, bobot, prosedur darurat. Kalau ada satu hal yang kalian nggak yakin—satu—kalian wajib bilang. Sok tahu di darat masih bisa diketawain. Sok tahu di udara bisa fatal." Matanya berhenti di Rangga, yang dari tadi terlihat tak sabar. "Kamu. Pratama. Kenapa kita selalu lepas landas melawan arah angin?"
Rangga tersentak. "Eh—biar... biar lebih cepat, Pak."
"Salah." Instruktur Bayu tidak meninggikan suara, dan justru itu yang membuatnya menakutkan. "Melawan angin biar dapat kecepatan udara lebih tinggi di kecepatan tanah lebih rendah. Artinya jarak landasan yang kita butuhkan lebih pendek. Artinya selamat." Ia menoleh. "Wulandari, jelasin pakai bahasamu sendiri."
Sekar berdiri, jantungnya berdegup. "Kayak... kayak ngedayung perahu ngelawan arus pas mau berhenti, Pak. Arusnya bantu ngerem. Kita nggak kebablasan ke karang."
Ruangan hening. Instruktur Bayu menatapnya cukup lama. Lalu sudut bibirnya naik sedikit—bukan senyum penuh, tapi cukup.
"Anak laut," gumamnya. "Kamu udah ngerti angin sebelum kamu tahu namanya angin." Ia mengangguk. "Bagus. Pertahankan kepala yang dingin itu. Karena besok, Wulandari, kamu yang pertama saya bawa naik."
Sekar merasa darahnya berdesir. Besok. Roda akan lepas dari bumi. Mimpinya akan punya ketinggian.
Tapi saat brifing selesai dan ia melirik peta rute latih yang dipasang di dinding, jantungnya tiba-tiba terasa dingin. Rute lokal itu, garis merahnya, di satu sisi menyusuri tepi pantai. Melewati laut.
Di bawah sayap nanti, akan ada air.