Ibu kembali ke bangsal membawa bungkusan nasi, dan mendapati dua orang yang paling dicintainya duduk dalam diam yang berbeda dari biasanya—diam yang lega, bukan diam yang berjarak. Mata keduanya merah. Ibu tidak bertanya. Ia hanya meletakkan bungkusan di meja dan duduk.
"Bu," kata Bapak. "Ambilin seragam itu."
Ibu mengerti. Ia mengeluarkan seragam cadet dari ransel Sekar yang dibawa ke rumah sakit dan menyerahkannya. Bapak meraihnya dengan tangan gemetar, meraba kainnya, menyentuh lambang sayap emas di dada dengan ujung jari yang kasar.
"Sayap," gumamnya. "Anak Bapak punya sayap." Ia mengangkat wajah, menatap Sekar. "Pakai. Bapak mau lihat."
Sekar berdiri, dan di pojok bangsal ia mengenakan seragam itu di atas kaosnya. Ia mengancingkannya, merapikan kerahnya, dan berdiri tegak di kaki ranjang Bapak—persis seperti ketika ia berdiri di hadapan dewan wawancara, hanya saja kali ini juri yang menilainya adalah satu-satunya orang yang restunya benar-benar ia inginkan.
Bapak memandanginya lama. Tubuh kurus anaknya, yang dulu ia gendong pulang dari laut dengan lengan patah, kini berdiri dengan seragam penerbang dan sayap emas di dada. Bibir Bapak bergetar.
"Bagus," bisiknya. "Bagus, Sekar."
"Pak," kata Sekar, suaranya nyaris tak terdengar. "Sekar mau minta satu hal. Dari dulu. Cuma satu."
Bapak mengangguk pelan, sudah tahu apa yang akan diminta.
"Sekar mau Bapak ridho. Bapak ikhlas Sekar terbang." Sekar berlutut di sisi ranjang, menundukkan kepala seperti dulu waktu kecil minta maaf. "Tanpa restu Bapak, langit setinggi apa pun terasa kosong."
Tangan kasar Bapak terangkat, meraih kepala Sekar, dan mengusapnya—gerakan yang sama yang dulu menenangkannya saat menangis kesakitan di perahu yang terbalik.
"Bapak ridho," kata Bapak, suaranya pecah namun mantap. "Bapak ikhlas. Terbang, Sekar. Terbang setinggi yang kamu mau. Bapak nggak akan narik kamu turun lagi." Ia tersenyum di sela air mata. "Tapi kamu harus janji satu hal sama Bapak."
"Apa pun, Pak."
"Kamu pulang sebagai pilot. Bukan sebagai anak yang nyerah karena Bapak sakit." Mata Bapak menajam, mengumpulkan sisa kekuatan seorang nelayan yang puluhan tahun melawan ombak. "Jangan tinggalin sekolah kamu gara-gara Bapak. Bapak nggak akan maafin diri Bapak kalau mimpimu mati di kamar rumah sakit ini. Balik ke akademi. Selesain. Itu restu Bapak yang sesungguhnya."
Sekar mengangkat wajah, air mata membanjiri pipinya. "Sekar janji, Pak. Sekar bakal balik. Sekar bakal jadi pilot. Dan suatu hari, Sekar bakal terbang lewat atas Pantai Cemara, dan Bapak bakal liat pesawat Sekar dari pantai."
"Bapak tunggu hari itu," kata Bapak.
Ibu, yang menyaksikan semuanya dari kursi, menangis dalam diam, kedua tangan menutup mulut. Tiga orang dalam satu ruang sempit, terikat oleh laut yang membesarkan mereka dan langit yang kini mereka relakan bersama.
Sore itu, sebelum Sekar harus mengejar bus terakhir kembali ke kota agar tak melewatkan lebih banyak pelajaran, Bapak memanggilnya sekali lagi.
"Sekar." Ia melepas sesuatu dari pergelangan tangannya—gelang dari tali jangkar tua, lusuh oleh garam dan waktu, yang selalu ia pakai sejak Sekar kecil. "Bawa ini ke atas sana. Biar laut nemenin kamu di langit."
Sekar menerima gelang tali itu dengan kedua tangan, mengikatnya di pergelangannya sendiri. Garam dari laut, dibawa ke langit.
Ia memeluk Bapak, lalu Ibu, lama, sebelum berlari mengejar bus dengan seragam cadet di ransel dan restu di dadanya.