Tiga hari kemudian, Sekar lulus ujian susulan dengan nilai yang membuat pelatih ground school menaikkan satu alisnya dan tidak berkata apa-apa—yang dari pelatih itu, sudah setara dengan pujian. Tapi Sekar tahu beasiswanya belum sepenuhnya aman. Absen dua minggu meninggalkan catatan merah di berkasnya, dan catatan merah di ADN tidak hilang begitu saja.
Pemanggilan datang lewat papan pengumuman: *Sekar Wulandari, hadap Kantor Instruktur Senior, pukul 14.00.*
Koridor menuju kantor itu panjang, berlantai marmer yang memantulkan langkah, dan dindingnya dipenuhi foto-foto lulusan ADN yang kini jadi kapten maskapai dan penerbang tempur. Sekar berjalan pelan, menelusuri wajah-wajah itu, lalu berhenti di depan sebuah pintu kayu gelap. Ia mengetuk.
"Masuk."
Suara itu. Sekar mengenalinya sebelum membuka pintu. Di balik meja, di bawah cahaya jendela yang menyorot empat garis emas di bahunya, duduk Sang Kapten—rambut cepak beruban, wajah keras yang sama yang mewawancarainya di hari ia memperebutkan satu kursi terakhir.
"Kapten Wibisana," sapa Sekar, berdiri tegak.
Kapten Wibisana tidak menyuruhnya duduk. Ia menatap Sekar lama, seperti orang yang menimbang ikan di pasar—mengukur, menilai, mencari cacat.
"Kau tahu kenapa kupanggil," katanya.
"Absen saya, Kapten."
"Dua minggu. Di tengah modul tersulit tahun ini." Ia menyandarkan punggung. "Setengah dari instruktur di sini ingin status beasiswamu dicabut. Mereka bilang kau tidak serius. Bahwa anak yang pergi saat dunia menuntutnya tinggal, tidak pantas memakai sayap akademi ini."
Sekar tidak menunduk. "Bapak saya sakit, Kapten. Ia sendirian di laut dengan mesin perahu yang rusak. Kalau saya tidak pulang, saya tidak akan punya hati untuk belajar apa pun di sini."
"Dan sekarang nilaimu yang tertinggi di ujian susulan." Kapten Wibisana mengangkat selembar kertas. "Naik dari posisi tengah ke peringkat lima dalam tiga hari. Bagaimana kau menjelaskan itu? Menyontek?"
Tudingan itu dingin dan sengaja. Sekar merasakan panas naik ke wajahnya, tapi ia menahannya, mengingat pesan Dian.
"Tidak, Kapten. Teman-teman saya membantu saya belajar. Empat orang, tiap malam, sampai dini hari. Saya mengejar ketinggalan dengan tangan mereka yang menarik saya naik." Ia menatap mata Kapten itu lurus. "Anak nelayan tidak pernah menarik jaring sendirian. Kami selalu narik rame-rame."
Sesuatu bergeser di wajah Kapten Wibisana. Bukan senyum—orang itu tampaknya tak punya senyum—tapi sesuatu yang lebih dalam, semacam pengakuan yang ditahan.
"Duduk," katanya akhirnya.
Sekar duduk.
"Aku pernah mencoret kandidat yang nilainya jauh lebih tinggi darimu di hari seleksi," kata Kapten Wibisana, suaranya melunak setipis pisau. "Anak yang pintar, kaya, hafal semua jawaban. Tapi saat kutanya apa rencana cadangannya kalau gagal, dia menyebut tiga. Tiga jalan keluar." Ia menatap keluar jendela. "Penerbang dengan tiga rencana cadangan, di detik kritis, akan ragu memilih yang mana. Sedangkan kau—di hari itu kau bilang kau tidak punya rencana cadangan sama sekali. Langit ini satu-satunya jalanmu."
Ia mengembalikan tatapannya pada Sekar.
"Pertanyaanku hari ini bukan apakah kau pintar. Itu sudah terbukti. Pertanyaanku: setelah dua minggu di sisi ayahmu yang sakit, setelah melihat betapa rapuhnya hidup yang kau tinggalkan—apakah api itu masih menyala? Atau kau pulang ke sini hanya karena malu kalau menyerah?"
Ruangan itu hening. Sekar memikirkan Bapak yang terbaring, memikirkan tangan Ibu yang gemetar, memikirkan suara mesin perahu yang sekarat. Lalu ia memikirkan langit pagi di atas Pantai Cemara, garis putih pesawat yang membelahnya, dan janji yang ia ucapkan di atap rumah panggung tiga tahun lalu.
"Apinya makin besar, Kapten," kata Sekar. "Karena sekarang saya tahu persis untuk siapa saya terbang."
Kapten Wibisana memandangnya lama. Lalu ia mengambil pena, mencoret sesuatu di berkas Sekar, dan menandatanganinya.
"Beasiswamu aman. Untuk semester ini." Ia mendorong berkas itu menjauh. "Tapi dengar baik-baik, Wulandari. Aku tidak menyelamatkanmu hari ini. Kau yang menyelamatkan dirimu sendiri saat kau pilih membawa teman-temanmu naik bersamamu, bukan menginjak mereka. Itulah yang membedakan seorang kapten dari seorang pilot." Ia menunjuk pintu. "Sekarang keluar. Minggu depan kau mulai terbang dalam cuaca buruk. Jangan permalukan aku."
Sekar berdiri, memberi hormat, dan keluar. Di koridor panjang itu, di antara foto-foto kapten yang menatap dari dinding, untuk pertama kalinya ia tidak merasa seperti orang asing. Ia merasa seperti seseorang yang sedang menunggu wajahnya digantung di sana suatu hari nanti.