Begitu pesawat berhenti di apron dan baling-baling berhenti berputar, Sekar melihat mereka semua sudah menunggu. Dian melompat-lompat. Aulia bertepuk tangan. Galang bersiul. Nadira mengangkat ember.
Sekar tahu apa artinya ember itu. Tradisi akademi: siapa pun yang baru menyelesaikan solo flight pertama akan disiram air ramai-ramai. Biasanya, membayangkan air disiramkan ke tubuhnya membuat tengkuk Sekar dingin. Tapi hari ini, baru saja turun dari langit yang ia taklukkan sendirian, ia membuka kanopi sambil tersenyum lebar.
"Sekar! Sekar! Sekar!" teman-temannya meneriakkan namanya.
Ia melangkah turun, dan byur—seember air mengguyur kepalanya. Lalu ember kedua. Lalu Galang menyemprotkan selang. Sekar tertawa, tertawa keras sampai perutnya sakit, air menetes dari rambut dan setelan terbangnya. Untuk seseorang yang takut air, dibasahi ramai-ramai oleh teman-teman yang menyayanginya terasa seperti penyembuhan kecil.
"Mulus banget tadi!" seru Dian, ikut basah karena memeluk Sekar. "Aku liat dari menara. Touchdown-nya halus banget!"
"Anak pantai emang lain," kata Aulia.
Bahkan dari kejauhan, Sekar melihat Rangga berdiri di tepi apron, tangan terlipat. Ia tidak ikut bertepuk tangan. Tapi ia juga tidak menyeringai mengejek seperti biasa. Ia hanya menatap, lama, lalu berbalik pergi. Sekar tidak peduli. Hari ini terlalu indah untuk dirusak Rangga.
Kapten Wibisana mendekat, menyerahkan sehelai handuk. "Patch solo akan dijahit ke seragammu minggu depan," katanya. "Kamu sah, Sekar. Kamu penerbang sekarang. Belum lengkap, tapi sudah penerbang."
Sekar menerima handuk itu dengan tangan gemetar. Penerbang. Kata yang dulu hanya ada di buku lecek dan di mimpi di atas atap.
"Terima kasih, Kapten," katanya, suaranya pecah.
Malam itu mereka merayakannya kecil-kecilan di kantin asrama. Aulia menyelundupkan kue, Galang membeli minuman dingin. Dian menempelkan stiker pesawat kertas di gelas Sekar. Untuk pertama kali sejak masuk akademi, Sekar merasa benar-benar menjadi bagian dari sesuatu—bukan anak nelayan yang menumpang di dunia anak-anak kota, melainkan salah satu dari mereka, satu angkatan, satu langit.
"Aku mau telepon kampung," kata Sekar di tengah keramaian. "Ibu harus tahu hari ini."
Ia berlari ke wartel di luar gerbang akademi, menekan nomor ponsel tetangga warung Bu Lurah, satu-satunya saluran ke rumahnya. Berdering lama. Lalu tersambung.
"Bu Lurah? Ini Sekar. Tolong sampaikan ke Ibu—aku terbang sendiri hari ini, Bu Lurah. Sendiri! Aku jadi pilot beneran—"
Tapi suara di seberang tidak ikut gembira. Ada jeda. Lalu Bu Lurah berkata dengan nada berat yang langsung membekukan darah Sekar.
"Sekar, Nak... syukurlah kamu telepon. Ibumu dari kemarin mau ngabarin, tapi nggak tahu caranya."
"Ada apa, Bu Lurah?" Jantung Sekar berdebar, kali ini bukan karena bahagia.
"Bapakmu, Nak." Suara Bu Lurah pelan. "Bapakmu dibawa ke puskesmas kemarin malam. Kondisinya... nggak baik."
Gelas air dingin di tangan Sekar terasa beku. Suara perayaan dari kantin asrama terdengar jauh, seperti dari dunia lain. Air di rambutnya yang belum kering tiba-tiba terasa seperti air laut yang dulu menariknya ke bawah—gelap, dingin, dan tak tahu mana atas mana bawah.
"Bapak kenapa, Bu Lurah?" bisik Sekar.
"Dia maksa melaut, Nak. Mesin perahunya rusak, tapi dia tetap maksa. Pengin nyari uang buat ngirim ke kamu, katanya. Sampai jatuh sakit. Badannya drop."
Sekar menutup mulutnya dengan tangan. Di hari paling membanggakan dalam hidupnya, di hari ia akhirnya menaklukkan langit, Bapaknya terbaring sakit di kampung—karena memaksakan diri demi dirinya.
Air di rambutnya menetes ke lantai, satu per satu, seperti hitungan mundur.