Sekar tidak tidur malam itu. Ia duduk di tepi jendela asrama, telepon genggam pinjaman dari Dian di tangan, menunggu kabar berikutnya dari Bu Lurah. Patch solo yang dijanjikan, perayaan, semua kebahagiaan siang tadi terasa seperti milik orang lain.
Menjelang subuh, telepon bergetar. Suara Ibu, untuk pertama kalinya sejak Sekar masuk akademi, terdengar langsung—Ibu meminjam ponsel di puskesmas.
"Sekar..." Suara Ibu serak karena menangis. "Bapakmu dipindah ke rumah sakit di kota kecamatan. Paru-parunya, kata dokter. Komplikasi. Dia kecapekan, terlalu maksa di laut, terus kena dingin."
"Bapak sadar, Bu?" tanya Sekar, suaranya hampir tak keluar.
"Sadar. Tapi lemah. Dia... dia nggak mau kamu tahu. Dia bilang jangan ganggu sekolah kamu." Ibu terisak. "Tapi Ibu nggak kuat, Nak. Ibu sendirian di sini."
Sekar memejamkan mata. Bayangan Bapak melintas—tubuh kering kurusnya, tangannya yang kasar oleh garam dan tali, suaranya yang dulu berkata, "Hidup kita di laut. Bukan di langit." Bapak yang tak pernah merestui mimpinya, tapi diam-diam memaksa melaut dengan perahu rusak demi mengirim uang untuk anak yang memilih langit.
"Bu, aku pulang," kata Sekar.
"Jangan, Nak—"
"Aku pulang, Bu."
Ia menutup telepon. Tangannya gemetar.
Tapi pagi itu juga, jadwal akademi terpampang di papan pengumuman seperti dinding yang tak bisa ditembus: ujian teori navigasi besar tiga hari lagi, dan sesi evaluasi terbang penting di hari yang sama. Absen tanpa izin resmi berarti sanksi. Sekar tahu beasiswanya bergantung pada nilai dan kehadiran. Satu langkah salah, dan kursi yang ia perjuangkan dari ribuan pendaftar bisa lenyap.
Ia berdiri di depan papan itu lama sekali. Dian menemukannya di sana.
"Kamu harus pulang," kata Dian pelan, setelah Sekar menceritakan semuanya.
"Kalau aku pulang, aku lewatin evaluasi terbang. Beasiswaku bisa kena," kata Sekar. Suaranya datar, kelelahan. "Tapi kalau aku nggak pulang..." Ia tak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
"Kalau kamu nggak pulang, kamu nggak akan pernah maafin diri kamu sendiri," kata Dian. "Beasiswa bisa diperjuangin lagi. Bapak cuma satu."
Sekar pergi menemui Kapten Wibisana di kantornya, mengetuk pintu dengan jantung berdebar. Ia menjelaskan semuanya—Bapak yang sakit, ibunya yang sendirian, kampung yang jauh empat jam naik bus.
Kapten Wibisana mendengarkan tanpa memotong. Wajahnya keras seperti biasa, tapi matanya tidak.
"Kamu tahu konsekuensinya kalau kamu absen evaluasi?" tanyanya akhirnya.
"Tahu, Kapten."
"Kamu tahu ada cadet yang akan senang melihat kamu jatuh kalau kamu pergi sekarang?" Ia jelas menyinggung Rangga.
"Tahu, Kapten." Sekar menatap matanya. "Tapi waktu wawancara, Kapten tanya apa yang mau saya sampaikan ke anak nelayan yang menatap pesawat saya. Saya jawab: langit nggak nanya kamu anak siapa. Sekarang ada bapak nelayan yang sakit karena saya. Saya nggak bisa pura-pura nggak tahu."
Kapten Wibisana diam lama. Lalu ia membuka laci, mengeluarkan sehelai formulir, dan menuliskan sesuatu.
"Izin keluarga darurat. Tiga hari," katanya, menyerahkan kertas itu. "Evaluasi terbang kamu aku tunda, bukan aku hapus. Tapi kamu harus ngejar sendiri pas balik. Aku nggak bisa kasih keringanan nilai. Itu aturan akademi, bukan aku."
Sekar menerima kertas itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih, Kapten."
"Pergi sana." Kapten Wibisana berbalik ke jendela. "Dan Sekar—bawa pulang seragam itu. Biar bapakmu lihat anaknya udah jadi siapa sekarang."
Sekar mengangguk, menahan air mata, lalu berlari ke asrama untuk mengemas ransel—ransel yang sama yang dulu ia bawa naik bus untuk pertama kalinya: dua potong baju, buku penerbangan, dan kini, sehelai seragam cadet dengan patch solo yang belum sempat dijahit.