Keesokan harinya Sekar kembali ke rumah sakit pagi-pagi. Bapak sudah duduk bersandar bantal, lebih bertenaga dari kemarin. Warna mulai kembali ke wajahnya. Ibu sedang keluar mencari makanan, meninggalkan keduanya berdua di bangsal yang sepi.
Sekar duduk di kursi samping ranjang. Untuk beberapa lama, hanya ada suara mesin dan deru samar ombak dari kejauhan.
"Sekar," kata Bapak akhirnya. Suaranya masih serak tapi lebih jelas. "Bapak mau ngomong. Selagi Bapak masih punya tenaga buat ngomong."
"Bapak istirahat aja—"
"Nggak. Bapak udah terlalu lama diam." Bapak menatap langit-langit, seolah mengumpulkan keberanian yang lebih sulit daripada melawan badai. "Kamu inget waktu kamu kecil? Pas badai itu?"
Sekar mengangguk. Tentu ia ingat. Itu hari ia patah lengan, hari ia hampir tenggelam, hari yang menanam rasa takut air di dalam dirinya untuk selamanya.
"Bapak yang ajak kamu melaut hari itu," kata Bapak, dan suaranya bergetar. "Cuaca jelek, tapi Bapak butuh tangkapan. Bapak pikir masih sempat. Bapak salah." Ia menutup mata. "Pas perahu kebalik, pas kamu kelelep, Bapak... Bapak ngeliat kamu hilang di air gelap itu. Cuma sebentar. Tapi sebentar itu, Bapak ngerasa udah kehilangan kamu."
Tangan Sekar mendingin.
"Bapak narik kamu naik. Lengan kamu patah. Kamu nangis kesakitan, tapi Bapak malah bersyukur—karena kamu masih bisa nangis. Masih hidup." Bapak membuka mata, dan untuk pertama kalinya Sekar melihat air mata di sana, di mata lelaki yang tak pernah ia lihat menangis. "Sejak hari itu, Bapak nggak pernah bisa lepasin rasa takut kehilangan kamu lagi."
Sekar tak bisa berkata-kata. Bertahun-tahun ia mengira Bapak menentang mimpinya karena tak percaya, karena menganggap langit terlalu tinggi untuk anak nelayan.
"Waktu kamu tunjukin brosur pesawat itu," lanjut Bapak, "yang Bapak bayangin bukan kamu jadi pilot hebat. Yang Bapak bayangin... pesawat jatuh. Mesin mati di udara. Kamu sendirian di atas sana, lebih jauh dari yang bisa Bapak jangkau. Di laut, Bapak masih bisa berenang nyamperin kamu. Tapi di langit?" Suaranya pecah. "Di langit, Bapak nggak bisa narik kamu naik lagi."
Sekar memahami semuanya sekarang. "Hidup kita di laut, bukan di langit." Kalimat itu bukan penghinaan terhadap mimpinya. Itu doa seorang ayah yang takut tak bisa menyelamatkan anaknya untuk kedua kalinya.
"Pak," bisik Sekar, menggenggam tangan Bapak erat. "Di langit, mesin nggak mati gitu aja. Kami dilatih buat itu. Tiap hari, berulang-ulang. Kalau mesin mati, kami tahu harus ngapain. Sekar tahu harus ngapain." Ia menatap mata Bapak. "Dan Sekar inget badai itu tiap kali Sekar terbang. Bukan buat takut. Tapi buat inget: Sekar pernah di tempat paling gelap, dan Bapak narik Sekar naik. Sekarang Sekar yang narik diri Sekar sendiri ke atas. Karena Bapak udah ngajarin Sekar caranya nggak nyerah."
Bapak menatap anaknya lama sekali, dan butir-butir air mata mengalir di pipinya yang keriput.
"Kamu inget," kata Bapak pelan, "waktu kecil kamu suka manjat atap. Ibumu marah-marah takut kamu jatuh. Tapi Bapak diam aja. Tahu nggak kenapa?"
Sekar menggeleng.
"Karena dari atap itu kamu bisa lihat langit lebih jelas. Bapak udah tahu dari dulu, mata kamu nggak pernah di laut. Mata kamu selalu ke atas." Ia tersenyum lemah. "Bapak cuma takut. Takut itu beda sama nggak percaya, Sekar. Bapak selalu percaya kamu bisa. Bapak cuma takut langit ambil kamu sebelum Bapak siap ngelepas."
Kata-kata yang tak pernah terucap selama tiga tahun—rasa takut, rasa sayang, rasa bersalah—akhirnya tertumpah di antara mereka, di ruang rumah sakit sederhana berdinding kapur, ditemani deru ombak dan bau garam yang tak pernah hilang dari hidup mereka.