Hujan turun deras sore itu, menahan seluruh angkatan di dalam asrama. Sekar sedang menuju kantin lewat jalur belakang ketika ia mendengar suara di balik tembok ruang telepon umum asrama—suara yang biasanya angkuh, kini bergetar.
"...sudah saya usahakan, Pa. Peringkat saya naik. Tapi Sekar Wulandari—"
Sekar berhenti. Ia tahu seharusnya pergi. Tapi namanya sendiri yang membuat kakinya membeku.
"Saya tahu, Pa. Saya tahu Papa nggak bayar mahal-mahal buat saya kalah sama anak nelayan." Suara Rangga retak. "Saya bukan kalah. Saya cuma—"
Lalu hening. Lalu suara gagang telepon dibanting.
Sekar bergerak hendak menyingkir, tapi terlambat. Rangga keluar dari bilik telepon dan langsung berhadapan dengannya. Mata pemuda itu merah, dan untuk sepersekian detik, sebelum topeng angkuhnya kembali terpasang, Sekar melihat sesuatu yang tak pernah ia duga ada di sana: ketakutan.
"Nguping?" Rangga menggeram, tapi suaranya kehilangan racunnya.
"Nggak sengaja," kata Sekar jujur. "Aku mau lewat."
Mereka berdiri berhadapan di koridor yang temaram, hujan menderu di luar. Sekar menunggu hinaan yang biasa—soal sandal jepit, soal bau ikan, soal anak kampung yang tak tahu diri. Tapi kali ini tidak ada. Rangga hanya menyandar ke tembok, kehabisan tenaga.
"Ayahmu?" tanya Sekar pelan.
Rangga tertawa pahit. "Mau tahu? Silakan ketawa." Ia memejamkan mata. "Ayahku petinggi maskapai nasional. Direktur operasional. Setengah dari pilot yang fotonya kau lihat di koridor itu, dia yang menempatkan mereka." Ia membuka mata, menatap langit-langit. "Sejak aku lahir, cuma ada satu jalan: aku jadi pilot, lebih hebat dari semua lulusan yang pernah dia rekrut. Kalau nggak, aku bukan anaknya. Sesederhana itu."
Sekar tidak berkata apa-apa. Ia teringat Bapak yang menolak mimpinya karena takut ia patah hati—dan menyadari betapa berbedanya dua jenis ayah ini. Bapaknya takut Sekar terluka. Ayah Rangga takut Rangga membuatnya malu.
"Kau pikir aku menghinamu di hari pertama karena aku sombong," lanjut Rangga, suaranya datar sekarang. "Bukan. Aku menghinamu karena aku takut. Aku lihat kau datang dengan sandal jepit dan buku lecek, dan aku tahu—aku tahu kau bakal terbang lebih jauh dariku, karena kau terbang buat dirimu sendiri. Aku cuma terbang buat nggak dibuang." Ia menelan ludah. "Anak yang terbang buat mimpinya selalu menang dari anak yang terbang buat menghindari hukuman."
Untuk pertama kalinya sejak hari di gedung serbaguna pemda itu, Sekar tidak melihat rival. Ia melihat seorang anak laki-laki yang sama terjebaknya seperti dirinya pernah merasa terjebak di antara laut dan langit—hanya saja Rangga terjebak di antara harapan ayahnya dan ketakutannya sendiri, tanpa seorang Ibu yang menyelipkan tabungan arisan untuk membuktikan dirinya.
"Buku lecek itu," kata Sekar akhirnya. "Aku dapat dari kotak sumbangan perpustakaan keliling. Halamannya hampir lepas. Tiap malam aku baca di bawah lampu teplok karena rumahku sering mati listrik." Ia menatap Rangga. "Kau punya buku edisi terbaru, instruktur les privat, dan ayah yang kenal semua kapten di negeri ini. Tapi kau iri sama anak yang punya buku rusak. Kau nggak sadar betapa anehnya itu?"
Rangga terdiam.
"Mimpi nggak bisa dibeli, Rangga," kata Sekar. "Dan ketakutan nggak bisa dijual. Itu satu-satunya hal yang ayahmu nggak bisa atur buat kamu."
Ia melewati Rangga menuju kantin. Di belakangnya, ia mendengar pemuda itu menarik napas panjang—napas seseorang yang baru pertama kali dalam hidupnya dibicarakan sebagai manusia, bukan sebagai investasi.
Malam itu, di kasur tingkatnya, Sekar tidak bisa tidur. Bukan karena rasa menang. Justru sebaliknya. Ia menyadari bahwa rivalnya selama ini bukan musuh, melainkan cermin yang retak—pantulan dari apa yang bisa terjadi pada siapa pun yang dipaksa terbang oleh tangan orang lain alih-alih oleh hatinya sendiri.
Ia teringat slogan ADN yang terpampang di gerbang: *Langit tidak menanyakan dari mana kamu datang.* Dan untuk pertama kalinya, ia memahami sisi lain dari kalimat itu. Langit juga tidak menanyakan siapa ayahmu. Tidak peduli seberapa besar kuasanya di bumi. Di atas sana, semua orang sama-sama kecil, sama-sama berani, atau sama-sama takut.