Penerbangan ketujuh Sekar dimulai biasa saja—brifing, pengecekan, lepas landas mulus melawan angin barat. Ia mulai terbiasa. Tangannya makin ringan di yoke, matanya makin sigap memindai instrumen. Instruktur Bayu mulai lebih banyak diam, membiarkannya merasakan pesawat sendiri.
Mereka berada di ketinggian tiga ribu kaki di atas area latih ketika tanpa peringatan, deru mesin berubah.
Auman bulat yang biasa itu mendadak tersendat—batuk pendek, lalu putaran mesin merosot. Hidung pesawat seperti tersentak ke bawah. Indikator putaran mesin yang tadi stabil kini bergetar turun.
Jantung Sekar melompat ke tenggorokan. Untuk satu detik penuh, kepalanya kosong. Putih. Hanya suara mesin yang batuk-batuk dan perasaan jatuh di perutnya.
"Mesin!" pekiknya. "Pak, mesinnya—"
"Terbangkan pesawatnya dulu," potong Instruktur Bayu, suaranya datar, sama sekali tak panik. Justru ketenangan itu yang menampar Sekar kembali sadar. "Aviate. Navigate. Communicate. Urutannya jangan dibalik. Pertama, terbangkan. Jangan jatuh. Pertahankan kecepatan gliding."
Sekar menelan ketakutannya bulat-bulat. Ia teringat kalimat yang berulang kali ditulis Instruktur Bayu di papan: *panik tidak menyelesaikan apa pun.* Ia teringat suaranya sendiri di hadapan psikolog dulu—penerbang terbaik bukan yang tak punya takut, tapi yang tahu apa yang ditakutkan dan tetap berkepala dingin.
Tangannya bergerak. Ia menurunkan hidung pesawat sedikit, mempertahankan kecepatan luncur terbaik agar sayap tetap punya angkat. Pesawat berhenti menukik tak terkendali; ia mulai meluncur turun dengan stabil, seperti elang yang melayang tanpa kepak.
"Bagus," kata Instruktur Bayu. "Kamu nggak jatuh. Sekarang, navigate. Cari tempat mendarat. Mata ke luar, bukan ke panel."
Sekar memindai ke bawah. Jantungnya masih berdebar liar, tapi kepalanya mulai bekerja. Di kanan, ada hamparan ladang luas, datar, kuning kecokelatan. "Ladang itu, Pak. Jam dua. Datar, panjang, nggak ada pohon di tengahnya."
"Kenapa nggak yang di kiri?"
"Yang kiri ada saluran air motongnya. Bahaya buat roda."
Instruktur Bayu mengangguk, tipis namun puas. "Sekarang yang ketiga—periksa. Sebelum nyerah ke mesin, coba pulihin dia. Carb heat. Cek pompa bahan bakar. Cek campuran. Kadang mesin cuma keselek, bukan mati."
Tangan Sekar bergerak mengikuti daftar prosedur darurat yang sudah ribuan kali ia hafal. Carb heat ditarik. Pompa bahan bakar dinyalakan. Campuran diatur kaya.
Dan mesin... menggeram. Batuknya mereda. Putaran mesin merayap naik kembali—dua ribu, dua ribu lima ratus, kembali ke auman bulat yang sehat. Pesawat berhenti meluncur turun; angkat penuh kembali ke sayap.
Sekar mengembuskan napas yang ternyata sejak tadi ia tahan. Tangannya basah keringat dingin.
"Itu latihan," kata Instruktur Bayu, kembali ke kursinya dengan santai. Ternyata ia yang menarik tuas pengaturan tadi untuk mensimulasikan tersendatnya mesin. "Tapi yang kamu rasain di perut tadi—itu asli. Rasa jatuh itu asli. Dan tadi, selama satu detik pertama, kamu beku."
Sekar menunduk. "Iya, Pak. Maaf."
"Jangan minta maaf. Semua orang beku di detik pertama. Yang membedakan penerbang hidup dari yang nggak adalah seberapa cepat kamu keluar dari detik itu." Instruktur Bayu menatapnya. "Dan kamu keluar cepet. Begitu aku bilang terbangkan dulu, kamu langsung balik. Itu bagus, Wulandari. Itu yang nggak bisa diajarin dari buku."
Mereka kembali ke pangkalan dalam diam. Tapi Sekar tahu sesuatu telah berubah di dalam dirinya. Ketakutan tidak hilang. Ketakutan tidak akan pernah hilang. Tapi kini ia tahu—ia bisa berdiri di atas ketakutan itu, bukan tenggelam di bawahnya.
Setidaknya, di udara dengan tanah di bawah.
Yang belum ia tahu apakah ia bisa melakukannya saat di bawah sana yang ada bukan ladang, melainkan air.