Pagi itu langit bersih, biru muda dengan sapuan awan tipis di ufuk timur. Angin sepoi dari barat laut—Instruktur Bayu sudah mengeceknya, mencatatnya, dan mengangguk puas. Cuaca sempurna untuk penerbangan pertama.
Sekar duduk di kursi kiri, kursi pilot. Sabuk pengaman menyilang dadanya seperti pelukan yang terlalu erat. Di depannya, panel instrumen yang sudah ia hafal dari buku kini bersinar nyata: altimeter, indikator kecepatan udara, kompas, putaran mesin. Tangan kasarnya bergetar sedikit di atas yoke.
"Tarik napas, Wulandari," kata Instruktur Bayu dari kursi kanan, suaranya tenang lewat interkom helm. "Paru-paru kamu yang katanya juara itu, pakai sekarang. Tarik panjang. Buang pelan."
Sekar menurut. Paru-parunya yang terlatih dari menyelam mencari kerang memenuhi rongga dadanya, lalu mengempis perlahan. Getaran di tangannya berkurang.
"Ikuti saya di kontrol. Tangan kamu ringan aja, jangan dicengkeram kayak mau ngebunuh." Instruktur Bayu menggerakkan throttle maju. Mesin meraung, dari deru malas jadi auman bulat. Pesawat mulai bergerak menyusuri landasan.
Sekar merasakannya dulu di pantatnya, persis seperti yang dikatakan instruktur. Getaran roda di aspal. Lalu kecepatan menumpuk—indikator merayap naik, lima puluh knot, enam puluh, getaran semakin halus seperti perahu yang akhirnya menemukan ombak yang tepat.
"Sedikit tarik," bisik Instruktur Bayu.
Sekar menarik yoke perlahan.
Dan getaran roda itu... hilang.
Begitu saja. Aspal, getaran, bumi—semuanya lepas. Hidung pesawat naik, dan dunia di luar kaca depan jatuh ke bawah. Hanggar mengecil. Apron mengecil. Pohon-pohon di pinggir bandara jadi sapuan hijau.
Roda telah lepas dari bumi.
Sekar tidak bisa berkata-kata. Sesuatu yang teramat besar membuncah di dadanya, mendesak naik ke tenggorokan. Bumi yang selama tujuh belas tahun menahannya—pasir, lumpur, jaring ikan, utang koperasi, sandal jepit, ejekan—semuanya kini di bawah. Di bawah dirinya.
Ia di atas.
"Sekar yang di atas sana," ia berbisik, mengulang janji bocahnya di atap rumah panggung. Suaranya tertahan, parau.
"Apa?" tanya Instruktur Bayu lewat interkom.
"Nggak, Pak." Tapi air mata sudah meluncur di pipinya, panas, dan ia tidak malu. Ia membiarkannya jatuh. Di ketinggian seribu kaki, anak nelayan dari Pantai Cemara menangis bahagia, dan tak ada yang bisa menertawakannya di sini.
Instruktur Bayu melihat itu. Ia sudah membawa ratusan cadet naik untuk pertama kali. Banyak yang takut, banyak yang girang, beberapa muntah. Tapi tangisan diam gadis ini berbeda. Ada syukur di dalamnya. Ada seluruh hidup yang berubah dalam satu tarikan yoke.
Ia membiarkannya sebentar. Lalu suaranya melembut. "Lihat ke kiri, Wulandari. Lima belas derajat belok. Pelan."
Sekar menekan pedal dan memiringkan yoke. Pesawat menyenggol horizon dengan sayapnya, berputar lembut. Di bawah, kota terbentang seperti peta hidup—jalan-jalan seperti urat, atap-atap seperti sisik ikan dilihat dari kapal.
"Kamu rasain itu?" tanya Instruktur Bayu. "Angkat. Bukan cuma di buku. Sekarang dia nahan kamu di sini. Dia janji yang ditepatin."
Sekar mengangguk, masih tak mampu bicara banyak. Pesawat menyusuri rute latih, naik ke seribu lima ratus kaki. Dunia begitu luas, begitu jernih, begitu—
Lalu rute membelok ke arah pesisir.
Dan di sana, di bawah sayap kanan, terbentang sesuatu yang membuat napas Sekar yang baru saja tenang kembali tersangkut: laut. Biru gelap, tak berujung, kilau matahari memantul di permukaannya seperti ribuan mata yang menatap balik.
Tangannya yang tadi ringan mendadak mencengkeram yoke.
"Wulandari?" Instruktur Bayu menyadari perubahan itu seketika—dari getaran kemudi yang tiba-tiba kaku. "Pegangan kamu kenceng. Kenapa?"
"Nggak apa-apa, Pak," kata Sekar cepat. Terlalu cepat.
Di bawah sana, laut yang sama yang dulu menelannya selama beberapa detik gelap, beberapa detik di mana ia tak tahu mana atas mana bawah, beberapa detik di mana ia mengira sudah mati—laut itu kini menunggu di bawah sayapnya.
Mimpinya dan ketakutannya bertemu di langit yang sama.