Awan itu menggantung gelap di ufuk barat seperti memar di langit, dan instruktur terbang Sekar—seorang penerbang veteran bernama Kapten Sudrajat, berkumis tebal dan bersuara seperti kerikil—justru menyeringai melihatnya.
"Hari yang sempurna," katanya, mengencangkan sabuk di kursi kanan pesawat latih bermesin tunggal. "Kalian pikir kapten maskapai cuma terbang waktu langit biru? Penumpang nggak peduli cuaca. Mereka cuma mau sampai. Pilot yang nggak bisa terbang dalam badai cuma separuh pilot."
Sekar menarik napas panjang dan menjalankan checklist sebelum lepas landas. Tangannya stabil, tapi di dalam dada, jantungnya berdebar dengan irama lama yang ia kenali betul—irama yang sama saat air laut menelannya tiga tahun lalu.
Mereka lepas landas menembus angin yang sudah mulai liar. Begitu roda lepas dari landasan, pesawat langsung terhempas. Sayap kanan terangkat tanpa diminta, hidung pesawat berayun, dan tetes hujan pertama menghantam kaca depan seperti kerikil.
"Pertahankan heading!" teriak Kapten Sudrajat di atas raungan mesin. "Jangan lawan anginnya, baca anginnya!"
Pesawat masuk ke perut awan, dan dunia di luar lenyap. Tidak ada lagi cakrawala, tidak ada lagi atas atau bawah—hanya kelabu pekat dari segala arah. Dan saat itulah trauma lama itu menyerang Sekar seperti ombak.
*Gelap. Tak tahu atas atau bawah. Mengira mati.*
Itu kalimat yang ia ucapkan kepada psikolog bertahun lalu, menggambarkan detik-detik ia tenggelam. Dan sekarang, di dalam awan ini, sensasi itu kembali persis sama: terkurung dalam kelabu tanpa pegangan, inderanya berteriak bahwa ia jatuh, bahwa ia terbalik, bahwa ia akan mati.
Tangannya mengencang di kontrol. Lengan kirinya, yang dingin oleh udara ketinggian, mulai berdenyut ngilu di bekas patahan lama. Napasnya memburu.
"WULANDARI!" Suara Kapten Sudrajat memotong kepanikannya. "Apa yang kau lihat?"
"Saya—saya nggak bisa lihat apa-apa, Kapten—"
"Persis! Makanya berhenti melihat ke luar!" Tangan kasar instruktur itu menunjuk panel instrumen. "Mata kau bohong. Telinga kau bohong. Perutmu bohong. Cuma ini yang jujur. Attitude indicator. Itu cakrawalamu sekarang. Itu atas dan bawahmu. Percaya pada jarum, bukan pada rasa takutmu!"
Sekar memaksa matanya turun ke panel. Di sana, di tengah getaran hebat, garis kecil attitude indicator menunjukkan sayap yang sebenarnya hampir rata—padahal seluruh tubuhnya bersumpah ia sedang berputar jatuh. Inderanya berteriak satu hal; instrumen mengatakan hal lain.
Dan di tengah teror itu, sebuah ingatan datang—bukan ingatan tenggelam, melainkan ingatan setelahnya. Tangan Bapak yang menariknya keluar dari air. Suara Bapak yang berkata, *jangan lihat ke ombak, lihat ke Bapak.* Saat itu, di laut yang gelap, satu titik yang bisa dipercaya sudah cukup untuk hidup.
Instrumen ini adalah Bapaknya sekarang. Satu titik jujur di tengah kebohongan.
Sekar mengatur napasnya, lambat, seperti saat ia menyelam mencari kerang dan harus menghemat udara di paru-parunya yang luar biasa itu. Ia menggerakkan kontrol dengan halus, mengikuti jarum, bukan perutnya. Perlahan, getaran panik di tangannya mereda. Sayap kembali rata di layar—dan tubuhnya mulai memercayai apa yang dilihat matanya alih-alih apa yang diteriakkan ketakutannya.
"Pertahankan!" seru Sudrajat. "Sekarang, belok kiri ke heading dua-tujuh-nol. Halus. Jangan menyentak."
Sekar membelokkan pesawat. Turbulensi mengguncang mereka, hujan menghantam kaca, tapi jarum-jarum di panel tetap patuh pada tangannya. Lima menit, sepuluh menit, lalu tiba-tiba pesawat menembus keluar dari sisi lain awan, dan langit biru cerah membentang di hadapan mereka seolah badai itu hanya mimpi buruk yang ditinggalkan.
Kapten Sudrajat mengusap kumisnya, menatap Sekar lama.
"Tadi kau hampir kehilangan dirimu di dalam awan itu," katanya. "Aku lihat. Bukan tanganmu yang gemetar—matamu. Ada sesuatu di air, di kelabu itu, yang membuatmu lebih takut daripada cadet biasa." Ia tidak bertanya lebih jauh. "Tapi kau menemukan pegangan. Kau berhenti percaya pada rasa takutmu dan mulai percaya pada yang nyata. Itu, Wulandari, adalah pelajaran paling penting yang akan kuajarkan padamu. Bukan cara terbang. Cara berhenti tenggelam dalam ketakutanmu sendiri."
Sekar menatap landasan yang mulai tampak di kejauhan, dadanya masih berdebar tapi kepalanya jernih. Lengannya masih ngilu. Hatinya masih ingat air. Tapi untuk pertama kalinya, badai tidak menang.
Saat roda menyentuh landasan basah dengan mulus, Sekar menyadari sesuatu. Fobianya belum hilang. Mungkin tak akan pernah benar-benar hilang. Tapi ia baru saja menemukan caranya: bukan dengan tidak takut, melainkan dengan tahu persis apa yang harus ia percaya ketika ketakutan datang.